Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Taliban Pecat Hampir 3.000 Anggotanya karena Tindakan Kekerasan

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:15 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR
Kepala budaya provinsi Taliban Mullah Habibullah Mujahid (kanan) berdiri dengan anggota Taliban di sebelah bagian dinding bekas pangkalan militer AS dengan nama tentara AS di Ghazni, Afghanistan pada 15 November 2021.

Kabul, Beritasatu.com- Taliban di Afghanistan memecat hampir 3.000 anggota karena melakukan kekerasan dan praktik pelecehan. Seperti dilaporkan AFP, Sabtu (15/1/2022), pejabat Taliban mengatakan ribuan anggota itu dituduh melakukan praktik kekerasan dalam "proses pemeriksaan" luas yang diluncurkan sejak berkuasa.

Taliban mengambil kembali kendali atas Afghanistan pada Agustus 2021 setelah pemberontakan 20 tahun melawan bekas pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) dan pasukan asing NATO.

Menjanjikan aturan yang lebih lembut untuk rezim 1996-200, pemerintah Taliban meluncurkan komisi untuk mengidentifikasi anggota yang melanggar peraturan gerakan.

"Mereka memberi nama buruk bagi Imarah Islam. Mereka disingkirkan dalam proses pemeriksaan ini sehingga kami dapat membangun tentara dan kepolisian yang bersih pada masa depan," kata ketua panel Latifullah Hakimi di kementerian pertahanan kepada AFP.

Sejauh ini, kata Hakimi, sekitar 2.840 anggota Taliban telah diberhentikan.

"Mereka terlibat dalam korupsi, narkoba dan mengganggu kehidupan pribadi orang-orang. Beberapa anggota juga memiliki hubungan dengan Daesh," kata Hakimi, menggunakan akronim bahasa Arab untuk kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Milisi Taliban telah dituduh oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia atas pembunuhan di luar proses hukum terhadap mantan anggota pasukan keamanan, meskipun ada perintah dari pemimpin tertinggi gerakan itu Hibatullah Akhundzada tentang amnesti.

Cabang regional kelompok jihadis telah muncul sebagai tantangan keamanan utama bagi pemerintahan garis keras Islam, yang sering menargetkan pejabat dalam serangan senjata dan bom di Kabul dan kota-kota lain.

Hakimi mengatakan para anggota yang diskors berasal dari 14 provinsi dan proses untuk "menyaring" anggota tersebut akan berlanjut di provinsi lain.

Sejak merebut kekuasaan, otoritas Taliban telah membatasi kebebasan warga Afghanistan, terutama perempuan.

Pekerja sektor publik perempuan sebagian besar telah diblokir untuk kembali bekerja, sementara banyak sekolah menengah belum dibuka kembali untuk anak perempuan. Perjalanan jarak jauh bagi perempuan yang tidak didampingi kerabat dekat laki-laki juga dilarang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI