Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

WEF 2022, Dirut BRI: Tingkatkan Inklusi Keuangan, Hindari Pinjaman yang Kaku

Kamis, 26 Mei 2022 | 10:40 WIB
Oleh : Nasori / FMB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso di World Economic Forum 2022 di Davos, Swiss, Rabu 25 Mei 2022.

Jakarta, Beritasatu.com – Pada sebuah diskusi dalam rangkaian kegiatan World Economic Forum (WEF) 2022, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso mengatakan, di antara karakter yang dimiliki oleh nasabah BRI adalah tidak nyaman dengan produk pinjaman konvensional perbankan yang memiliki term & condition kaku (rigid). Ini dikarenakan, para nasabah tersebut tidak mempunyai likuiditas (cashflow) yang stabil.

Hal itu terungkap dari survei yang dilakukan perseroan pada 2020. “Melalui survei yang dilakukan pada tahun 2020 kami telah mempelajari karakteristik nasabah,” ujar Sunarso saat membagikan pengalamannya mengikuti kegiatan World Economic Forum (WEF) 2022 yang diselenggarakan di Davos, Swiss, Minggu (22/5/2022) hingga Kamis (26/5/2022).

Fakta lain yang terungkap dari survei tersebut adalah, nasabah UMKM, terutama mikro dan ultramikro mempunyai pengetahuan yang terbatas mengenai produk-produk keuangan. Terungkap pula bahwa nasabah membutuhkan lembaga keuangan terpercaya dengan karakteristik lokal. “Proximity atau kedekatan jarak dan trust merupakan pertimbangan utama nasabah dalam mengakses layanan keuangan perbankan,” ucap Sunarso.

Untuk itu, menurut dia, BRI terus melakukan inovasi guna menjawab tantangan tersebut dan memastikan masyarakat memiliki peluang yang sama untuk mengakses layanan keuangan yang lengkap dan sustainable sehingga dapat mendukung pengembangan bisnis dan peningkatan kualitas hidup.

Inovasi itu, papar Sunarso, di antaranya dilakukan melalui BRILink Agent. Ini merupakan suatu layanan branchless banking yang dilakukan agen bank melalui channel digital yang dimaksudkan agar nasabah meyakini keamanan transaksi yang dilakukan. Penggunaan hybrid channel, kombinasi physical dan digital ini, secara tidak langsung akan memberikan edukasi awal tentang kemudahan dan keamanan layanan keuangan secara digital kepada nasabah.

“Saat ini, jumlah BRILink Agent telah mencapai lebih dari 530.000 agen dan tersebar di lebih dari 53.000 desa di Indonesia,” ungkap Sunarso.

Inovasi lain dilakukan dengan pengembangan peran digital advisor untuk dapat memberikan edukasi kepada nasabah mengenai produk keuangan digital serta mendidik nasabah agar terhindar dari kejahatan digital lainnya.

Pengembangan ekosistem bisnis secara digital, sehingga transaksi keuangan harian nasabah terus-menerus dilakukan secara digital sehingga menciptakan kebutuhan nasabah akan layanan keuangan digital yang akan menjamin keberlanjutan dari proses keuangan digital tersebut ke depan.

Menarik Perhatian
Menurut dia, inklusi keuangan termasuk isu yang menarik perhatian para peserta WEF. Pasalnya, inklusi keuangan yang melibatkan kontribusi dari banyak pelaku usaha (inclusivity) dibandingkan yang berfokus pada pelaku usaha tertentu menjadi faktor penting untuk pemerataan ekonomi dan kesejahteraan (prosperity).

Namun demikian, lanjut Sunarso, pandemi Covid-19 memberikan pelajaran bagi pihak bahwa selain inklusi keuangan, hal kritical lain yang perlu ditindak-lanjuti adalah digitalisasi. Dan isu ini sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia. “Inklusi keuangan di Indonesia tercatat sebesar 76% dan pemerintah menargetkan menjadi 90% di 2024. Namun financial literacy index di Indonesia masih relatif rendah di bawah 40%,” kata dia.

Semua itu telah disampaikan disampaikan BRI dalam Forum Annual Meeting WEF 2022, sebagai bagian dari kontribusi pemikiran BRI dalam spirit promoting global prosperity



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI