Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kearifan Lokal Bisa Diandalkan untuk Atasi Krisis Iklim

Kamis, 11 Agustus 2022 | 20:23 WIB
Oleh : Herman / FER
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek selaku Koordinator Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G-20 Hilmar Farid dan Tim Juru Bicara G20 Maudy Ayunda dalam acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), 11 Agustus 2022.

Jakarta, Beritasatu.com – Juru Bicara G-20 Maudy Ayunda menegaskan pentingnya isu kebudayaan dibahas dalam ajang G-20, sebab ada banyak local wisdom dari berbagai negara yang bisa didiskusikan dan menjadi kekayaan bersama dalam menghadapi krisis iklim. Selain itu, Maudy juga mengajak anak muda untuk mengenal lebih banyak lagi kearifan lokal di Indonesia.

"Generasi muda sekarang sangat awareness dengan krisis iklim. Tetapi bagaimana menghubungkan itu dengan aspek kebudayaan. Makanya saya mengajak anak muda untuk menggunakan keingintahuan kita mengenal lebih dalam lagi kearifan lokal ini karena ada banyak kearifan lokal yang bisa diandalkan untuk mengatasi perubahan iklim,” kata Maudy Ayunda dalam diskusi Kebudayaan untuk Bumi Lestari yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), Kamis (11/8/2022).

Maudy menegaskan, salah satu cara yang paling tepat untuk mengatasi krisis iklim adalah melalui kebudayaan. Ada banyak kebudayaan masa lalu yang bisa dipelajari dan sampai sekarang masih hidup. "Seperti sistem irigasi subak di Bali, serta Nyabuk Gunung yang merupakan praktik bercocok tanam yang sebenarnya untuk konservasi lahan," tegasnya.

Kendalanya saat ini menurut Maudy adalah bagaimana menghubungkan kebudayaan atau kearifan lokal dengan anak muda. Saat ini generasi milenial sebetulnya sudah sangat sadar dengan ancaman krisis iklim. Tinggal bagaimana menghubungkannya dengan kearifan lokal.

“Mungkin dengan upaya kelembagaan seperti adanya sanggar-sanggar anak muda bisa masuk ke kearifan lokal itu. Sebab, apabila masuk dengan kebudayaan yang saklek, tidak akan bisa kena, makanya harus dieksplorasi,” tuturnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek selaku Koordinator Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan G-20 Hilmar Farid dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan, kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dalam budaya masyarakat Indonesia sangat tinggi. Kesadaran itu terlihat dalam berbagai tradisi dan filosofi hidup sehari-hari.

"Kurang lebih filosofinya seperti ini, mengambil itu secukupnya. Dengan begitu kita bisa menjaga kelestarian, tapi orang tidak kurang makan," kata Hilmar.

Praktik seperti ini menurutnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya. "Bahkan kita lihat, bukan hanya di pedesaan saja, tapi juga di perkotaan dengan menerapkan sistem pertanian urban farming dan sebagainya," kata Hilmar.

Karena itu, menangkap moment Indonesia Presidensi G-20, Kemenristekdikti mengambil inisiatif berupaya melakukan langkah konsolidasi melalui Senior Official Meetings (SOM) G-20 Culture. Tujuannya untuk menciptakan platform agar praktik tersebut bisa mendapat dukungan secara global.

"Kemudian persoalan kedua yang muncul dalam SOM G-20 ini harus ada skema pembiayaan krisis iklim. Sehingga apa, praktek-praktek yang bagus itu bisa dipertemukan dalam satu skema pendanaan. Sehingga, dia kemudian betul-betul menjadi gerakan yang solid dalam mengatasi krisis iklim," ujarnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI