Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

ESDM: Energi Baru Terbarukan Suatu Keharusan, bukan Pilihan

Jumat, 12 Agustus 2022 | 06:05 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Seminar bertajuk "Kemerdekaan Energi di Tengah Krisis Global", yang diselelenggarakan Indopos.co.id dan Indoposco, di Aston Kartika Grogol Hotel & Conference, Jakarta Barat, Kamis 11 Agustus 2022.

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) bukan suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan di tengah upaya menekan nol emisi karbon dan mewujudkan bumi yang lebih sehat.

"Energi baru terbarukan (EBT) menurut saya bukan suatu pilihan. Bahwa ini sudah tidak ada pilihannya. Kita pilihannya hanya itu," ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam seminar bertajuk "Kemerdekaan Energi di Tengah Krisis Global", di Aston Kartika Grogol Hotel & Conference, Jakarta yang digelar PT Indonesia Digital Pos (Indopos) Kamis (11/8/2022).

Menurut Dadan, energi fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam digunakan untuk mempercepat net zero emission (nol emisi karbon). "Angkanya ini di tahun 2060, kalau bisa lebih cepat dengan dukuungan dari internasional," tuturnya.

Meski demikian kata Dadan pemerintah tetap mendorong produksi migas, tetapi pemanfaatanya bergeser menjadi ke arah sebagai bahan baku material.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto menilai bahan bakar fosil dianggap masalah serius karena menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan di bumi. Untuk itu, Indonesia harus segera masuk ke EBT karena memiliki potensi cukup besar. penguasaan teknologi. “Fosil yang terdiri dari minyak, gas, dan batu bara keberadaanya sangat terbatas,” tuturnya.

Data Kementerian ESDM mencatat pada 2021 cadangan minyak Indonesia sebesar 3,95 miliar barel. Perinciannya, 2,25 miliar cadangan terbukti dan 1,7 miliar cadangan potensial. “Cadangan seperti ini tinggal 10 tahun saja,” ujar Sugeng.

Sementara pembakaran batu bara melepaskan sulfur dalam bentuk gas belerang dioksidan (SO2 dan menghasilkan partikel karbon hitam dalam jumlah banyak. Itu sebabnya batu bara bahan bakar paling kotor. Pembakaran batu bara selama 1 abad terakhir telah menyebabkan bumi menjadi lebih panas. Kondisi tersebut membuat perubahan iklim dan terjadi pemanasan global.

Pengamat Energi Komaidi Notonegoro mempertanyakan komitmen pemerintah melaksanakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan. Sebab, pembahasan hal tersebut bukan baru kali pertama digaungkan.

Senior Vice President Research Technology and Innovation PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan, kontribusi Pertamina menambah bauran energi hijau untuk listrik yang memanfaatkan panas bumi sangat potensial dari 23,76 gigawatt (GW). "Saat ini kapasitas terpasang di Pertamina Geothermal Energy (PGE) 672 megawatt, kami sedang berusaha mengejarnya lebih 1.100 megawatt," beber Oki.

Subkoordinator Pengatur Ketersediaan BBM BPH Migas Christian Tanuwijaya mengemukakan, BPH Migas secara konsisten sejak 2017 mengawal pelaksanaan pembangunan penyalur BBM 1 Harga agar target tersebut dapat tercapai.

Direktur Utama PT Indonesia Digital Pos Syarif Hidayatullah mengatakan, diskusi publik diharaopkan memunculkan ide dan terobosan berguna bagi para stakeholder energi nasional.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI










SPORT | 25 September 2022