Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BI Proyeksi the Fed Naikkan Suku Bunga 250 Bps pada 2022

Rabu, 25 Mei 2022 | 05:10 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / WBP
Ilustrasi Bank Indonesia.

Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (the Fed) akan meningkatkan suku bunga hingga 2,75 % pada akhir 2022. Pengetatan kebijakan the Fed yang lebih agresif untuk menormalkan lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang saat ini sudah mencapai 8,3%.

"Pada tahun ini kenaikan suku bunga Fed secara keseluruhan akan mencapai 250 basis poin," ujar Perry dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2022 di Jakarta, Selasa (24/5/2022).

Tak hanya tahun ini, Perry memproyeksi the Fed masih akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan sebanyak dua kali, sehingga pada akhir tahun depan suku bunga Fed akan mencapai 3,25%.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini suku bunga the Fed sudah dinaikkan sebanyak dua kali menjadi 0,75% sampai 1%.

Kenaikan suku bunga the Fed yang lebih agresif untuk merespons tingginya angka inflasi yang menyebabkan naiknya imbal hasil atau yield obligasi AS yang lebih tinggi dari posisi saat ini di level 2,8%. Dampaknya, yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun di Indonesia saat ini di level 7,2%.

“Untuk tahun ini, yield UST untuk 10 tahun bisa capai 3,45% hingga 3,5% sebetulnya ini enggak jauh berbeda dengan perkiraan kami seblumnya mencapai 3% hingga 3,25%. Ini tentu saja perkiraan akan terus kami lakukan assesment waktu ke waktu. Bagaimana ketegangan politik berlanjut dampak ke kenaikan harga dunia inflasi dunia dan repsons percepatan normalisasi kebijakan moneter dan the Fed dan berbagai negara,” tegasnya.

Meski yield SBN tenor 10 tahun naik, tetapi Perry menegaskan bahwa transmisi kenaikan yield UST tidak selalu ditransmisikan dalam bentuk kenaikan yield SBN pemerintah tenor 10 tahun atau tidak selalu one to one berlangsung linier.

Apalagi saat ini pasar obligasi cukup stabil karena kepemilikan asing di SBN terus menurun drastis menyebabkan tidak mudah terguncang oleh volatilitas di global.

“Porsi kepemilikan asing di SBN telah separuh dari sebelum Covid-19 masih 40%, sekarang 20%, sehingga pengaruhi meski yield UST naik jadi 3,4,5% belum tentu pengaruh kuat ke SBN. Pengaruh ke SBN akan dipengaruhi bagaimana pemerintah lakukan lelang dan likuiditas perbankan serta preferensi perbankan maupun investor dalam dan luar negeri melakukan pembelian SBN,” pungkasnya.

Selain mekanisme lelang, BI juga membeli SBN pemerintah sebagai komitmen burden sharing di mana Bi menjadi stand by yang dipergunakan untuk memenuhi pendanaan pada pos kesehatan manusia selama pandemi Covid-19



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI