SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Ini Lima Hal Pentingnya Beralih dari TV Analog ke Digital

Minggu, 3 Juli 2022 | 17:15 WIB
Oleh : Herman / WBP
Staf Khusus Menkominfo Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Rosarita Niken Widiastuti dalam acara Sosialisasi ASO dan Ceremony Penyerahan Bantuan Set-Top-Box yang disiarkan secara daring, 3 Juli 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Penghentian tetap siaran TV analog atau analog switch off (ASO) tahap pertama tengah dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, pelaksanan ASO terbagi dalam tiga tahap. Tahap pertama pada 30 April 2022 di 56 wilayah layanan siaran di 166 kabupaten dan kota. Tahap kedua dilaksanakan paling lambat 25 Agustus 2022 di 31 wilayah layanan siaran di 110 kabupaten dan kota, dan tahap ketiga pada 2 November 2022 di 25 wilayah layanan siaran di 65 kabupaten dan kota.

Staf Khusus Menkominfo Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Rosarita Niken Widiastuti menyampaikan, ada lima urgensi digitalisasi penyiaran perlu dilakukan. Pertama, untuk kepentingan publik agar masyarakat memperoleh penyiaran yang lebih berkualitas.

"Dengan beralih ke TV digital, masyarakat akan mendapatkan siaran yang lebih bagus, lebih bersih gambarnya dan lebih jernih suaranya. Dengan set-top-box, banyak laporan dari masyarakat yang tadinya hanya dapat enam program, kini bisa mendapatkan alternatif siaran lebih dari 20 channel," ungkap Niken dalam acara Sosialisasi ASO dan Ceremony Penyerahan Bantuan Set-Top-Box yang disiarkan secara daring, Minggu (3/7/2022).

Urgensi kedua adalah efisiensi penggunaan frekuensi guna mendorong ekonomi digital dan industri di era 4.0. Apalagi frekuensi merupakan sumber daya yang sangat terbatas.

"Frekuensi itu menghubungkan antara misalnya perangkat handphone dengan perangkat yang lain. Tidak kelihatan, tetapi ada. Kalau TV analog, satu TV itu menggunakan satu frekuensi. Sedangkan kalau TV digital, satu frekuensi bisa digunakan antara 6-12 TV, jadi sangat irit sekali," kata Niken.

Urgensi ketiga adalah penataan ekonomi guna mendorong ekonomi digital dan industri di era 4.0. "Setelah dilakukan penataan ulang, tersisa frekuensi-frekuensi yang tadinya untuk broadcasting atau penyiaran, digunakan untuk akses internet, untuk 5G. Kalau akses internet tidak ditambah frekuensinya, maka makin banyak daerah-daerah yang blank spot, tidak bisa menangkap sinyal internet," kata Niken.

Urgensi keempat adalah tersedia digital dividen untuk alokasi frekuensi broadband 5G yang akan digunakan. Selanjutnya yang menjadi urgensi kelima adalah menghindari sengketa dengan negara-negara tetangga yang disebabkan intervensi spektrum frekuensi di wilayah-wilayah perbatasan.

"Kalau TV analog biasa, di daerah perbatasan seperti Entikong, justru siaran yang ditangkap kebanyakan siaran dari Malaysia. Nanti kalau TV-nya digital, TV kita tidak bisa ke negara tetangga, demikian juga sebaliknya," kata Niken.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI