Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Produsen Kapal Selam Prancis Tetap Akan Kirim Tagihan ke Australia

Kamis, 23 September 2021 | 18:19 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dengan awak kapal selam pada upacara peluncuran resmi kapal selam nuklir Prancis baru di Cherbourg, Prancis, pada 12 Juli 2019.

Paris, Beritasatu.com- Naval Group Prancis menyatakan pada Rabu (22/9/2021) tetap akan mengirim tagihan pesanan kapal selam ke pemerintah Australia dalam beberapa minggu mendatang.

Seperti dilaporkan AFP, Prancis akan mengirim "proposal yang terperinci dan diperhitungkan" ke Australia mengenai biaya yang diperkirakan akan dibayarkan Canberra karena membatalkan kontrak besar-besaran untuk membeli kapal selam Prancis.

Australia pada tahun 2016 setuju untuk membeli 12 kapal selam bertenaga diesel yang dibangun oleh Naval Group dalam kesepakatan yang dijuluki "kontrak abad ini" senilai A$50 miliar (Rp 518 triliun), kemudian direvaluasi menjadi 56 miliar euro (Rp 936 triliun).

Namun, pekan lalu, Australia membatalkan kesepakatan demi kapal selam bertenaga nuklir dari Amerika Serikat dan Inggris, dalam kesepakatan yang dinegosiasikan secara rahasia yang membuat marah Paris dan memicu pertikaian diplomatik.

Kepada surat kabar Prancis Le Figaro pada Rabu, Chief Executive Officer Naval Group, Pierre Eric Pommellet mengatakan tagihan akan dikirim ke Australia "dalam beberapa minggu".

"Australia mengakhiri kontrak demi kenyamanan, yang berarti kami tidak bersalah," katanya.

"Ini adalah kasus yang direncanakan dalam kontrak dan akan membutuhkan pembayaran biaya kami yang akan terjadi dan yang akan datang, terkait dengan demobilisasi infrastruktur dan TI serta pemindahan karyawan. Kami akan menuntut hak kami," tambahnya.

Australia sebelumnya mengeluh bahwa kesepakatan dengan Naval Group, yang sebagian dimiliki oleh negara Prancis, terlambat bertahun-tahun dan melebihi anggaran.

Kementerian pertahanan Prancis menyatakan Naval Group telah memulai pembicaraan tentang penyelesaian keuangan dengan Canberra terkait sengketa kapal selam ini.

Naval Group telah menyelesaikan 900 juta euro (Rp 15 triliun) dalam pekerjaan di kapal selam, kata kementerian. Tetapi perusahaan tidak mengalami kerugian karena pekerjaan itu ditutupi oleh pembayaran Australia yang sudah dilakukan.

Seraya menyebut pembatalan itu sebagai "pengkhianatan", kementerian pertahanan menyatakan pembicaraan sekarang akan menentukan ukuran "kompensasi dan kerusakan" yang harus dibayar oleh Australia.

"Keputusan ini diumumkan kepada kami tanpa pemberitahuan sebelumnya, dengan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Pommellet kepada Le Figaro.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

DUNIA | 25 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
LRT Jabodebek Tabrakan, Tidak Ada Korban Jiwa

#2
Tabrakan Bus Transjakarta, Polisi: 30 Orang Luka, 3 Meninggal Dunia

#3
Didorong Jadi Jubir Presiden Jokowi, Ini Respons Fahri Hamzah

#4
Jokowi: Turunkan Harga Tes PCR Jadi Rp 300.000

#5
Jokowi Lantik Fadjroel Rachman, Rosan Roeslani, dan 15 Duta Besar di Istana Negara

#6
MU Dibantai Liverpool, Ronaldo Luapkan Kekecewaan

#7
Update Tabrakan Transjakarta, 37 Luka dan 2 Orang Meninggal

#8
Kabar Taliban Penggal Pemain Voli Afghanistan Dibantah Keluarga

#9
Sri Mulyani Waspadai 4 Isu Global yang Berpotensi Ganggu Perekonomian

#10
Tabrakan Bus Transjakarta, 3 Tewas

TERKINI


OLAHRAGA | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021

EKONOMI | 26 Oktober 2021