Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

AFPI: Pandemi Percepat Akselerasi Transformasi Digital

Rabu, 1 Desember 2021 | 16:18 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar AFPI Fintech Lending Summit 2021 bertema "Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Percepat Akselerasi Transformasi Digital oleh Fintech Pendanaan Bersama” secara virtual, Rabu, 1 Desember 2021.

Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melihat tahun 2021 merupakan tahun yang cukup challenging bagi industri fintech pendanaan bersama. Secara makro, diharapkan ekonomi bisa dipercepat namun kemudian terjadi gelombang kedua pandemi.

Kondisi serupa terjadi di industri fintech lending, dimana para pelakunya masih memasuki masa yang boleh dibilang adalah masa-masa growing pains bagi industri, yang kaitannya dengan kompleksitas semakin meningkat baik dari sisi volume, produk, persaingan bisnis dan juga isu pinjaman online (pinjol) ilegal yang ramai diperbincangkan dalam waktu terakhir ini.

Advertisement

Ketua Umum AFPI, Adrian Gunadi mengatakan, AFPI sebagai wadah bagi 104 anggota fintech pendanaan bersama legal dan berizin, telah melakukan beberapa penguatan, baik dari sisi infrastruktur, governance dan aspek code of conduct.

"Di tahun ini, kami juga mengalami penurunan jumlah anggota yang tadinya berjumlah 180-an dan saat ini hanya 104 anggota. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari beberapa faktor, yaitu karena pandemi yang berkelanjutan, risiko bisnis dan juga pengalaman dari para perusahaan fintech pendanaan bersama itu sendiri," ujar Adrian di acara webinar AFPI Fintech Lending Summit 2021, Rabu (1/12/2021).

Adrian menjelaskan, untuk bisa bertahan di industri ini memang diperlukan pengalaman dan ketajaman bisnis yang tinggi dan adaptif dengan perubahan iklim bisnis, regulasi dan persaingan.

"Kalau kita bisa memiliki itu semua, maka masa pandemi ini bisa menjadi momen yang tepat bagi industri fintech pendanaan bersama untuk bangkit menuju tahap berikutnya, menjadi pelaku bisnis yang memiliki quality dan sustainability," jelasnya.

Adrian menambahkan, AFPI sendiri tetap optimistis prospek industri ini masih sangat positif. Pasalnya, pandemi covid-19 juga membawa dampak yang positif, dimana adopsi digitalisasi, termasuk di sektor keuangan sudah sangat tinggi.

"Dengan dukungan regulator, kolaborasi perusahaan fintech pendanaan bersama dengan industri jasa keuangan atau ekosistem lainnya serta masuknya beberapa perusahaan fintech ke bursa, akan menjadi momentum bagi industri ini untuk menjadi industri fintech pendanaan bersama yang lebih sehat, berkualitas dan sustainable," tandasnya.

Anggota Dewan Komisioner OJK dan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK, Riswinandi mengatakan, perubahan perilaku masyarakat yang semakin tergantung dengan teknologi di tengah masa pandemi ini, telah meningkatkan penggunaan transaksi keuangan digital, termasuk salah satunya penggunaan fintech pendanaan bersama.

"Dampaknya, kinerja fintech pendanaan bersama ini terus bertumbuh positif dan mampu berkontribusi membantu masyarakat ataupun UMKM yang membutuhkan pendanaan cepat dengan cara yang mudah," kata Riswinandi.

Menurut Riswinandi, fintech pendanaan bersama sebagai salah satu platform yang unggul baik dari sisi outreach kepada masyarakat maupun dari sisi kecepatan dalam melakukan transaksi, merupakan salah satu alat yang sangat baik dalam meningkatkan inklusi keuangan dan membantu masyarakat yang masih belum memiliki rekening bank.

Fintech pendanaan bersama, lanjut dia, merupakan sebuah contoh bagaimana industri jasa keuangan berevolusi dengan berbagai transformasi dan juga dukungan teknologi yang berkembang.

"Tren penggunaan fintech pendanaan bersama terus meningkat secara agresif. OJK mencatat penyaluran pinjaman fintech pendanaan bersama ke masyarakat telah mencapai Rp 272,43 triliun dan nilai pendanaan yang masih berjalan atau outstanding pinjaman sebesar Rp 27,91 triliun. Ini kami rasa cukup baik," tegasnya.

Direktur Keamanan Siber dan Sandi Industri BSSN, Intan Rahayu menambahkan, masa pandemi turut menyumbang angka penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh masyarakat Indonesia dan hampir semua bidang usaha memanfaatkan teknologi digital tersebut.

"Namun sejatinya, pertumbuhan penggunaan ekonomi digital juga harus didorong oleh sistem keamanan yang aman, karena keamanan siber merupakan salah satu pilar keberhasilan digital ekonomi dan keamanan serta kenyamanan masyarakat," kata Intan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA


EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
Novel Baswedan Jadi Satgas Tipikor Polri, Sahroni: Sesuai Keahlian

#2
Disebut Edy Mulyadi Macan Mengeong, Ini Jawaban Prabowo Subianto

#3
Kepala BNPT Jelaskan Status Munarman Jadi Terdakwa Terorisme

#4
NIK Resmi Jadi Nomor Identitas Peserta JKN-KIS

#5
Bentrok di Maluku Tengah, 1 Polisi Alami Luka Tembak di Pipi

#6
Masyarakat Wajib Pahami 8 Karakteristik Omicron

#7
Update Covid-19: Kasus Harian Tembus Angka 7.000

#8
Data Kasus Aktif Covid-19 sampai 26 Januari 2022

#9
Pelaku Pengeroyokan Kakek 89 Tahun Ternyata Ada yang Saling Kenal

#10
Survei: Elektabilitas Airlangga dan Golkar Tertinggi di Kalangan Milenial

TERKINI


DUNIA | 26 Januari 2022

NASIONAL | 26 Januari 2022

KESEHATAN | 26 Januari 2022

DUNIA | 26 Januari 2022

EKONOMI | 26 Januari 2022

NASIONAL | 26 Januari 2022

KESEHATAN | 26 Januari 2022

NASIONAL | 26 Januari 2022

DUNIA | 26 Januari 2022

MEGAPOLITAN | 26 Januari 2022