Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kemendes PDTT: Ini Kondisi Pedesaan 23 Tahun Lagi

Senin, 23 Mei 2022 | 12:56 WIB
Oleh : Herman / FMB
Ilustrasi penggunaan dana desa untuk pembangunan jembatan pelangi di Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Jakarta, Beritasatu.com - Menjelang perumusan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025-2045, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah menyusun proyeksi perkembangan kondisi desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi dari 2022 sampai 2045. Proyeksi dilaksanakan berdasarkan data rinci yang telah dimiliki Kemendes PDTT tiga sampai 10 tahun sebelumnya, tidak mencakup strategi percepatan pembangunan.

Dalam proyeksi tersebut, tekanan moratorium pembuatan desa baru membuat jumlah desa diprediksi hanya meningkat sedikit dari 74.953 pada 2020 menjadi 74.964 pada 2025, lalu menjadi 74.987 pada 2045. Namun untuk jumlah penduduk desa diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan.

Proyeksi jumlah desa 2020-2045

“Jumlah penduduk perdesaan mencapai 201,66 juta jiwa di 2020 dan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Pada 2030, jumlahnya diperkirakan 306,09 juta jiwa dan terus meningkat menjadi 460,09 juta jiwa di tahun 2045,” ungkap Koordinator Penyusunan Keterpaduan Pembangunan Desa Kemendes PDTT Nurharyadi dalam webinar Proyeksi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi 2022-2045, Senin (23/5/2022).

Nurharyadi mengungkapkan, perekonomian penduduk desa pada 2045 sebagian besarnya juga masih bertumpu pada pertanian sebesar 88,44%, namun trennya terus menurun sejalan dengan peningkatan kreativitas ekonomi desa di sekitar nonpertanian. Di sisi lain, perekonomian penduduk desa di bidang perdagangan dan industri pengolahan terus bertumbuh sampai dengan 4% dan 5,22% pada 2045.

“Jumlah pendapatan warga desa pada 2013 sebesar Rp 505.461 per kapita/bulan. Dalam kurun waktu 8 tahun, jumlahnya meningkat sebesar 47,97% menjadi Rp 971.445 per kapita/bulan. Pendapatan warga desa diperkirakan mengalami peningkatan secara gradual hingga mencapai Rp 2.412.901 per kapita/bulan di tahun 2045,” ungkap Nurharyadi.

Untuk jumlah anggaran pendapatan belanja (APB) desa, pada 2015 sebesar Rp 52 triliun. Dalam kurun waktu 6 tahun, jumlahnya meningkat 57,02% menjadi Rp 121 triliun. APB desa diperkirakan mengalami peningkatan secara gradual hingga tahun 2045 sebesar Rp 381 triliun.

“Untuk jumlah Badan Usaha Milik Desa (BUM Des), jumlahnya juga terus meningkat. Di 2017 jumlahnya sebanyak 43.339, lalu dalam kurun waktu 4 tahun meningkat 32,29% menjadi 57.288 pada 2021. Seluruh desa di Indonesia diperkirakan telah memiliki BUM Desa pada 2028 dengan total 74.968 BUM Desa,” ungkap Nurharyadi.

Untuk ekonomi online di desa, internet diprediksi sudah akan terpenuhi ke seluruh desa pada 2022, namun untuk jasa ekspedisi baru akan mencapai 70.171 desa pada 2045. Diperkirakan seluruh desa di Indonesia sudah teraliri listrik pada 2030 dengan nilai elektrifikasi desa 650. Jalan aspal juga akan mendominasi seluruh desa pada 2032.

Terkait proyeksi tingkat pengangguran terbuka (TPT), presentasi TPT di pedesaan pada 2022 sebesar 4,71% dan memiliki tren penurunan sampai 2045 dengan nilai proyeksi sebesar 2,34%. Nilai indeks gini di pedesaan juga memiliki tren penurunan dari 0,315 di 2021 menjadi 0,295 di 2045.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI