Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BSI Fokus Garap Potensi Besar Ekosistem Industri Halal

Selasa, 24 Mei 2022 | 21:15 WIB
Oleh : Prisma Ardianto / FER
Karyawan melayani nasabah yang tengah melakukan transaksi di outlet PT Bank Syariah Indonesia KC Jakarta Barat, Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (4/2/2021).

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memiliki potensi besar untuk menangkap peluang di ekosistem industri halal Indonesia. Dukungan dan kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk perusahaan bisa optimal menggarap ekosistem tersebut.

Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menyampaikan, pada 2021, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri halal karena negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, sebanyak 229,0 juta penduduk adalah muslim atau mencakup 87,2% dari total sekitar 270 juta total penduduk. Posisi selanjutnya disusul Pakistan dengan 200,4 juta penduduk muslim dan India sebanyak 195,0 juta penduduk muslim.

"Apalagi berdasarkan temuan, sekitar 45% dari jumlah muslim di Indonesia memiliki preferensi syariah yang cukup kuat. Preferensi nasabah individu menempatkan prinsip syariah pada peringkat kedua, setelah reputasi bank. Belum lagi, industri halal Indonesia pun menawarkan peluang bisnis yang signifikan untuk BSI," beber Anton dalam acara Halal Industry Event, Selasa (24/5/2022).

Karyawan melayani nasabah yang tengah melakukan transaksi di outlet PT Bank Syariah Indonesia KC Jakarta Barat, Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (4/2/2021).

Jika dirinci, lanjut Anton, industri makanan halal memiliki potensi Rp 2.422 triliun, pakaian halal Rp 294 triliun, perkembangan media halal Rp 140 triliun, dan wisata halal Rp 154 triliun. Sedangkan untuk industri kesehatan Rp 70 triliun, bidang kosmetik Rp 56 triliun, haji dan umrah Rp 56 triliun, serta bisnis syariah yang diantaranya adalah investasi memiliki potensi Rp 1.803 triliun.

"Untuk semua jenis usaha ini, Bank Syariah Indonesia berusaha untuk menyalurkan pembiayaan dan bagaimana kita mengkolaborasikan antara UKM, juga berusaha untuk membuat mereka menjadi besar dan lebih besar. Selain itu, kita menjalin kerjasama dengan semua pemangku kepentingan industri halal. Saya pikir kita terus mencari cara bagaimana BSI membuat industri halal Indonesia menjadi nomor satu di dunia," jelasnya.

Menurut Anton, BSI juga mebangun berbagai kolaborasi untuk menciptakan industri halal di Indonesia yang disebut islamic ecosystem. Dimulai kerja sama dengan lebih dari 267.000 masjid dan 324 musala, sektor keuangan syariah (BMT, BPRS, BUS, UUS, fintech, dan asuransi), serta berbagai lembaga pendidikan dan pondok pesantren.

Kemudian, juga menjalin kerja sama dengan organisasi seperti Muhammadiyah yang memiliki 50 juta anggota dan Nahdlatul Ulama (NU) dengan 90 juta anggota, termasuk ekosistemnya seperti pondok pesantren dan perusahaan terkait. "Ini punya potensi yang baik untuk perekonomian, baik itu terkait produk konsumtif maupun produktif," imbuh Anton.

Selanjutnya, kerja sama menyangkut haji dan umrah yang dijalin bersama 906 biro perjalanan dan 1.559 KBIH, berikut peluang melayani 1 juta jemaah umrah per tahun dan 220.000 jemaah haji per tahun. Peluang besar juga datang dari penghimpunan dana Ziswaf, yang diantaranya mendorong potensi zakat Rp 327 triliun dari realisasi saat ini Rp 71,4 triliun, serta potensi wakaf yang Rp 180 triliun yang baru terealisasi Rp 820 miliar.

Terakhir adalah berbagai kebutuhan dan layanan finansial di sekitar 500 rumah sakit islam. Serta tentunya potensi dari 7.536 produk halal yang sebagian besarnya yakni 19.071 produk masih dalam proses sertifikasi halal.

Di sisi lain, BSI juga disorot untuk mengoptimalisasi pelayanan dan peluang bisnis di wilayah Aceh. Anton menerangkan, dalam hal ini pihaknya bahkan memiliki project management office (PMO) khusus agar dapat memberi perhatian dan dukungan lebih untuk wilayah Aceh.

Karyawan melayani nasabah yang tengah melakukan transaksi di outlet PT Bank Syariah Indonesia KC Jakarta Barat, Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (4/2/2021).

"BSI itu didukung oleh sekitar 2.000 kantor cabang dan mencakup 30% mesin ATM di Aceh. Saya pikir sudah cukup untuk membuat pelayanan lebih baik di Aceh dalam situasi saat ini," kata dia.

Terlepas dari hal itu, BSI juga diharapkan bisa menyalurkan KUR dengan porsi yang mumpuni di wilayah tersebut. Anton bilang, KUR menjadi suatu yang tidak sepenuhnya dalam kendali bank. Tapi pihaknya berkomitmen penuh terhadap menyalurkan KUR di Aceh.

"Kita sendiri juga berharap punya porsi yang lebih besar terhadap KUR. Saya berharap 2023 porsi yang lebih besar didapat BSI terkait KUR dan bisa memberikan porsi lebih ke wilayah Aceh. Karena seperti yang diketahui di Aceh, satu-satunya penyalur KUR adalah BSI. Kita akan terus memperbaiki dan memberi pelayanan yang lebih baik untuk wilayah Aceh," jelasnya.

Adapun hingga kuartal I 2022, BSI mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 177,51 triliun atau tumbuh 11,59% (yoy). Dengan komposisi yakni pembiayaan konsumer yang tumbuh 20,73%, pembiayaan mikro tumbuh 22,42% dan gadai emas tumbuh 8,96%. Capaian tersebut didukung rasio non-performing financing (NPF) net sebesar 0,90%.

Pada saat sama, BSI telah menyalurkan pembiayaan keuangan berkelanjutan sebesar Rp 48,25 triliun atau berkontribusi sekitar 27% dari total portofolio pembiayaan. Sementara itu, untuk perolehan dana pihak ketiga mencapai Rp 238,53 triliun tumbuh sekitar 16,07% (yoy).



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI