Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved

Dampak Virus Corona, Produksi Sepatu di Indonesia Turun 20%

Jumat, 6 Maret 2020 | 15:14 WIB
Oleh : Herman / FMB
"Sejumlah karyawan beraktifitas di dalam pabrik sepatu Bata, Purwakarta, Jawa Barat, 28 Mei 2015."

Jakarta, Beritasatu.com - Industri alas kaki atau sepatu ikut babak belur menyusul penyebaran virus corona di Tiongkok yang kini telah menyebar ke banyak negara, termasuk Indonesia. Momentum pengalihan order dari Tiongkok ke Indonesia justru tidak bisa dimanfaatkan industri sepatu dalam negeri lantaran persediaan bahan baku yang menipis. Bahkan kapasitas produksi kini sudah berkurang hingga 20 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri mengungkapkan, selama ini kebutuhan bahan baku industri sepatu sangat bergantung pada Tiongkok. Ketika distribusi bahan baku ini terhambat akibat kegiatan produksi di Tiongkok sempat terhenti, industri di dalam negeri ikut terkena dampaknya.

Advertisement

"Memang ada beberapa brand lokal yang sebelumnya impor langsung dari Tiongkok, belakangan ini minta produksi ke kita. Tetapi peluang ini tidak bisa diambil karena kita masih kekurangan bahan baku. Produksi kita bahkan sudah berkurang 20 persen," kata Firman Bakri, Jumat (6/3/2020).

Firman menyampaikan, produk sepatu yang diproduksi di Indonesia sebetulnya memiliki perbedaan segmen dengan Tiongkok. Di Indonesia sepatu yang diproduksi kebanyakan adalah order dari brand besar seperti Nike, Adidas, Reebok, dan brand global lainnya. Hanya sebagian kecil yang merupakan brand lokal. Sedangkan di Tiongkok, sepatu yang diproduksi adalah produk-produk massal dengan harga murah.

"Dari sisi segmen, kita berbeda dengan Tiongkok. Jadi hanya sedikit sekali pemindahan order dari Tiongkok ke Indonesia. Kalau pun ada ya dari brand lokal dan itu tidak bisa kita kerjakan," kata Firman.

Meskipun kegiatan produksi di Tiongkok sebagian sudah kembali berjalan mulai 17 Februari lalu, Firman mengatakan proses pengiriman bahan baku masih membutuhkan waktu. Sedangkan apabila melakukan substitusi atau mengambil bahan baku dari negara lain, hal ini juga membutuhkan proses yang tidak mudah. Harganya pun akan lebih mahal ketimbang mengambil bahan baku dari Tiongkok.

"Produksi kita itu kebanyakan bekerja berdasarkan order dari pemilik merek, baik dalam maupun luar negeri. Setelah mereka order, kita lalu buat sampel yang di dalamnya juga disertakan bahan baku, lalu disetujui untuk diproduksi. Kalau harus mengubah bahan baku, harus negosiasi kontrak lagi dan pastinya akan mengubah sampel," papar Firman.

Menghadapi situasi yang berat ini, Firman khawatir industri sepatu tidak bisa memenuhi permintaan yang tinggi saat menjelang Lebaran. Kalau pun nantinya bahan baku tersebut sudah tiba, ongkos produksinya akan lebih besar karena dipastikan akan lebih banyak pekerja yang lembur untuk mengejar produksi.

"Bahan baku ini sudah dalam tahap darurat. Kita harus recovery dari kerugian ini. Sebab pasti akan ada kekurangan cashflow karena harus bayar lebih untuk tenaga kerja dan terlambat masuk ke pasar. Ini pasti ada kerugian, sehingga harapannya akan ada semacam stimulus atau insentif dari pemerintahn untuk mengurangi beban industri, apakah itu keringanan bea masuk, keringanan pajak, sampai restrukturisasi hutang bank,” harap Firman.

Untuk merespon dampak buruk yang bisa timbul pada sektor ekonomi akibat wabah corona, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah saat ini juga tengah menyiapkan stimulus kedua, di mana yang akan difokuskan adalah mempermudah kegiatan ekspor dan impor.

Untuk hal-hal yang bersifat administratif terkait ekspor dan impor, prosesnya akan disederhanakan dan dimudahkan. Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan relaksasi dari perpajakan seperti PPh maupun bea masuk.



Sumber: BeritaSatu.com



REKOMENDASI



TRENDING NEWS


BERITA LAINNYA


EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

EKONOMI | 6 Maret 2020

BERITA TERPOPULER


#1
Indonesia Tanpa Gelar di Thailand Terbuka

#2
Tiongkok Pamer Kereta Api "Terbang" Berkecepatan 620 Km/Jam

#3
Pelaku UMKM Laporkan Gubernur Sumut ke Ombudsman RI

#4
Tigor Tanjung Pastikan Luhut Didukung Seluruh Pengprov PASI

#5
Per Hari Ini, 172.901 Tenaga Kesehatan Telah Divaksinasi

#6
Doni Monardo Menduga Terpapar Covid-19 Saat Makan Bersama

#7
Setahun Kemudian, Wuhan Hidup Normal Sementara Dunia Masih Bergelut dengan Covid-19

#8
Tambah 9.912, Kasus Sembuh Covid-19 Pecah Rekor Hari Ini

#9
Dirut Batik Air Meninggal Dunia

#10
Bertemu Uskup Agung Jakarta, Menag Diskusi Penguatan Moderasi Beragama

TERKINI


OLAHRAGA | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021

MEGAPOLITAN | 24 Januari 2021

MEGAPOLITAN | 24 Januari 2021

NASIONAL | 24 Januari 2021