Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Bulan Depan Diprediksi Naik, Yuk Akumulasi Bitcoin

Senin, 24 Januari 2022 | 07:32 WIB
Oleh : Lona Olavia / WBP
Satu gambar yang diambil pada 6 Februari 2018 menunjukkan seseorang memegang representasi visual dari mata uang kripto digital Bitcoin.

Jakarta, Beritasatu.com– Meski sudah tertekan sangat dalam pada akhir pekan lalu, harga Bitcoin (BTC) berpotensi berbalik arah menguat, terutama ketika kelak terjadi golden cross di time frame harian. Nah, adanya peluang tersebut ditambah saat ini harga Bitcoin dan aset kripto teratas lain masih di kategori harga terendahnya saat ini, saat inil adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan pembelian aset kripto sebagai investasi ke depan.

Pengamat sekaligus investor aset kripto Vinsensius Sitepu menyebutkan, pada time frame harian, rata-rata ada sekitar 61 hari antara death cross hingga golden cross, sejak tahun 2012. Jika menggunakan patokan itu, maka golden cross berikutnya diperkirakan terjadi pada awal Februari 2022. Jika menggunakan rentang waktu terlama yakni 71 hari, maka akan terjadi pada sekitar 21 Maret 2022. Patut dicatat, bahwa sebelum golden cross, maka lonjakan harga sangat signifikan akan terjadi.

“Jadi, golden cross bisa dijadikan patokan umum, bahwa saat itulah kenaikan harga luar biasa akan dimulai. Dengan demikian, ketika harga turun seperti saat ini adalah saat paling tepat untuk terus mengakumulasi,” ungkapnya kepada Investor Daily, Minggu (23/1/2022).

Sementara untuk masa depan Bitcoin, investor harus berpatokan pada perkembangan adopsi Bitcoin sejak 2017 hingga medio 2021 lalu. Pertama, pada Desember 2017, untuk kali pertama nilai Bitcoin dijadikan acuan bagi produk Bitcoin berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME), atau pasar komoditas berjangka terbesar di dunia. Ini mencerminkan apresiasi besar terhadap kripto sebagai kelas aset baru yang bernilai, langka, dan punya basis teknologi yang lebih baik daripada sistem keuangan konvensional.

Kedua, pembelian Bitcoin dalam jumlah besar oleh perusahaan swasta, baik publik dan privat, seperti Tesla dan MicroStrategy. Ketiga, pada pertengahan 2021, untuk kali pertama nilai Bitcoin CME itu masuk ke pasar modal di Nasdaq dan NYSE lewat produk Bitcoin ETF. Lagi-lagi ini adalah mencerminkan apresiasi besar terhadap kripto sebagai kelas aset baru yang bernilai. Ingatlah bahwa pasar ETF AS adalah yang terbesar di dunia. Sementara peringkat kedua adalah Uni Eropa.

“Bitcoin ETF sekaligus menegaskan korelasi positif antara pasar kripto dengan pasar modal. Proyeksi, kelak akan ada Bitcoin ETF berbasis spot market di AS, ketika regulasi di negeri itu semakin akomodatif. Semakin banyak perusahaan hedge fund masuk ke pasar CME untuk berdagang Bitcoin berjangka,” kata Vinsensius.

Senada, Co-founder CryptoWatch Christopher Tahir, penurunan Bitcoin ditargetkan menuju ke US$ 33.600-34.500 dalam 1-2 minggu ke depan. Namun untuk di bawah harga US$ 30.000 peluangnya cenderung lebih kecil. Adapun, ambruknya harga aset kripto baru-baru ini dikarenakan larangan dari Rusia untuk melakukan aktivitas terkait kripto.

“Tapi, saya tetap sarankan untuk cicil beli, karena ini adalah digital properti. Jangka panjangnya menurut saya akan tetap bagus untuk Bitcoin, tetapi ini berbeda untuk altcoins yang akan datang dan pergi silih berganti, karena karakteristik yang dimiliki Bitcoin, lebih mirip dengan gold,” ungkap Christopher.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI