Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kesiapan Ekosistem dan Spektrum Masih Jadi Tantangan Implementasi 5G

Selasa, 11 Januari 2022 | 16:39 WIB
Oleh : Herman / EHD
Koordinator Standar Telekomunikasi Radio Kemenkominfo Indra Utama dalam acara Telset Techtival sesi diskusi “Menapaki Masa Depan Komunikasi Data” yang digelar Numedia, 11 Januari 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Standar Telekomunikasi Radio Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Indra Utama menyampaikan, implementasi layanan 5G di Indonesia saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain dari sisi kesiapan ekosistem hingga spektrum.

Di sisi ekosistem 5G, tantangannya adalah harga perangkat 5G yang masih mahal. Solusinya, Kemenkominfo menghimbau agar penjualan perangkat 5G dilakukan melalui skema bundling paket data. Saat ini jumlah sertifikat yang sudah dikeluarkan untuk perangkat 5G sebanyak 148 tipe perangkat.

Tantangan selanjutnya yang berhubungan dengan ekosistem 5G yaitu terkait isu perlindungan data pribadi. Dalam hal ini, Kemenkominfo juga telah bersinergi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta industri.

“Langkanya ekosistem dalam negeri juga masih menjadi tantangan. Sehingga perlu kolaborasi research center dengan peran serta penthalelix,” kata Indra Utama dalam acara Telset Techtival sesi diskusi “Menapaki Masa Depan Komunikasi Data” yang digelar Numedia, Selasa (11/1/2022).

Spektrum frekuensi radio juga masih menjadi tantangan utama. Pasalnya pita-pita frekuensi yang tergolong “champion” untuk layanan 5G saat ini masih digunakan untuk layanan satelit di Indonesia.

Pada 2022 juga sedang disiapkan standar teknis 5G untuk pita frekuensi radio 700 MHz, 2,6/3,3/3,5/26/28 Ghz sesuai dengan 5G spektrum roadmap.

Berikutnya adalah fiberiasi dan infrastruktur pasif. Indra menyampaikan, di era 5G, BTS akan didominasi tipe yang pendek tetapi sangat rapat penempatannya (small cell).

Hal ini perlu didukung dengan kemudahan akses terhadap infrastruktur pasif seperti misalnya tiang lampu jalan, tiang lampu lalu lintas, papan reklame, dan lain-lain.

Selain itu untuk efisiensi dan keteraturan tata kelola, dibutuhkan ducting bersama sebagai jalur arteri distribusi jaringan fiber optic dan ekstensinya sampai ke wilayah pemukiman dan perkantoran. Hal ini tentunya memerlukan dukungan dari pemerintah daerah.

“Upaya fiberisasi perlu terus dipercepat oleh para penyelenggara telekomunikasi agar koneksi antar BTS dan jaringan middle mile atau backhaul memiliki kapasitas transmisi yang besar dan sangat responsif,” kata Indra.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI