Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Sri Mulyani Seimbangkan Pemulihan Ekonomi dan Sehatkan APBN

Selasa, 15 Juni 2021 | 16:06 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / WBP
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021. Rapat tersebut membahas pengambilan keputusan asumsi dasar dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022.

Jakarta, Beritasatu.com- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengakui bahwa pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 masih menghadapi tantangan ketidakpastian yang berasal dari gejolak global dan kondisi domestik. Pemerintah mencari keseimbangan yang pas antara memulihkan ekonomi dan mulai menyehatkan APBN.

Ia mengatakan gejolak yang terjadi di dunia disebabkan beberapa faktor yakni pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan. Hal ini ditandai dengan tingkat inflasi AS yang meningkat menjadi 5% pada bulan Mei. “Perekonomian global dan domestik mulai tunjukan tren pemulihan, tetapi masih dibayangi ketidakpastian, sehingga perlu langkah antisipasi,” ujarnya dalam Webinar BPK, Selasa (15/6/2021).

Tantangan kedua kata Menkeu, dari sisi pencapaian target penerimaan perpajakan. Hal ini seiring perbaikan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, sehingga diperlukan antisipasi dan mitigasi risiko. “Penerimaan perpajakan jadi tantangan, sebab situasi ini, kita dalam mencari keseimbangan yang pas antara memulihkan ekonomi dan harus mulai sehatkan APBN. Bahkan Pak Menko Perekonomian melakukan rapat maraton dari minggu hingga hari ini, kumpulkan gubernur dan kepala daerah, sudah ada anggaran PEN (pemulihan ekonomi nasional), daerah belum tentu dilaksanakan tepat waktu dan tepat kualitas dan kita harus jaga defisit APBN supaya ga naik,” tuturnya.

Oleh karena itu, Menkeu menegaskan bahwa berbagai tantangan dalam pelaksanaan APBN 2021, perlu dimitigasi sejak dini, untuk mengendalikan risiko dalam rangka mendukung konsolidasi fiskal di tahun 2023 yakni mengembalikan defisit anggaran kembali ke 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) sesuai amanat Undang Undang Nomor 2 Tahun 2020.

Dia mengatakan, APBN telah bekerja luar biasa keras sebagai instrumen fiskal untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Lonjakan defisit berimplikasi pada peningkatan utang di berbagai negara. Di sisi lain pemerintah akan terus mewaspadai ketidakpastian di pasar keuangan global yang menyebabkan kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun yang juga mempengaruhi yield surat berharga negara (SBN).

“Hari ini saya akan melihat beberapa risiko yang harus dihadapi fiskal size terutama sebab kenaikan defisit timbulkan kenaikan jumlah utang pemerintah, kenaikan ini harus diwaspadai terutama dikaitkan dengan tren kenaikan suku bunga di AS, meski kita lihat kenaikan yield 10 tahun AS mendekati 70% dalam 3 bulan terakhir. SBN kita kenaikan relatif modest sisi yield, ini tunjukkan resiliensi dan hasil yang baik,” tuturnya.

Sri Mulyani tak menampik bahwa kenaikan beban utang imbas melebarnya defisit anggaran akibat Covid-19 dapat mempengaruhi outlook APBN ke depan. Dengan demikian pemerintah akan mencari keseimbangan antara APBN dan upaya pemerintah untuk terus memulihkan ekonomi.

Di samping itu, pemerintah akan terus berkomitmen untuk penanganan Covid-19 dan mengakselerasi pemulihan ekonomi. Pertama, mendukung kebutuhan anggaran vaksinasi. Kedua melanjutkan program pemulihan ekonomi. Ketiga realokasi dan refocusing untuk mendukung program vaksinasi dan PEN. Terakhir pemerintah akan menjaga momentum untuk memulai reformasi.

“Ini harus dilakukan hati-hati, arah APBN kita ke depan harus dijaga dan bangun hal-hal yang siftanya membangun fundamental penting bagi perekonomian kita. Tahun 2021 dan 2022 arahnya reformasi dan pemulihan selalu ada dua hal yang sama. Tahun 2021 dan 2022 kita akan tetap fokus pembangunan sumber daya manusia, membangun infrastruktur, perbaikan birokrasi penyederhanaan birokrasi dan transform ekonomi,” tuturnnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

EKONOMI | 27 September 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Ditabrak Bus yang Melaju Kencang, Wanita Pengendara Motor Tewas di Bogor

#2
BPN: Pemilik Lahan Garap Hanya Boleh Menggarap, Tidak Mendirikan Bangunan

#3
PS Pati Kalah Lawan Persis di Liga 2, Ini Kata Atta Halilintar

#4
Ini Alasan Bupati Bogor Bersikukuh Bangun Jalur Puncak 2

#5
Yusril Ajukan Judicial Review AD/ART Demokrat, SBY: Hukum Bisa Dibeli, tetapi Tidak untuk Keadilan

#6
Hasil Sementara Pemilu Jerman: Partai Merkel Kalah Tipis

#7
Panglima TNI Tidak Mau Berpolemik Soal Pernyataan Gatot Nurmantyo

#8
PSI Berhentikan Viani Limiardi Sebagai Anggota DPRD DKI dan Kader Partai

#9
Luhut: Biar Semua Dibuktikan di Pengadilan

#10
Sistem Radarnya Dihancurkan AS, Bandara Kabul Kini Siap Beroperasi Kembali

TERKINI


OLAHRAGA | 28 September 2021

NASIONAL | 28 September 2021

OLAHRAGA | 28 September 2021

OLAHRAGA | 27 September 2021

MEGAPOLITAN | 27 September 2021

GAYA HIDUP | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

KESEHATAN | 27 September 2021

KESEHATAN | 27 September 2021

OLAHRAGA | 27 September 2021