Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Kebun Sayur di Atas Taksi, Marak di Bangkok

Sabtu, 18 September 2021 | 22:35 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Kebun sayur terlihat di atap kendaraan satu perusahaan bengkel persewaan taksi, yang mobilnya saat ini tidak dapat digunakan karena penurunan bisnis akibat pandemi virus corona Covid-19, di Bangkok, Thailand pada Rabu 15 September 2021.

Bangkok, Beritasatu.com- Kebun sayur baru marak bermunculan di tempat parkir Bangkok, Thailand. Bercak hijau subur dari daun bawang, kemangi, terong dan cabai. Kebun mini itu bukan pemandangan yang biasa, karena tumbuh di atap dan kap puluhan taksi.

Sekitar 200 kendaraan telah berhenti di tempat parkir besar Koperasi Taksi Ratchapruek di jalan Bang Waek selama hampir satu tahun. Taksi-taksi itu ditinggalkan oleh pengemudi yang tidak mampu lagi menyimpannya karena dampak pandemic Covid-19.

“Karyawan saya stres. Kami semua stres di kantor. Jadi kami punya ide untuk menanam sayuran seperti morning glory atau apa saja yang bisa dimakan dengan sambal terasi,” kata Thapakorn Asawalertkul, 54 tahun.

Perlahan, Thapakorn berjalan melewati deretan mobil kosong. Dari atas, mereka terlihat seperti lukisan warna-warni - bentuk tak bernyawa dalam warna oranye terang, merah muda dan putih.

Thapakorn adalah penasihat koperasi taksi Ratchapruek dan Baworn, yang memiliki armada sekitar 8.000 unit taksi.

Pebisnis membantu pengemudi taksi untuk mendapatkan pembiayaan. Yang terakhir biasanya membayar uang muka sekitar 3.000 baht (US$ 91 atau Rp 1,3 juta ) dan seterusnya untuk taksi senilai lebih dari 1 juta baht.

Namun, sejak pandemi melanda Thailand tahun lalu, para pengemudi taksi mengalami kesulitan ekonomi. Pendapatan mereka anjlok karena kekurangan penumpang, sementara utang justru bertambah.

Karena tidak mampu membayar hipotek, banyak yang memilih untuk meninggalkan mobil mereka di koperasi dan kembali ke kampung halaman mereka di provinsi.

“Mereka meninggalkan beban kepada kami karena uang mukanya tidak banyak,” kata Thapakorn.

Thapakorn terlihat lelah di balik topi jerami bertepi lebarnya. Stres membuat dia tidak bisa tidur. Dia mengatakan kepada CNA bahwa kedua koperasi taksi dibebani dengan utang yang melumpuhkan senilai 3 miliar baht dari lebih dari 2.900 kontrak yang tidak terpenuhi.

“Ini kritis dan bunganya mahal. Saya tidak melihat jalan keluar,” tambahnya.

Tak jauh dari situ, beberapa karyawan sedang merawat kebun mini. Salah satunya berdiri di bagasi taksi merah muda untuk menyirami sayuran hijau di atapnya.
Berkebun adalah hal baru bagi banyak dari mereka yang berasal dari tim penjualan, yang dulu bekerja di kantor di seberang jalan.

“Ada begitu banyak mobil di sini dan kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mereka. Jadi, kami memutuskan untuk menanam sayuran untuk dimakan. Apa pun yang tersisa akan dibagikan kepada anggota dan pengemudi kami,” kata Kanlaya Kongnimit, yang telah bekerja untuk Koperasi Taksi Ratchapruek selama 15 tahun

Ribuan taksi tanpa sopir tersebar di sekitar Bangkok. Menurut Thapakorn, koperasi berencana memperluas taman atap mobil mereka di Bang Waek ke bagian lain ibu kota.

Selain menanam sayuran, mereka juga bertani kodok di ban bekas yang ditumpuk di atas kap mesin. Bagian atas ditutupi dengan daun lontar. Dibutuhkan, sekitar tiga bulan sebelum katak bisa dimakan.

“Kami tidak bisa terus-menerus dalam situasi seperti ini dan itu bukan karena saya gagal mengelolanya. Penyakit itu datang begitu saja dan tidak ada yang saling menyalahkan. Saya tidak menyalahkan pemerintah atas manajemen yang buruk. Penyakit ini telah memengaruhi seluruh negeri. Tetap saja, mereka harus menawarkan bantuan kepada operator taksi,” kata Thapakorn.

Sejauh ini, Thailand telah mencatat lebih dari 1,4 juta kasus Covid-19, dengan lebih dari 15.000 kasus kematian.

Pemerintah telah menawarkan untuk membayar uang bantuan senilai 5.000 baht (Rp 2,14 juta) untuk setiap sopir taksi yang ingin mendaftar untuk dana jaminan sosial. Namun, menurut Thienrat Navamawat, juru bicara Kementerian Tenaga Kerja, pendaftaran hanya tersedia untuk pengemudi berusia 65 tahun ke bawah.

Untuk perusahaan taksi, Thapakorn mengatakan belum banyak bantuan dari pemerintah. “Kami memikul beban yang berat. Ini sangat kritis.”



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Bersihkan Tangan untuk Cegah Penyakit

#2
Losmen Bu Broto Tayang di Bioskop Pertengahan November

#3
Begini Cara Kerja Obat Covid Molnupiravir

#4
Ini Daftar 106 Pinjol Legal dari OJK

#5
Penyelam Temukan Pedang Tentara Perang Salib Berusia 900 Tahun di Laut Israel

#6
Masih Dibahas, Syarat Perjalanan Pesawat Domestik Belum Berubah

#7
Anies Merasa Aneh PDIP dan PSI DKI Interpelasi Formula E

#8
Gelombang Ketiga Covid-19 Diprediksi Desember, Satgas: Perlu Pengetatan Aktivitas

#9
Deklarator Anies: Keluarga Besar Saya di Sulawesi Iri dengan Warga Jakarta

#10
Dinilai Berhasil Pimpin Jakarta, Anies Baswedan Dideklarasikan Jadi Capres 2024

TERKINI


EKONOMI | 20 Oktober 2021

NASIONAL | 20 Oktober 2021

DUNIA | 20 Oktober 2021

BERITA GRAFIK | 20 Oktober 2021

BERITA GRAFIK | 20 Oktober 2021

KESEHATAN | 20 Oktober 2021

POLITIK | 20 Oktober 2021

BERITA GRAFIK | 20 Oktober 2021

OLAHRAGA | 20 Oktober 2021

NASIONAL | 20 Oktober 2021