Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Museum Nasional Afghanistan Dibuka Kembali

Selasa, 7 Desember 2021 | 13:30 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Foto dokumentasi pada 14 Maret 2017, pakar restorasi Italia Ermano Carbonara (kanan) dan kepala Delegasi Arkeologi Prancis untuk Afghanistan (DAFA), Julio Bendezu-Sarmiento (kiri), membuka selubung patung Buddha di kantor DAFA di Kabul, Afghanistan.

Kabul, Beritasatu.com- Museum Nasional Afghanistan dibuka sekali lagi. Sementara Taliban, yang anggotanya pernah menerobos tempat itu, sekarang tampaknya menjadi salah satu pengunjung yang paling antusias.

Seperti dilaporkan AP, Senin (6/12/2021), museum di Kabul barat daya menampung artefak dari periode Paleolitik hingga abad ke-20. Museum dibuka kembali lebih dari seminggu yang lalu untuk pertama kalinya sejak Taliban mengambil alih Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu.

Advertisement

Direktur Museum Afghanistan, Mohammad Fahim Rahimi, dan stafnya sejauh ini diizinkan untuk melanjutkan pekerjaan meskipun mereka, seperti banyak pegawai negeri Afghanistan, belum menerima gaji sejak Agustus.

Hanya penjaga keamanan yang berubah, kata Rahimi, dengan Taliban sekarang menggantikan kontingen polisi yang dulu menjaga gedung dan menyediakan penjaga keamanan wanita untuk memeriksa pengunjung wanita. Saat ini, sekitar 50-100 orang mengunjungi museum setiap hari.

Pemadaman listrik sering terjadi dan generator museum telah rusak, membuat banyak ruang pameran menjadi gelap gulita. Pada Jumat, beberapa Taliban, sebagian dengan senapan serbu tergantung di bahu mereka, termasuk di antara pengunjung yang menggunakan lampu ponsel untuk mengintip ke dalam kotak pajangan keramik kuno dan senjata abad ke-18.

“Ini dari sejarah kuno kami, jadi kami datang untuk melihatnya,” kata milisi Taliban, Mansoor Zulfiqar, seorang pria berusia 29 tahun yang berasal dari provinsi Khost di Afghanistan tenggara yang kini telah ditunjuk sebagai penjaga keamanan di Kementerian Dalam Negeri.

“Saya sangat senang,” komentarnya tentang kunjungan pertamanya ke museum, mengagumi warisan nasional negaranya.

Zulfiqar mengaku telah menghabiskan 12 tahun di penjara Pul-e-Charkhi yang terkenal di Kabul, yang terbesar di Afghanistan. Saat berada di sana, seseorang telah memberitahunya tentang museum dan dia memimpikan suatu hari ketika Taliban akan memerintah Afghanistan lagi dan dia akan dapat mengunjungi museum itu.

Tetapi ketika Zulfiqar masih kecil pada tahun 2001, Taliban mengobrak-abrik museum, menghancurkan patung-patung yang tak ternilai harganya, terutama yang dianggap tidak Islami. Salah satunya, sisa-sisa patung batu kapur yang diyakini sebagai raja dari abad ke-2, berdiri di pintu masuk gedung museum, yang sekarang dipugar oleh para ahli dari Prancis dan departemen restorasi museum itu sendiri.

Pada tahun yang sama, Taliban mendinamit dua patung Buddha raksasa abad ke-6 yang diukir di tebing di Bamiyan di Afghanistan tengah atas perintah dari pemimpin Taliban Mullah Mohammed Omar, satu langkah yang disambut dengan kemarahan internasional.

Jadi ketika Taliban menyapu Afghanistan musim panas ini, mengambil provinsi demi provinsi, ada kekhawatiran besar bahwa nasib serupa menunggu warisan budaya negara itu, terutama apa pun dari zaman pra-Islam. Setidaknya sejauh ini, hal itu belum terjadi.

Saifullah, seorang anggota Taliban berusia 40 tahun dari provinsi Wardak dan guru di madrasah, satu sekolah agama Islam, mengatakan dia yakin penghancuran artefak tahun 2001 di museum telah dilakukan oleh anggota Taliban berpangkat rendah tanpa perintah dari pejabat petinggi.

Berkeliling museum untuk pertama kalinya, Saifullah, yang menggunakan satu nama, mengatakan dia akan mengajak murid-muridnya, beberapa di antaranya sekarang menjadi penjaga di museum itu sendiri, untuk mengunjungi Museum Nasional Afghanistan.

“Generasi dapat belajar dari ini, dan apa yang kita miliki pada masa lalu. Kami memiliki sejarah yang kaya,” katanya.

Mungkin penguasa baru Afghanistan sekarang setuju dengan prasasti yang terukir di satu plakat di luar pintu masuk gedung museum: "Satu bangsa tetap hidup ketika budayanya tetap hidup."



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

DUNIA | 16 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
Hindari Ancaman Tsunami, Raja Tonga Dievakuasi

#2
Kabar Baik! Jokowi Setujui Perpanjangan PPnBM Mobil

#3
Akibat Letusan Gunung di Tonga, Pantai Jepang Dihantam Tsunami

#4
Pelabuhan Kedindi Reo Dinilai Layak Jadi Pelabuhan Export Terbesar Kedua di NTT

#5
Setelah Omicron, Ilmuwan Prediksi Akan Ada Varian yang Lebih Mengkhawatirkan

#6
Mengenal NFT dan Cara Menjualnya di Opensea

#7
Kapolda Buka Balap Jalanan di Ancol

#8
Lansia Dapat Disuntik Vaksin Booster Tanpa Tiket Undangan dari PeduliLindungi

#9
KPU Usulkan Pemilu 21 Februari 2024

#10
Kepala Jordan Terkena Lemparan Suporter, Real Betis vs Sevilla Dihentikan

TERKINI


KESEHATAN | 17 Januari 2022

BOLA | 17 Januari 2022

NASIONAL | 17 Januari 2022

EKONOMI | 17 Januari 2022

NASIONAL | 16 Januari 2022

OLAHRAGA | 16 Januari 2022

OLAHRAGA | 16 Januari 2022

OLAHRAGA | 16 Januari 2022

NASIONAL | 16 Januari 2022

NASIONAL | 16 Januari 2022