Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Seluruh Pulau Berguncang, Letusan Gunung Tonga seperti Bom Atom

Sabtu, 22 Januari 2022 | 07:58 WIB
Oleh : Grace El Dora / LES
Erupsi Gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada Sabtu 15 Januari 2022.

Sydney, Beritasatu.com - Letusan gunung berapi Tonga terasa seperti bom atom yang mengguncang seluruh pulau, kata seorang pekerja bantuan kemanusiaan kepada AFP pada Jumat (21/1/2022). Pemerintah negara Pasifik itu tengah bergegas untuk mengatasi kekurangan air minum.

Sudah hampir sepekan setelah erupsi gunung berapi Hunga Tonga Hunga Ha'apai. Ledakan itu menimbulkan tsunami dan memisahkan Tonga dari belahan dunia lainnya, menurut para saksi bencana tersebut.

"(Di Tongatapu, pulau utama Tonga) kami merasakan sangat besar ... itu seperti bom atom. Seluruh pulau berguncang karena suara letusan," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Palang Merah Tonga Sione Taumoefolau, Jumat.

Situasi saat ini masih sangat sulit. Pasokan bantuan yang masuk sangat terbatas dan warga harus menghadapi upaya pembersihan besar-besaran.

"Bagian terburuk bagi kami adalah abu (vulkanik). Di mana-mana kami tertutup abu dari gunung berapi itu," lanjut Taumoefolau.

Koordinator krisis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Jonathan Veitch mengatakan kepada AFP dari Fiji bahwa perhatian utama sekarang untuk Tonga adalah kebutuhan air minum. Persediaan air untuk puluhan ribu orang dikhawatirkan terkontaminasi oleh abu vulkanik atau air asin.

"Sebelum letusan, mayoritas warga Tonga mengandalkan air hujan. Jika semua pada dasarnya dibuat beracun oleh abu, maka mereka memiliki masalah. Kecuali mereka memiliki akses ke sumber air tanah," jelas Veitch.

Penentuan lokasi dan akses ke sumber air tanah saat ini sangat penting. Pengujian air telah dimulai, lanjutnya, tetapi setelah letusan Sabtu (15/1) seluruh negara telah tertutup abu vulkanik.

Upaya bantuan berlangsung dengan intens pada Kamis (20/1/2022) setelah landasan utama Tonga dibersihkan dari abu. Terbukanya landasan pacu bandara memungkinkan kedatangan penerbangan bantuan militer dari Australia dan Selandia Baru.

Tetapi jarak yang jauh, komunikasi yang lumpuh, dan upaya untuk menjauhkan Covid-19 dari kerajaan dengan 170 pulau itu telah menghambat pemulihan bencana.

Tonga hampir terputus dari dunia luar sejak ledakan vulkanik merusak kabel komunikasi bawah laut, yang mungkin tetap terputus selama beberapa minggu ke depan.

"Ini tidak mudah. Jauh dari mana-mana, seperti yang Anda tahu. Jadi ada kendala akses. Dan kemudian masalah Covid-19, jelas. Lalu komunikasi terputus. Jadi maksud saya ini hampir seperti pukulan tiga kali lipat," tutur Veitch.

Ketika pengiriman bantuan asing meningkat, Veitch mengatakan PBB sangat prihatin tentang risiko Covid-19 bisa melanda negara pulau itu.

Dia menunjuk wabah virus saat ini di seluruh wilayah Pasifik, termasuk di Kepulauan Solomon dan Kiribati. "Omicron keluar dengan sangat cepat," katanya.

Pemerintah Tonga saat ini sedang menyelidiki apakah ada cara yang aman untuk membawa pekerja bantuan ke negara itu.

"Jika ada protokol aman Covid-19 yang dapat disesuaikan untuk memungkinkan perjalanan yang aman ke Tonga dengan lebih cepat, kami akan mendorong pemerintah untuk melakukan itu," imbuhnya.

Pemerintah Tonga kini telah menyelesaikan penilaian penuh terhadap situasi pasca bencana. Termasuk penilaian terhadap pulau-pulau terluar yang sangat terdampak tsunami.

Tiga orang dipastikan tewas, sementara tingkat kerusakan belum dihitung. "Mereka tidak memiliki bukti bahwa ada lebih banyak korban, tetapi ada banyak kerusakan," ujar Veitch.

Orang-orang yang sebelumnya tinggal di pulau-pulau terluar Tonga telah dievakuasi ke Pulau Nomuka yang lebih besar.

Kapal HMNZS Aotearoa dari Selandia Baru berlabuh di Tonga pada Jumat, membawa pasokan air minum segar.

"(Kapal itu) juga memiliki kapasitas untuk menghilangkan kadar garam (dalam air). Sebanyak 70.000-75.000 liter air per hari, yang akan membuat perbedaan bagi penduduk, setidaknya di Tongatapu," jelas Veitch.

UNICEF telah mengirimkan sejumlah besar peralatan kebersihan air dan sanitasi di kapal bantuan dari Australia, HMAS Adelaide, yang berangkat dari Brisbane pada Kamis malam.

"Kami juga mengirimkan banyak peralatan pengolahan air," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: AFP


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI