Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Korsel Laporkan 5 Kasus Pertama Omicron

Kamis, 2 Desember 2021 | 07:59 WIB
Oleh : Surya Lesmana / LES
Anggota medis memandu pengemudi yang diduga memiliki gejala virus corona Covid-19, di fasilitas tes virus lintas kendara di Goyang, utara Seoul, pada 29 Februari 2020.

Seoul, Beritasatu.com - Korea Selatan (Korsel) melaporkan lima kasus pertama varian Omicron pada Rabu (1/12/2021), kata para pejabat, ketika kasus Covid-19 harian mencetak rekor naik di atas 5.000 untuk pertama kalinya. Pasangan yang divaksinasi lengkap dinyatakan positif varian tersebut setelah tiba minggu lalu dari Nigeria, diikuti oleh dua anggota keluarga dan seorang teman, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).

Kemarin, kasus harian Covid-19 Korea Selatan mencapai 5.123. Lonjakan dimulai pada awal November setelah negara itu melonggarkan pembatasan.

Advertisement

Varian baru ini mendorong pemerintah untuk menghentikan rencana pada hari Senin untuk pelonggaran pembatasan lebih lanjut.

Korea Selatan juga mengatakan pada hari Rabu bahwa konferensi penjaga perdamaian PBB yang diharapkan menarik lebih dari 700 orang ke Seoul minggu depan sekarang akan diadakan secara online.

Negara ini telah sepenuhnya menginokulasi hampir 92 persen orang dewasa dan sekarang fokus pada vaksinasi anak-anak dan program booster, tetapi para ahli memperingatkan bahwa kasus akan terus meningkat sampai orang yang tidak divaksinasi memperoleh kekebalan melalui infeksi.

"Pihak berwenang dapat menurunkan jumlah kasus dengan menerapkan kembali beberapa langkah jarak sosial," kata Jung Jae-hun, seorang profesor kedokteran pencegahan di Universitas Gachon.

Korea Selatan mengatakan, rumah sakit merawat 723 pasien dengan Covod-19 yang parah, sebuah angka rekor.

Hampir 90 persen tempat tidur unit perawatan intensif di wilayah Seoul yang lebih besar ditempati, dengan 842 pasien menunggu untuk masuk.

Asosiasi Medis Korea mendesak pemerintah untuk mendirikan fasilitas perawatan dan mengizinkan perawatan antibodi untuk pasien berisiko tinggi sebelum mereka mengembangkan gejala parah.

Lebih dari 84 persen pasien yang sakit parah berusia 60 tahun ke atas. Para ahli telah menunjukkan berkurangnya tingkat antibodi dari vaksin dan mendesak orang tua untuk mendapatkan booster.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: CNA/Reuters


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA


DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
Kemenkes: 2 Pasien Kasus Omicron di Indonesia Meninggal

#2
Polda Metro Bantah Keluarkan Pelat Nomor Polri untuk Arteria Dahlan

#3
Kapolda Sumut: Kapolrestabes Medan Tak Terbukti Terima Suap

#4
Mobil Arteria Dahlan Pakai Pelat Nomor Dinas Polisi, Begini Tanggapan Kompolnas

#5
Mayjen Maruli Simanjuntak, Pangkostrad Termuda dan "Bapak Air"

#6
Ini Susunan Pemain Manchester United vs West Ham

#7
Update Covid-19: Kasus Positif Harian Tembus 3.000 Kasus

#8
CDC: Vaksin Penguat Pfizer dan Moderna Efektif 90 Persen Lawan Omicron

#9
Kasus Covid-19 Naik, Kabupaten Tangerang Siapkan Tempat Isolasi

#10
Sinergisitas Komunikasi Guru dan Orangtua Hindari Learning Loss

TERKINI


POLITIK | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

EKONOMI | 23 Januari 2022

EKONOMI | 23 Januari 2022

EKONOMI | 23 Januari 2022

MEGAPOLITAN | 23 Januari 2022

DUNIA | 23 Januari 2022

EKONOMI | 23 Januari 2022

KESEHATAN | 23 Januari 2022

BOLA | 23 Januari 2022