Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Bamsoet Optimistis Kadin Bantu Pemulihan Ekonomi Indonesia

Rabu, 20 Oktober 2021 | 15:37 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Ketua MPR Bambang Soesatyo hadir pada pelantikan pengurus Kadin Indonesia 2021-2026.

Jakarta, Beritasatu.com- Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) optimistis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di bawah kepemimpinan Ketua Umum Arsjad Rasjid, diperkuat Ketua Dewan Pertimbangan Anindya Bakrie, Ketua Dewan Penasehat M S Hidayat, Ketua Dewan Kehormatan Rosan P. Roslani, dan Ketua Dewan Usaha Chairul Tanjung, bisa membuat berbagai gebrakan dalam memajukan dunia usaha. Khususnya membantu pemerintah memulihkan perekonomian yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.

"Laporan terbaru yang dikeluarkan berbagai lembaga ekonomi selama periode September hingga Oktober 2021 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hinga akhir tahun 2021 hingga 2022 tetap tumbuh positif. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 sebesar 3,5%-4,3% dan di tahun 2022 sebesar 5,2%. IMF sebesar 3,2% di tahun 2021 dan 5,9% di tahun 2022. World Bank sebesar 3,7% di tahun 2021 dan 5% di tahun 2022. OECD sebesar 3,7% di tahun 2021 dan 4,9% di tahun 2022," ujar Bamsoet usai pelantikan Pengurus Kadin Indonesia 2021-2026, di Jakarta, Rabu (20/9/21).

Advertisement

Bamsoet yang dilantik sebagai Ketua Badan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan Kadin Indonesia periode 2021-2026, menjelaskan butuh kerja keras dan gotong royong dari pemerintah dan dunia usaha agar berbagai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut bisa menjadi kenyataan. Kadin Indonesia, salah satunya, bisa memanfaatkan kehadiran Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang telah disepakati negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, bersama Australia, New Zealand, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

"Perjanjian RCEP diinisiasi, dipimpin, dan ditandatangani atas restu Indonesia. Keuntungan yang diperoleh antara lain bisa meningkatkan ekspor Indonesia ke negara-negara peserta RCEP hingga 8%-11%, menarik investasi hingga 18%-22%, meningkatkan kesejahteraan sebesar US$ 1,516 juta, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,26%. Kadin Indonesia bisa memaksimalkannya melalui berbagai sektor strategis seperti pertanian, mining, wood product, paper, chemical, rubber, dan plastic," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menyoroti kontribusi sektor ekonomi digital yang baru menyumbangkan sekitar 4% dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Presiden Joko Widodo menargetkan pada tahun 2030, bisa ditingkatkan menjadi 18%. Nilai transaksi sektor ekonomi digital ditargetkan tumbuh delapan kali lipat, dari Rp 632 triliun menjadi Rp 4.531 triliun pada tahun 2030. Mewujudkannya, perlu dukungan Kadin Indonesia, khususnya dalam melahirkan lebih banyak digitalpreneur.

"Termasuk membantu pemerintah mengembangkan potensi UMKM, antara lain dengan mendorong UMKM menembus pasar ekspor, hingga menghubungkan UMKM dengan ekosistem ekonomi digital, mengingat UMKM yang mampu beradaptasi dan terhubung dengan ekosistem digital baru sekitar 13%. Pengembangan UMKM sangat penting, karena hampir 96% pelaku usaha di Indonesia bergerak di sektor UMKM. BPS mencatat jumlah UMKM mencapai 64,19 juta unit, menyerap 97% dari total tenaga kerja, dan berkontribusi terhadap 60% PDB," terang Bamsoet.

Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (Ardindo) ini menambahkan, pada triwulan II 2021 perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 7,07% (yoy). Tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage atau terbaik dalam 16 tahun terakhir, serta lebih tinggi dibandingkan beberapa negara peer yang telah merilis angka pertumbuhannya seperti Vietnam (6,6%), Korea Selatan (5,9%), dan Arab Saudi (1,5%).

"Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan mencatat, Indikator aktivitas manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) kembali menguat sebesar 52,2 pada September 2021. Menunjukan kinerja sektor manufaktur nasional yang akan terus meningkatkan produksinya. Ditambah neraca perdagangan yang surplus selama 16 bulan berturut-turut. Pada Agustus 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 4,74 miliar atau tertinggi sejak Desember 2006. Secara akumulatif sejak Januari-Agustus 2021, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 19,17 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan capaian periode sama di 2020 sebesar US$ 10,96 miliar," pungkas Bamsoet.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

EKONOMI | 27 November 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Christiansen/Boje, Mimpi Buruk 3 Ganda Campuran Indonesia

#2
Mudik Natal dan Tahun Baru Ditiadakan

#3
Bamsoet: FEO Berharap Bertemu Jokowi atas Permohonan Anies

#4
Salah Strategi, Fajar/Rian Kalah

#5
Ini Besaran APBD DKI dari Tahun ke Tahun di Era Anies

#6
Terlambat Batasi Perjalanan, Omicron Terdeteksi di 4 Negara

#7
Respons PDIP soal Bamsoet dan Sahroni Jadi Panitia Formula E

#8
PD: Kami yang Pertama Tolak UU Cipta kerja

#9
Ini Jadwal 3 Wakil Indonesia di Semifinal Indonesia Terbuka

#10
Varian Omicron, Ratusan Penumpang Afsel Tertahan di Schiphol

TERKINI


BERITA GRAFIK | 27 November 2021

BERITA GRAFIK | 27 November 2021

DUNIA | 27 November 2021

NASIONAL | 27 November 2021

NASIONAL | 27 November 2021

BERITA GRAFIK | 27 November 2021

BERITA GRAFIK | 27 November 2021

DIGITAL | 27 November 2021

NASIONAL | 27 November 2021

OLAHRAGA | 27 November 2021