Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Bursa Derivatif Diminta Optimalkan Sistem Perdagangan Digital

Senin, 4 Januari 2021 | 20:56 WIB
Oleh : Lona Olavia / FER
Komisaris Utama ICDX, Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA.

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengharapkan bursa derivatif bisa mengoptimalkan pengembangan sistem perdagangan digital guna meningkatkan perekonomian negara. Sebagai contoh, fenomena blockchain yang saat ini tengah populer dapat menjadi instrumen perdagangan yang baik apabila dikembangkan secara optimal.

"Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dapat turut membantu proses ini sebagai fasilitator,” katanya dalam Pembukaan Perdana Perdagangan Berjangka Komoditi 2021, Senin (4/1/2021).

Jerry mengungkapkan, saat ini Kementerian Perdagangan (Kemdag) tengah berupaya merambah dunia digital untuk mendigitalisasi perdagangan, baik untuk pasar tradisional, pasar modern, maupun kelembagaan. Pasalnya, digitalisasi merupakan salah satu faktor penting untuk memajukan perdagangan di kawasan maupun di tingkat global.

Sementara itu, Direktur Utama Indonesia Clearing House, Nursalam menuturkan, terbitnya kontrak derivatif melalui bursa komoditi dinilai mampu menjadi instrumen mitigasi risiko nilai tukar dalam perdagangan ekspor dan impor, dimana ekspor dan impor sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah. Kebutuhan akan instrumen derivatif valuta asing dolar AS terhadap rupiah misalnya, akan membantu pelaku ekspor dan impor dalam negeri dalam manajemen risiko, mengingat ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap dolar AS yang cukup besar.

“Hadirnya instrumen derivatif keuangan dari bursa derivatif ke dalam sistem keuangan negara akan memberikan kelengkapan infrastruktur dari pasar keuangan yang ada di dalam negeri, yakni sebagai sarana manajemen risiko pelaku pasar keuangan,” ujar Nursalam.

Nursalam mengatakan, pada tahun 2021, pengembangan kontrak multilateral untuk manajemen risiko berbagai sektor dapat dimaksimalkan dengan hadirnya beberapa komoditas strategis baru yang berkelanjutan. Selama ini, isu terkait lingkungan dan pemanasan global kurang menjadi sorotan. Sementara, dilihat dari nilainya, potensi perdagangan karbon mampu menyumbang lebih dari US$ 150 miliar untuk ekonomi Indonesia.

“Terciptanya perdagangan kontrak multilateral yang mampu mengembangkan pasar keuangan yang lebih inklusif, serta perdagangan komoditas yang berkelanjutan sebagai manajemen risiko berbasis pasar yang efisien di dalam bursa berjangka komoditi, dapat memodernisasi ekosistem perdagangan Indonesia secara komprehensif. Sebab, tantangan yang kita hadapi ke depan bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global,” kata Nursalam.



Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

EKONOMI | 4 Januari 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Tiongkok Akui Efektivitas Vaksin Sinovac Tergolong Rendah

#2
Hantam Leicester, West Ham Perbesar Peluang ke Liga Champions

#3
Menit Ke-79, Cavani Bawa MU Balik Memimpin

#4
Manfaat Susu untuk Tingkatkan Imunitas Selama Bulan Puasa

#5
Sejumlah Pekerja Informal di Tangerang Curi Start Mudik

#6
Resmi, Tol Japek II Berubah Nama Jadi Jalan Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed

#7
Pohon Tumbang, KRL Terhenti di Dekat TPU Tanah Kusir

#8
Pabrik dan Bank Ditutup, Ekonomi Myanmar Runtuh

#9
PM Inggris Tidak Akan Hadiri Pemakaman Pangeran Philip

#10
Akhir 2021, Output Vaksin Covid-19 Tiongkok Capai 3 Miliar Dosis

TERKINI


MEGAPOLITAN | 12 April 2021

EKONOMI | 12 April 2021

KESEHATAN | 12 April 2021

NASIONAL | 12 April 2021

MEGAPOLITAN | 12 April 2021

NASIONAL | 12 April 2021

NASIONAL | 12 April 2021

OLAHRAGA | 12 April 2021

DIGITAL | 12 April 2021

EKONOMI | 12 April 2021