Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

IMF Sebut Tekanan Properti Tiongkok Berisiko Meluas

Sabtu, 29 Januari 2022 | 07:47 WIB
Oleh : Grace Eldora Sinaga / WBP
Logo IMF.

Beijing, Beritasatu.com- Dana Moneter Internasional (IMF) pada Jumat (28/1/2022) memperingatkan krisis pendanaan yang menekan pengembang properti besar Tiongkok berisiko mengguncang ekonomi dan pasar global secara lebih luas. IMF mengatakan reformasi yang lebih dalam diperlukan untuk meminimalisir ancaman tersebut.

Laporan IMF dipublikasi ketika perusahaan properti di Tiongkok berjuang dengan masalah likuiditas. Pasalnya, pemerintah negara tersebut berupaya menekan utang berlebihan dan spekulasi konsumen di sektor ini.

Sejumlah perusahaan yang terlibat krisis yakni Evergrande, salah satu pengembang terbesar di Tiongkok. Perusahaan ini terlibat dalam negosiasi restrukturisasi, setelah mencatat utang US$ 300 miliar.

Beberapa pengembang lainnya di Tiongkok juga gagal membayar kupon obligasi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menambah tekanan pada ekonomi secara luas dan menjadi sentimen negatif bagi investor.

"Properti memainkan peran besar dalam ekonomi dan sistem keuangan Tiongkok. (Sektor ini) menyumbang sekitar seperempat dari total investasi tetap dan pinjaman bank, selama 5 tahun terakhir sebelum pandemi," kata IMF dalam sebuah laporan yang dirilis Jumat (28/1/2022).

"Jika ada perlambatan mendadak pertumbuhan Tiongkok, akan menciptakan spillover melalui perdagangan dan harga komoditas," tambahnya.

Lembaga tersebut menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2022 menjadi 4,8%, terpangkas 0,8 poin dari perkiraan sebelumnya.

Meskipun pemulihan Tiongkok dinilai maju, perekonomian tidak memiliki keseimbangan dan momentum telah melambat. Sebagian karena pemulihan konsumsi yang terhambat di tengah wabah virus yang berulang, kata IMF.

Tiongkok, tempat virus corona pertama kali muncul, tetap menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang menargetkan nol kasus Covid-19.

IMF mencatat bahwa pandemi kemungkinan akan terus menghambat pemulihan konsumsi Tiongkok hingga 2023. Namun untuk mencapai ini, perlu vaksin yang lebih manjur serta relaksasi strategi penguncian tanpa toleransi.

Awal pekan ini, seorang pejabat senior IMF menyerukan agar pemerintah Tiongkok mulai mengkalibrasi ulang kebijakan anti Covid-19 yang agresif. Tujuannya adalah mengurangi dampak negatif pandemi, yang terus berlanjut pada rantai pasokan global dan pertumbuhan ekonomi.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: AFP


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI