Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Rusia Prediksi Kebangkitan ISIS dan Khilafah 2.0

Kamis, 30 Desember 2021 | 11:30 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Pejuang Pasukan Demokrat Suriah memeriksa senjata dan amunisi yang ditemukan di bekas markas ekstremis ISIS di Raqqa, Suriah, pada 7 Oktober 2017.

Moskwa, Beritasatu.com- Rusia memprediksi kebangkitan teroris kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan khilafah 2.0, serta risiko dari kelompok milisi di seluruh dunia belum hilang. Seperti dilaporkan RT, Rabu (29/12/2021), Moskwa menilai terorisme di wilayah yang tidak stabil di Timur Tengah dan Afghanistan masih tetap menjadi ancaman utama bagi keselamatan warga Rusia.

Berbicara kepada RIA Novosti pada Rabu (29/12), Wakil Menteri Luar Negeri Oleg Syromolotov mengatakan bahwa situasi untuk kontraterorisme tetap sangat tegang. aum radikal dapat memperoleh keuntungan di benua Afrika.

“Lingkungan tetap sulit di Suriah dan Irak, di mana faktor utama destabilisasi adalah penahanan zona de-eskalasi Idlib oleh kelompok-kelompok radikal dan kehadiran sel-sel ISIS dan Al-Qaeda,” ujarnya.

Syromolotov menambahkan bahwa di Afrika, terutama di zona Sahara-Sahel, Kementerian Luar Negeri Rusia pada dasarnya dapat mengamati prasyarat untuk kebangkitan kekhalifahan versi 2.0’ teroris di sana.

Syromolotov juga mengatakan bahwa Moskwa memantau dengan cermat situasi di Afghanistan. Di sana, ada ancaman teroris tingkat tinggi dari simpatisan ISIS dan Al-Qaeda yang telah menetap di sana setelah jatuhnya Kabul ke tangan Taliban musim panas ini. Dia berhati-hatimenyebutkan bahwa kejatuhaan Afghanistan menimbulkan risiko bagi Rusia dan negara-negara Asia Tengah.

ISIS, Al-Qaeda, dan Taliban ditetapkan sebagai organisasi teroris dan dilarang di Rusia. Ibu kota Afghanistan, Kabul, direbut oleh kelompok pemberontak pada 15 Agustus setelah merebut sebagian besar wilayah negara itu.

Setelah pengambilalihan tersebut, Moskwa memposisikan dirinya sebagai perantara perdamaian di Asia Tengah, menjadi tuan rumah delegasi perwakilan politik dari Taliban.

Menyusul penarikan tergesa-gesa pasukan Barat dari negara yang dilanda perang, Rusia meningkatkan kehadirannya di wilayah tersebut. Rusia juga mengadakan latihan bersama dengan bekas republik Soviet seperti Uzbekistan dan Tajikistan di sepanjang perbatasan bersama.

Pada Juli, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa Operasi Barkhane, kampanye militer yang dipimpin Prancis melawan pemberontak Islam di Mali, akan selesai pada awal 2022.

Pada September, Perdana Menteri Mali Choguel Kokalla Maiga mengatakan Paris telah "meninggalkan" Afrika. negara di tengah reaksi terhadap niat Bamako yang dilaporkan untuk mempekerjakan hingga 1.000 tentara bayaran dari Grup Wagner Rusia.

Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengungkapkan kepada RT bahwa diplomat top Uni Eropa, Josep Borrell, memperingatkannya untuk menjauh dari Afrika, menyebut benua itu dengan istilah “tempat kami.” Pejabat Rusia bersikeras bahwa penting bagi Moskwa dan Eropa untuk meningkatkan upaya membantu wilayah Sahel.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI