Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

S&P 500 Jatuh, Nasdaq Kehilangan 2% Terseret Saham Teknologi

Rabu, 25 Mei 2022 | 06:12 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street.

New York, Beritasatu.com - Bursa AS Wall Street jatuh pada Selasa (24/5/2022) karena investor khawatir terjadi resesi ekonomi yang ditandai anjloknya imbal hasil (yield) obligasi dan turunya Nasdaq.

Nasdaq Composite jatuh karena suramnya proyeksi dari perusahaan media sosial, Snap sehingga menyebar ke saham teknologi lainnya. Sementara Dow Jones Industrial Average rally naik.

Nasdaq yang dipadati saham teknologi turun 2,4% menjadi 11.264,45. S&P 500 melemah 0,8% jadi 3.941,48. Sementara Dow Jones bertambah 48,4 poin atau 0,2% menjadi 31.928,62 setelah sempat turun 1,6% di awal sesi.

Indeks saham bluechip Dow mendapat dorongan dari UnitedHealth Group, yang melonjak 1,1% menjelang penutupan. Komponen Dow, McDonald's, Verizon, dan IBM juga menguat lebih 2%.

Imbal hasil obligasi pemerinah Amerika Serikat (AS) atau Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 2,73% pada Selasa karena investor khawatir resesi, setelah melampaui 3% pada awal tahun ini.

Saham perusahaan teknologi memimpin pelemahan karena investor mengkhawatirkan perlambatan iklan digital menyusul peringatan dari perusahaan media sosial Snap. Saham Snap anjlok 43% setelah perusahaan mengatakan bersiap kehilangan target pendapatan dan pendapatan pada kuartal ini dan akan mengurangi perekrutan.

Meta Platforms mengikuti Snap, jatuh 7,6%. Adapun Alphabet, induk Google turun hampir 5% dan mencapai level terendah baru dalam 52 minggu.

"Penyebab utamanya adalah peringatan Snap dari Senin malam," tulis Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, dalam sebuah catatan.

"Teknologi masih mendominasi pasar, baik secara numerik (menjadi bobot terbesar) dan psikologis, meskipun likuidasi agresif dalam beberapa bulan terakhir, orang masih banyak memiliki," tambahnya.

Amazon juga jatuh 3,2% ke level terendah baru dalam 52 minggu dan Apple hilang 1,9%.

“Kami menilail semua platform iklan online merasakan beberapa dampak dari berkurangnya konsumen yang signifikan,” tulis analis Morgan Stanley setelah peringatan Snap. “Iklan adalah siklus.”

Manajer dana lindung nilai Bill Ackman mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menjinakkannya inflasi yang tidak terkendali adalah menaikkan suku bunga Federal Reserve secara agresif. "Investor pada akhirnya akan menyukai langkah-langkah tersebut untuk menghindari keruntuhan ekonomi dan permintaan," kata dia.

Seiring penurunan saham teknologi, aksi jual juga dipicu pelemahan sektor ritel menyusul pendapatan dan prospek lemah dari Walmart minggu lalu.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: CNBC


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI