Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

LPEI Dukung Kebangkitan Pelaku UMKM Berbasis Ekspor

Jumat, 17 September 2021 | 13:55 WIB
Oleh : Gita Rossiana / FER
Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di industri rumahan konveksi di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021). Pemerintah diminta untuk segera menerapkan bea masuk tindakan pengamanan perdagangan (BMTP) atau safeguards pakaian jadi terkait anjloknya utilisasi industri tekstil dan produksi tekstil.

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, mendukung para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor untuk bangkit dari dampak pandemi yang telah menghantam perekonomian global.

Direktur Pelaksana II LPEI Maqin Noorhadi mengatakan, salah satu upaya perseroan yakni dengan memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja kepada UMKM, khususnya yang berorientasi ekspor dengan skema penugasan khusus ekspor (PKE).

"Pemulihan yang sedang berjalan harus tertahan akibat merebaknya varian baru dari virus covid-19. Aktivitas ekonomi yang sudah terakselerasi di awal tahun 2021 kini harus bersiap menghadapi kondisi yang sama seperti tahun 2020 ketika pembatasan mobilitas masyarakat diberlakukan dan berimbas kepada tekanan ekonomi," ujar Maqin dalam keterangan resmi, Jumat (17/9/2021).

Salah satu sektor yang mengalami pukulan terdalam baik di pasar domestik maupun global adalah sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Berdasarkan kajian yang disusun oleh Indonesia Eximbank Institute, sektor TPT berperan penting dalam perekonomian Indonesia melalui kontribusinya pada PDB, ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Kontribusi TPT Indonesia terhadap total produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2020 sebesar 1,21%, dari 1,26% pada 2019, sedangkan kontribusi ekspor TPT terhadap total ekspor turun menjadi 6,12% pada 2020, dari 7,15% pada 2019. Dari sisi total tenaga kerja (TK), sektor TPT berada pada kisaran 3 juta pekerja yang mencakup sekitar 2-3% dari total TK Indonesia.

Dalam kacamata ekspor, industri TPT tertekan dari tiga sisi baik dari sisi permintaan, suplai, maupun distribusi di antaranya akibat kelangkaan kontainer yang mendorong kenaikan harga. Sepanjang 2020, ekspor TPT hanya senilai US$ 10,55 miliar, turun 17,7% (yoy) dari 2019. Penurunan tersebut terjadi di berbagai produk yaitu segmen benang yang terkoreksi 27,3% (yoy), kain menurun 15,7% (yoy) dan pakaian jadi yang terkoreksi 15,1% (yoy).

Kontribusi penurunan terbesar berasal dari penurunan pakaian jadi yang memiliki porsi 66% dari total ekspor TPT Indonesia. Tekanan terhadap industri TPT setidaknya masih terjadi hingga paruh pertama 2021. Kinerja TPT sedikit terbantu oleh adanya permintaan Alat Pelindung Diri atau APD untuk keperluan penanganan Covid-19. Namun permintaan terhadap APD tersebut tidak cukup besar untuk menutupi turunnya penjualan produk produk TPT secara keseluruhan.

Dari data penjualan ekspor, ekspor per tahun untuk setiap individu eksportir yaitu nilai penjualan ekspor per tahun dapat terlihat bahwa eksportir menunjukkan survival mode yang berbeda dari setiap eksportir. Eksportir kelas besar atau korporasi didukung jejaring yang kuat di pasar ekspor. Sementara itu sejumlah eksportir kelas menengah mengalami penurunan penjualan yang signifikan dan pada gilirannya menyebabkan mereka turun kelas.

Eksportir TPT kelas kecil paling merasakan dampaknya sehingga beberapa eksportir harus keluar dari pasar ekspor. Sebaliknya terdapat sejumlah eksportir yang adaptif yang mampu merespon kebutuhan produk TPT di masa pandemi sehingga penjualan ekspornya ekspansif.

Salah satunya adalah CV Pria Tampan per Agustus 2021, UKM berorientasi ekspor batik asal Solo itu mampu melakukan pengiriman kain batik ke luar negeri senilai US$ 467 ribu, mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dengan nilai ekspor yang mencapai US$ 463 ribu.

Selama tiga tahun terakhir, mayoritas negara tujuan dari UKM asal Solo ini adalah Kanada dan Amerika Serikat. Bulir-bulir putih yang timbul pada kain batik yang berasal dari proses pewarnaan kain merupakan ciri khas yang membuatnya diminati oleh pasar mancanegara.

Andri Setyawan CEO dari CV Pria Tampan mengatakan, sangat penting bagi pelaku usaha untuk tetap optimis dan memiliki pola pikir positif bahwa dapat melewati situasi pandemi ini dan harus lebih jeli dalam memanfaatkan segala peluang yang ada.

"Selain itu, kita juga harus memanfaatkan segala bantuan yang diberikan Pemerintah seperti saya juga telah memanfaatkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM dari LPEI. Bantuan tersebut sangat membantu kita dalam menjalankan usaha khususnya di tengah situasi seperti ini," ujar Andri.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

EKONOMI | 22 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Denmark Terbuka: 6 Wakil Indonesia Siap Berjuang di Perempat Final, Jojo Hadapi Momota

#2
Kemenhub: Potensi Angkutan Sungai dan Danau Masih Sangat Terbuka

#3
Tak Sengaja, Alec Baldwin Tembak Mati Wanita di Lokasi Shooting

#4
Jokowi Perintahkan Menpora Reformasi Total LADI

#5
Arkeolog Temukan Dugaan Lokasi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

#6
Sanksi Antidoping WADA, Satgas Temukan 24 Permasalahan

#7
Jubir Presiden: Kritik Tanda Demokrasi Berjalan Baik di Indonesia

#8
Jahatnya Pinjol Ilegal, Mahfud: Korbannya Bunuh Diri Keluarganya Masih Diteror

#9
Moeldoko Terima Demo Mahasiswa, Bukti Jokowi Terima Kritik

#10
Jasad Pasangan Blogger Wisata Gabby Petito Ditemukan di Florida

TERKINI


POLITIK | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

OLAHRAGA | 23 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 23 Oktober 2021

HIBURAN | 23 Oktober 2021

EKONOMI | 23 Oktober 2021

KESEHATAN | 23 Oktober 2021