Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BI Proyeksi The Fed Naikkan Suku Bunga 4 Kali

Kamis, 20 Januari 2022 | 21:05 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / FMB
Anggota Dewan Gubernur the Federal Reserve Lael Brainard (kiri) dan Ketua the Fed Jerome Powell (kanan)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuannya empat kali yang akan dimulai pada bulan Maret.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan suku bunga Fed Fund Rate sangat bergantung pada kondisi ekonomi di AS. Seiring pemulihan ekonomi, telah terjadi kenaikan inflasi yang tinggi di negara tersebut.

"Secara keseluruhan kami buat kesimpulan dan jadi dasar kami melihat, antisipasi dan menempuh respon kebijakan sisi BI. Keseluruhan baseline scenario kami, Fed Fund Rate akan naik empat kali tahun ini,” kata dia.

Meski begitu terdapat sejumlah risiko yang juga bisa mengubah arah kebijakan The Fed yang akan tetap menjadi perhatian. Misalnya saja kenaikan kasus Omicron, gangguan mata rantai pasokan, dan kenaikan harga energi yang bisa saja membuat bank sentral AS tersebut hanya tiga kali menaikan suku bunganya.

"Secara keseluruhan, asesmen kami kalau dilihat dari sisi fundamentalnya, ekonomi dibandingkan perkiraan inflasi dan unemployment di AS dan juga bacaan kami soal pandangan dari members Fed kemungkinan Fed Fund Rate akan naik tiga kali dari sisi fundamental," ungkapnya.

Kendati begitu, ia belum dapat memperkirakan berapa kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Maret mendatang. Pasalnya Bank Indonesia masih harus memantau berbagai perkembangan terkini arah dan respon dari normalisasi kebijakan The Fed.

“Tapi apakah naiknya 25 basis poin (bps) apakah 50 bps. Ini harus kami baca lebih lanjut. Inilah bacaan kami mengenai arah dan juga respons dari normalisasi kebijakan moneter oleh The Fed," tuturnya.

Perry memastikan akan terus memantau berbagai perkembangan rencana kenaikan suku bunga The Fed dan memitigasi dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Pasalnya dampaknya akan lebih terlihat pada kenaikan US Treasury di atas 2%, alhasil akan mempengaruhi sisi eksternal Indonesia dalam hal ini arus dana asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Adapun apabila selisih yield UST dengan yield surat utang pemerintah semakin menipis, maka arus modal akan bergerak ke luar atau (capital outflow), sehingga berpotensi memberikan tekanan pada sisi nilai tukar rupiah.

“Dalam kaidah teori, Interest Rate Differential atau perbedaan suku bunga dalam negeri (SBN) dan luar negeri (US Treasury) kemudian akan berpengaruh pada arus modal asing portofolio investor asing pada SBN di dalam negeri. Oleh karena itu dampak yang kami lihat seberapa jauh yield SBN akan naik,demikian juga dampaknya ke nilai tukar rupiah,” pungkasnya.

Perry menyebut bahwa kinerja nilai tukar rupiah akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor global dan domestik, salah satunya faktor kenaikan UST yang tentunya akan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

“Ini arti utama kenapa saya sampaikan arah kebijakan moneter lebih stabilitas terus lakukan stabilisasi rupiah, antisipasi normalisasi kebijakan The Fed dan jaga nilai tukar rupiah. Tentu saja fleksibilitas nilai tukar rupiah dan yield SBN diperlukan dalam melakukan antisipasi”tegasnya.

Lebih lanjut, Bank Indonesia memastikan bahwa dampak tapering kali ini tidak akan separah taper tantrum pada tahun 2013. Hal ini didukung faktor fundamental ekonomi dan current account defisit jauh lebih rendah disertai dengan surplus dari neraca modal yang lebih tinggi.

Kemudian ketahanan cadangan devisa Indonesia hingga akhir Desember tercatat tetap tinggi US$ 144,9 miliar atau setara pembiayaan 8 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bahkan cadev juga di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Selain itu, memasuki awal tahun 2022, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik berlanjut tercermin dari investasi portofolio yang mencatat net inflows yang terbatas sebesar 0,2 miliar dolar AS sampai dengan 18 Januari 2022

“Cadangan devisa tinggi, jadi dasar kenapa kami terus lakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dan koordinasi Kementerian Keuangan bagaimana menavigasi sisi yield surat utang pemerintah. Jadi esensinya memastikan arus portofolio asing khususnya SBN akan tetap menarik,” tegasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI