Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

BI Yakin Dampak Tapering Bisa Diantisipasi dengan Baik

Selasa, 21 September 2021 | 16:14 WIB
Oleh : Herman / EHD
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Selasa, 21 September 2021.

Jakarta, Beritasatu.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini, dampak dari rencana The Fed yang akan memangkas stimulus (tapering) mulai akhir tahun ini akan jauh lebih rendah dibandingkan efek The Fed taper tantrum di 2013.

Ada tiga alasan. Pertama, The Fed terus melakukan komunikasi secara baik kepada investor, media dan juga masyarakat terkait dasar pengambilan keputusan tersebut, yaitu tidak hanya berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tetapi juga seberapa jauh dampaknya terhadap tingkat pengangguran.

“Dengan berbagai assessment dan kondisi ekonomi Indonesia serta berbagai pengalaman yang kami lakukan, Inshaallah dampak dari Fed tapering bisa diantisipasi secara baik, dan tentu saja lebih rendah kalau kalau dibandingkan Fed taper tantrum pada 2013,” kata Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Selasa (21/9/2021).

Perry menyampaikan, komunikasi yang dilakukan The Fed selama ini berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari indikator yang terus dipantau BI yakni US treasury yield atau suku bunga surat berharga negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat.

“Dengan pemahaman yang baik dari para investor dan pasar, tidak terjadi kenaikan-kenaikan yang besar, meskipun dalam jangka panjangnya ada kecenderungan kenaikan. Bandingkan dengan Fed taper tantrum pada 2013, pada waktu itu dalam tempo 1 dan 2 bulan US treasury yield naik untuk 10 tahun menjadi 3,5%. Sekarang kenaikan US treasury tidak terlihat signifikan dan juga kenaikannya lebih secara bertahap,” jelas Perry.

Alasan kedua terkait bagaimana BI dan Kementerian Keuangan melakukan langkah-langkah bersama untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui strategi triple intervention.

Alasan ketiga terkait ketahan ekonomi Indonesia, di mana defisit transaksi berjalan tetap rendah. Diperkirakan defisit transaksi berjalan tahun ini sekitar 0,6% - 1,4% per PDB.

Selain itu, ketahan eksternal Indonesia juga tercermin dari jumlah cadangan devisa yang sebesar US$ 144,4 miliar. “Kami terus melakukan evaluasi, baik secara mingguan maupun bulanan, terus melakukan update informasi tapering, dan tentu saja menakar dampaknya terhadap Indonesia,” kata Perry.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

EKONOMI | 21 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Petisi Kembalikan Aipda Ambarita ke Raimas Backbone Jakarta Timur Menggema di Medsos

#2
Ini Daftar Smartphone yang Tidak Lagi Bisa Akses WhatsApp Mulai 1 November

#3
Pengamat: Naik Pesawat Wajib Tes PCR Bebani Calon Penumpang dan Maskapai

#4
Denmark Terbuka 2021, The Minions Tumbang di Tangan Pemain Muda Pelatnas

#5
Liga Champions: Bungkam Zenit, Juventus Sapu Bersih Kemenangan

#6
Lima Wakil Indonesia Tersingkir di Babak Pertama Denmark Terbuka

#7
Tak Menyangka Tumbangkan Minions, Fikri/Bagas: Di Latihan pun Kami Belum Pernah Menang

#8
Satgas Terbitkan Surat Edaran Wajib Tes PCR Naik Pesawat dari dan ke Jawa-Bali

#9
Liga Champions: Tertinggal Dua Gol, MU Bangkit dan Menang Berkat Ronaldo

#10
Calon Mahasiswa dari Indonesia Makin Tertarik Kuliah di Tiongkok

TERKINI


OLAHRAGA | 22 Oktober 2021

OLAHRAGA | 22 Oktober 2021

DIGITAL | 22 Oktober 2021

OLAHRAGA | 22 Oktober 2021

DUNIA | 21 Oktober 2021

DUNIA | 21 Oktober 2021

NASIONAL | 21 Oktober 2021

OLAHRAGA | 21 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 21 Oktober 2021

DUNIA | 21 Oktober 2021