Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Anti-Dumping Ciptakan Kestabilan Industri Baja Lapis Alumunium Seng

Rabu, 3 Maret 2021 | 19:21 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Industri baja lapis aluminium seng (Bjlas).

Jakarta, Beritasatu.com- Tiongkok kembali memperlihatkan gairah ekonomi pasca-meredanya Covid-19 dengan meningkatkan produktivitas industri baja. Hal ini perlu menjadi perhatian pelaku usaha baja lokal dan pemerintah Indonesia dalam menghadapi serbuan baja impor.

"Untuk menciptakan kesetaraan area bermain (equal level playing field) pada industri Bjlas, maka regulasi trade remedies berupa Anti-Dumping Bjlas (Baja Lapis Aluminium Seng) yang dikeluarkan KADI pada 12 Februari 2021, perlu segera disahkan," kata Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Bachrul Chairi dalam webinar bertajuk “Fair Trade Series: Peningkatan Daya Saing Industri BJLAS Dengan Menciptakan Arena Bermain yang Sejajar", Rabu (3/3/2021).

Indonesia Zinc Alumunium Steel Industries (Izasi) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat, sejak 2016, industri Bjlas dalam negeri terpuruk akibat serbuan impor yang menyebabkan utilisasi produksi hanya di kisaran 50%.

Bachrul mengatakan, kesetaraan area bermain memberikan kesempatan industri Bjlas dalam negeri sembuh, terlindung, dan dapat bersaing secara adil (fair trade). “Aturan trade remedies salah satunya adalah anti-dumping sebagai wujud konsistensi aturan yang berkiblat pada perlindungan industri dalam negeri dari serangan impor yang tidak sehat," kata Bahcrul.

Menurut dia, anti-dumping merupakan tindakan konkret untuk mengendalikan impor sekaligus memberikan kesempatan industri baja dalam negeri untuk merencanakan bisnis jangka panjang. "Dengan demikian dapat menambah investasi sehingga daya saing industri dalam negeri meningkat dan menarik investasi baru serta mendogkrak neraca perdagangan Indonesia,” terang Bachrul Chairi.

Pada periode Januari-April 2020 importasi produk besi dan baja mencapai 2 juta ton atau turun 14% dibandingkan periode yang sama 2019 (year on year/y-o-y). Penurunan berlangsung hingga Juni 2020 seiring melemahnya pasar baja Indonesia.

Namun setelah Covid-19 mereda, Tiongkok menunjukkan perbaikan ekonomi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat peningkatan impor Bjlas sejak Juli 2020 dengan level tertinggi di Desember 2020 sebesar 166% dibanding bulan sebelumnya.

“Penurunan impor ini diyakini berkontribusi kepada surplus neraca perdagangan Indonesia, tetapi surplus perlu dipertahankan ke depan dengan menjaga keseimbangan ibaja nasional untuk menarik investasi," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemperin) Taufiek Bawazier dalam kesempatan yang sama.

Taufiek mengatakan, dengan rata-rata peningkatan kebutuhan baja nasional 5% per tahun, pasar harus mampu memenuhi dengan prioritas industri dalam negeri. "Ini yang harus dipastikan,” kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

EKONOMI | 3 Maret 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Mount: Chelsea Siap Hadapi Siapa pun di Semifinal

#2
BRI Akan Pamit dari Aceh

#3
Di Tengah Kontroversi, Anggota DPR Jadi Relawan Vaksin Nusantara

#4
Emosi Rizieq Syihab Meluap Dengar Keterangan Bima Arya

#5
Kak Seto: Nama Saya Dicatut Untuk Kepentingan Persaingan Dagang

#6
Inflasi Tinggi, S&P 500 Cetak Rekor Meski Vaksin J&J Dihentikan Sementara

#7
KKB Tembak Tukang Ojek di Puncak, Papua

#8
5 Kiat Aman Berkendara Saat Menjalankan Puasa

#9
Ratusan Ribu Umat Hindu Berkumpul di Sungai Gangga, India Catat Rekor Kasus Covid-19

#10
Kapal MV Ever Given Disita, Pemilik pun Didenda

TERKINI


EKONOMI | 14 April 2021

DUNIA | 14 April 2021

DIGITAL | 14 April 2021

MEGAPOLITAN | 14 April 2021

MEGAPOLITAN | 14 April 2021

EKONOMI | 14 April 2021

MEGAPOLITAN | 14 April 2021

GAYA HIDUP | 14 April 2021

DUNIA | 14 April 2021

OLAHRAGA | 14 April 2021