Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Hasil Sementara Pemilu Jerman: Partai Merkel Kalah Tipis

Senin, 27 September 2021 | 04:34 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA
Ketua Partai Christian Democratic Union (CDU) Armin Laschet (kiri) dan Kanselir Jerman Angela Merkel di kantor pusat CDU, Berlin, 26 September 2021.

Beritasatu.com – Partai yang menaungi Kanselir Jerman Angela Merkel, Christian Democratic Union (CDU), secara mengejutkan tertinggal dalam proyeksi awal hasil pemilu yang digelar Minggu (26/9/2021).

Menurut hasil exit polls atau penghitungan suara berdasarkan wawancara dengan pemilih di tempat pemungutan suara, Partai Sosial Demokrat (SPD) unggul tipis dengan perolehan suara 25,7%, dibandingkan CDU 24,6%.

Jika hasil ini konsisten sampai akhir, itu akan menjadi persentase perolehan suara paling rendah dalam sejarah CDU.

Namun, marjin yang sangat kecil sekarang ini membuat pemenang pemilu belum dapat disimpulkan.

Merkel sudah dipastikan akan pensiun setelah 16 tahun memimpin Jerman, dan sedikitnya tiga kandidat bersaing untuk menggantikannya.

Tanpa keunggulan mutlak salah satu partai, pemilihan kanselir dan pembentukan pemerintah baru bisa butuh waktu berpekan-pekan karena masing-masing harus bernegosiasi untuk membentuk koalisi. Pada pemilu 2017, butuh lima bulan untuk membentuk koalisi pemerintah yang dipimpin Merkel.

Meskipun demikian, Ketua SPD Olaf Scholz menyampaikan optimisme bahwa dia akan menjadi kanselir baru.

"Para pemilih memutuskan bahwa Partai Sosial Demokrat telah unggul dan ini merupakan sukses besar," kata Scholz di markas partainya.

"Banyak warga negara yang telah memberi tanda silang di samping [gambar] SPD karena mereka ingin ada perubahan dalam pemerintahan, dan juga karena mereka ingin kanselir berikutnya harus bernama Olaf Scholz," ujarnya.

Scholz, 63, adalah wakil kanselir sekaligus menteri keuangan sejak 2018.

Pada pemilu terakhir 2017, perolehan suara SPD hanya sekitar 20%.

Kejutan lainnya, Partai Hijau mendapat 14,4% suara, hasil terbaiknya sejauh ini. Partai ini mencalonkan ketuanya, Annalena Baerbock, sebagai kandidat kanselir.

Suasana muram menyelimuti kubu CDU dan ketuanya, Armin Laschet.

Dua hari menjelang pemungutan suara, Merkel mengungkapkan dukungannya pada Laschet untuk menjadi penerus jabatan kanselir. Namun, pengumuman itu relatif terlambat karena banyak pemilih sudah mengirim suara via pos.

Laschet mengatakan hasil sementara pemungutan suara sama sekali di luar perkiraan kubunya.

"Kami jelas tidak senang dengan hasil ini,” ujarnya.

Partai Sosial Demokrat (SPD) Olaf Scholz (kiri) dan Ketua Partai Christian Democratic Union (CDU) candidate Armin Laschet. (AFP)

Kemudian, partai liberal pendukung pasar bebas, Free Democratic Party (FDP), mendapat 11,7% suara, sehingga berpotensi menjadi kingmaker yang menentukan pemilihan kanselir.

Ketua FDP Christian Linder mengatakan ia siap berunding dengan partai-partai besar untuk membentuk koalisi pemerintah baru yang akan menguasai mayoritas kursi di parlemen.

"Kami akan membangun koalisi dari jantung demokrasi dalam politik. Kami tidak akan butuh kelompok dari pinggiran, dan itu kabar baik," kata Linder.

Maksud dia, hasil pemilu sementara mengindikasikan partai-partai besar tidak butuh dukungan dari partai kecil yang beraliran ekstrem dan kontroversial, seperti partai ultra kanan AfD dan partai radikal kiri Die Linke.

Pemenang Belum Tentu Menang
Keunikan pemilu Jerman adalah peraih suara terbanyak belum tentu bisa menunjuk kanselir dan membentuk pemerintahan kalau tidak mencapai mayoritas sederhana.

Pada 1969, Partai CDU yang dipimpin Kanselir Kurt Georg Kiesinger nyaris mendapat 50% suara. Kiesinger hampir dipastikan menjabat lagi dan bahkan sudah mendapat ucapan selamat dari Presiden Amerika Serikat Richard Nixon.

Namun, partai-partai lain berkoalisi untuk menguasai 50% plus kursi parlemen dan membentuk pemerintahan dengan kanselir Willy Brandt dari SDP.

Pada 1976, partai CDU yang dipimpin Helmut Kohl juga mendapat suara terbanyak, tetapi tidak bisa membentuk pemerintahan karena dikalahkan koalisi SPD dan FDP.

Baru pada 1982 Kohl akhirnya terpilih sebagai kanselir.

Dengan latar belakang ini, pembentukan koalisi menjadi isu utama dalam sistem politik di Jerman.

Kasus serupa bisa terulang: meskipun nantinya Scholz dan SDP menang, koalisi CDU, Partai Hijau dan FDP bisa membentuk pemerintahan tanpa dirinya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BBC, CNN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 22 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Petisi Kembalikan Aipda Ambarita ke Raimas Backbone Jakarta Timur Menggema di Medsos

#2
Tak Menyangka Tumbangkan Minions, Fikri/Bagas: Di Latihan pun Kami Belum Pernah Menang

#3
Denmark Terbuka 2021, The Minions Tumbang di Tangan Pemain Muda Pelatnas

#4
Aipda Ambarita, dari Bekerja di Perusahaan Cat hingga Jadi Polisi yang Ditakuti Penjahat Jalanan

#5
Denmark Terbuka: 6 Wakil Indonesia Siap Berjuang di Perempat Final, Jojo Hadapi Momota

#6
Kemenhub: Potensi Angkutan Sungai dan Danau Masih Sangat Terbuka

#7
FSP Hadirkan Software Auto Trading Kripto

#8
Kasus Sanksi Antidoping, Tim Investigasi Libatkan Polri dan Kejaksaan

#9
Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo, Kejagung Tetapkan 3 Tersangka

#10
Denmark Terbuka 2021: Tommy Sugiarto Melenggang ke Perempat Final

TERKINI


NASIONAL | 22 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 22 Oktober 2021

NASIONAL | 22 Oktober 2021

POLITIK | 22 Oktober 2021

DIGITAL | 22 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 22 Oktober 2021

OLAHRAGA | 22 Oktober 2021

NASIONAL | 22 Oktober 2021

POLITIK | 22 Oktober 2021