Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

OJK Proyeksi Piutang Pembiayaan Multifinance Tumbuh 12%

Kamis, 20 Januari 2022 | 20:57 WIB
Oleh : Prisma Ardianto / FMB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi pertumbuhan pembiayaan multifinance sebesar 12% di tahun 2022. Namun demikian, proyeksi itu bergantung pada kondisi perekonomian dan pendanaan yang lebih kondusif.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso meyakini, kinerja multifinance bisa lebih baik dibandingkan tahun 2021, seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% untuk 2022. Selain itu, gearing ratio multifinance pun relatif menurun menjadi 1,9 kali pada akhir 2021 atau lebih rendah dari 2,15 pada akhir 2020, nilai itu jauh diambang batas maksimal sebesar 10 kali.

"Piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan akan tumbuh sekitar 12%," kata Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2022 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Dia menuturkan, piutang pembiayaan masih akan didominasi dari lini kendaraan bermotor, meski pertumbuhan juga akan disokong sejumlah lini lainnya. Meski begitu, permintaan kendaraan bermotor masih akan dipengaruhi situasi perekonomian tahun ini yang diharapkan dapat lebih baik.

"Dengan kondisi ekonomi yang lebih bagus, orang pasti ganti kendaraan, apalagi pemerintah mendorong kendaraan berbasis baterai. Kalau kendaraan itu salah satu porsi terbesar dalam pembiayaan di multifinance, ini akan sejalan dengan ekonomi. Kalau ekonomi tumbuh dan pengangguran turun maka pembiayaan juga tumbuh," jelas Wimboh.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi mengatakan, salah satu indikator pertumbuhan multifinance adalah gearing ratio yang relatif rendah. Tantangan multifinance lebih pada upaya meraih sumber dana. "Mereka perlu melakukan upaya lebih untuk mendapat dukungan pendanaan dari perbankan maupun pasar modal. Ini tentu akan berpengaruh pada pertumbuhan pembiayaan," imbuh dia.

Riswinandi menuturkan, pertumbuhan piutang pembiayaan akan bergantung pada suasana perekonomian dalam negeri yang terefleksi dari pergerakan aktivitas masyarakat. Secara tidak langsung, pergerakan masyarakat bakal mulai mendongkrak daya beli dan minat untuk berbelanja barang, termasuk kendaraan bermotor roda dua atau roda empat.

Selain itu, produksi komoditas batu bara dan perkebunan juga diharapkan konsisten meningkat. Pertumbuhan di sektor komoditas diharapkan bisa menyeret permintaan alat berat, lalu kebutuhan akan pembiayaan dari multifinance. Hal serupa turut diharapkan terjadi pada sektor lainnya.

"Jadi pertumbuhan perusahaan pembiayaan ini bisa dilihat dari sisi lain ekonomi, tidak melulu dari perusahaan pembiayaan, tapi peluang yang timbul dari sektor-sektor yang membutuhkan dukungan perusahaan pembiayaan. Ini yang mesti sama-sama kita jaga supaya pertumbuhan di berbagai sektor itu bisa stabil," terang Riswinandi.

Setelah kondisi lebih stabil, sambung dia, kemampuan bayar multifinance untuk membayarkan kewajibannya pun meningkat. Dengan begitu, maka bank sebagai sumber pendanaan terbesar multifinance mulai kembali melirik untuk menggelontorkan dananya. Situasi perekonomian yang kian membaik tentu akan meningkatkan kemampuan bayar debitur multifinance, sehingga pembiayaan bermasalah bisa ikut terkendali.

Riswinandi bilang, non performing financing (NPF) multifinance sampai dengan Desember 2021 terjaga di posisi 3,53% atau jauh lebih rendah dibandingkan Juli 2020 yang sempat menyentuh level 5,60%. Sedangkan nilai restrukturisasi pembiayaan multifinance tercatat mencapai Rp 218,95 triliun terhadap sebanyak 5,2 juta kontrak.

Dia menyatakan, sebesar 60,1% portofolio restrukturisasi tersebut terpengaruh pandemi Covid-19. "Kalau dianalisa secara mingguan, restrukturisasi itu jumlahnya sudah tidak melonjak lagi. Jadi sudah landai, sudah ada 5,2 juta kontrak, mudah-mudahan akan terus membaik," jelas dia.

Riswinandi menambahkan, pertumbuhan piutang pembiayaan harus disertai dengan perbaikan pada kualitas aset. Oleh karena itu, mitigasi risiko mesti terus dibenahi. Saat ini multifinance sudah bisa melihat data kredit/pembiayaan melalui SLIK, aset debitur yang dijaminkan juga sudah tercatat di asset registry.

Pendekatan-pendekatan itu diharapkan bisa dimanfaatkan multifinance untuk lebih selektif memilih debitur dalam rangka menjaga kualitas aset. "Mudah-mudahan ke depan sudah tidak ada lagi double pledge atau triple pledge. Sehingga kualitas pembiayaan juga lebih baik," tandas Riswinandi.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Majalah Investor


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI