Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Meski Larangan Ekspor CPO Dicabut, RI Bukan Eksportir Terbesar Lagi

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:32 WIB
Oleh : Indah Handayani / WBP
Seorang buruh tani memanen kelapa sawit di Perkebunan PTPN VII Kebun Gedeh, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 3 Des. 2018.

Jakarta, Beritasatu.com - Dengan kembali dibukanya keran ekspor minyak goreng dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), tidak menjadikan Indonesia dalam waktu dekat sebagai negara pengekspor CPO terbesar lagi. Sebab dari sisi pembeli masih ada kekhawatiran kemungkinan kebijakan berubah kembali sewaktu-waktu.

“Sehingga dalam waktu dekat ini lebih ke arah wait and see dan laju ekspor tidak akan terlalu melonjak signifikan,” kata Research & Development ICDX Girta Yoga Investor Daily, Jumat (21/5/2022).

Lebih lanjut Yoga menjelaskan perubahan kebijakan yang sangat cepat berubah akan berdampak pada peningkatan country risk di negara terkait. Imbasnya, lebih ke arah negatif karena akan mengurangi rasa kepercayaan dari negara importir. Namun, dalam kasus tertentu perubahan ini terpaksa harus dilakukan, termasuk untuk kasus CPO ini.

“Karena jika tidak dilakukan pelarangan ekspor, maka dikhawatirkan kelangkaan minyak goreng masih akan terus berlanjut, hal ini tentu akan menciptakan masalah yang lebih pelik,” kata dia.

Yoga mengatakan dengan adanya pengumuman resmi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis (19/5/2020) untuk membuka kembali keran ekspor CPO per 23 Mei nanti, tentunya membuat harga CPO di pasar global ikut terpengaruh.

Menurut Yoga, aturan domestic market obligation (DMO) serta domestic price obligation (DPO) pada dasarnya bertujuan memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri serta harga yang terjangkau bagi masyarakat. Meski demikian, poin lain yang tidak kalah penting adalah pemerintah perlu memperhatikan bahwa saat penerapan DMO dan DPO ini tidak akan sampai berdampak negatif pada harga TBS di sisi petani.

Harga CPO terkerek
Sementara harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives naik pada perdagangan akhir pekan, Jumat (20/5/2022). Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2022 naik 42 Ringgit Malaysia menjadi 6.689 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juli 2022 terjatuh 46 Ringgit Malaysia menjadi 6.342 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Agustus 2022 terkoreksi 37 Ringgit Malaysia menjadi 6.109 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman September 2022 jatuh 17 Ringgit Malaysia menjadi 5.990 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman Oktober 2022 menurun 19 Ringgit Malaysia menjadi 5.936 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 terjatuh 14 Ringgit Malaysia menjadi 5.908 Ringgit Malaysia per ton.

“Pada penutupan pekan ini, harga CPO terpantau bergerak bullish dengan potensi resistance terdekat di level 6.500 Ringgit Malaysia per ton dan level support terdekat di level 6.000 Ringgit Malaysia per ton,” ungkap Yoga.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI