Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Konsumen yang Bertanggung Jawab Akan Ikut Promosikan Keadilan

Minggu, 22 Agustus 2021 | 12:17 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Orasi Pengukuhan Prof Dr Chairy sebagai Guru Besar bidang Manajemen di President University.

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan produksi dan konsumsi secara sadar dan lebih bertanggung jawab, termasuk menerapkan konsep ekonomi sirkular. Pandemi juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengalihkan fokusnya dari ekonomi material ke ekonomi yang berbasis kekayaan intelektual dan teknologi. Di dunia, sejumlah negara yang mampu mengakumulasi kekayaan intelektual dan teknologi dapat lebih menjamin kesejahteraan rakyatnya dibandingkan negara-negara yang masih berorientasi pada ekonomi material.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Chairy dalam orasi pengukuhan guru besar bidang manajemen di President University, Sabtu (21/8/2021). Chairy adalah guru besar ke-2 yang dikukuhkan oleh President University. Sebelumnya pada 26 April 2019, President University mengukuhkan Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto, yang juga Rektor universitas tersebut, sebagai guru besar pertama.

Advertisement

“Saya merasa bangga, karena hari ini kami kembali mengukuhkan seorang guru besar yang dilakukan oleh President University. Semoga pengukuhan Prof Chairy ini menginspirasi dosen-dosen President University lainnya untuk segera menjadi guru besar,” kata Jony Haryanto dalam sambutannya seperti dikutip dalam keetrangan tertulisnya Minggu (22/8/2021).

Dalam upacara pengukuhan tersebut, Chairy menyampaikan orasi ilmiahnya dengan topik Imagining the Post-Pandemic Era: The Roles of Conscious Consumption and Influencer Marketing in Fostering Circular Economy. Menurut Chairy, pandemi dapat menjadi momentum guna mendorong munculnya gerakan masyarakat untuk mengonsumsi secara sadar (conscious consumption). “Konsumen yang sadar melihat konsumsi sebagai tindakan sosial. Artinya, mereka tidak mengonsumsi secara berlebihan, melainkan dengan lebih bertanggung jawab,” papar Chairy.

Ada tiga ciri konsumsi sebagai tindakan sosial. Pertama, konsumen secara sadar melakukan konsumsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bangsanya. Misalnya, konsumen secara sadar lebih memilih produk lokal ketimbang produk impor. Kedua, masyarakat yang sadar bahwa saat mengonsumsi mereka harus mengurangi berbagai masalah lingkungan. Contohnya, tidak meninggalkan limbah makanan berlebihan.

Ketiga, masyarakat sadar bahwa kegiatan konsumsinya untuk mempromosikan keadilan dan mengurangi ketidakadilan. Ini bisa dilakukan dengan tidak membeli barang-barang yang diproduksi dengan upah yang menekan buruh atau mempekerjakan anak-anak di bawah umur. “Jika masih ada konsumen yang mengonsumsi barang-barang yang diproduksi dengan upah murah atau mempekerjakan anak-anak, itu sama saja dengan mendukung adanya perbudakan modern,” kaat dia.

Pada bagian lain dari orasinya, Chairy menyinggung berkembangnya tren pemasaran baru, terutama di media sosial, yang mengandalkan peran para influencer atau buzzer. Fenomena ini terjadi bukan hanya dalam bidang bisnis, tetapi sosial dan politik. "Para influencer ini sesungguhnya dapat memainkan peran penting dalam mendorong masyarakat untuk mengonsumsi secara sadar. Sayangnya dalam masyarakat yang semakin kapitalistik dan hedonistik, banyak influencer yang lebih memilih untuk mengejar keuntungan materi dan mengabaikan peran mulia tersebut," kata dia.

Dalam orasinya, Chairy juga mendorong peran masyarakat untuk ikut membina ekonomi sirkular demi masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. Di sini, yang dimaksud ekonomi sirkular adalah aktivitas ekonomi yang mencakup penggunaan kembali, perbaikan produk, daur ulang, desain produk yang ramah lingkungan, rantai pasok (supply chain) yang berkelanjutan, dan termasuk di dalamnya konsumsi yang lebih bertanggungjawab. “Jadi, gerakan mengonsumsi secara sadar sangat relevan dengan konsep ekonomi sirkular,” tandas Chairy.

Penerapan konsep ekonomi sirkular juga sangat tepat untuk menjawab tantangan global, seperti perubahan iklim, makin berkurangnya keanekaragaman hayati, efek rumah kaca serta terus meningkatnya limbah dan polusi. Sama seperti konsumen yang sadar, perusahaan yang sadar dan bertanggungjawab juga harus berperan dalam mengatasi permasalahan global.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Christiansen/Boje, Mimpi Buruk 3 Ganda Campuran Indonesia

#2
Jokowi Teken Perpres Pelaksanaan Paten Obat Favipirapir

#3
Bamsoet: FEO Berharap Bertemu Jokowi atas Permohonan Anies

#4
Mudik Natal dan Tahun Baru Ditiadakan

#5
Salah Strategi, Fajar/Rian Kalah

#6
PAN: DPR dan Pemerintah Harus Segera Perbaiki UU Cipta Kerja

#7
Ini Besaran APBD DKI dari Tahun ke Tahun di Era Anies

#8
Terlambat Batasi Perjalanan, Omicron Terdeteksi di 4 Negara

#9
Respons PDIP soal Bamsoet dan Sahroni Jadi Panitia Formula E

#10
PD: Kami yang Pertama Tolak UU Cipta kerja

TERKINI


OLAHRAGA | 27 November 2021

KESEHATAN | 27 November 2021

NASIONAL | 27 November 2021

OLAHRAGA | 27 November 2021

KESEHATAN | 27 November 2021

DUNIA | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

GAYA HIDUP | 27 November 2021

NASIONAL | 27 November 2021

DUNIA | 27 November 2021