Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Komoditas Pangan Didorong Adopsi Strategi Swasembada Beras

Selasa, 16 Agustus 2022 | 05:11 WIB
Oleh : Carlos KY Paath / WBP
Ilustrasi beras.

Jakarta, Beritasatu.com – Komoditas pangan lainnya didorong mengadopsi strategi swasembada beras menyusul Indonesia menerima penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) karena telah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras pada periode 2019-2021. Penghargaan diserahkan Direktur Jenderal IRRI Jean Balie kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (15/8/2022).

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengapresiasi penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan itu adalah buah implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang tidak membolehkan impor pangan selagi masih bisa diproduksi oleh petani di dalam negeri. UU 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani juga menyebut demikian.

“Jadi, karena itulah sejak Presiden Jokowi, dia memang menekankan tidak akan impor beras. Itu saya pikir satu yang harus dihargai komitmen dia itu. Karenanya, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan tidak mau impor beras, tidak bisa. Harusnya di komoditas yang lain (adopsi strategi swasembada beras), termasuk daging, untuk semuanya (komoditas). Karena sesungguhnya Indonesia bisa untuk kacang kedelai, bahkan juga terigu,” ujarnya, Senin (15/8/2022).

Swasembada beras juga didukung oleh pembangunan banyak irigasi pertanian oleh pemerintah. Meski demikian, Henry mengungkapkan masih banyak yang harus dilakukan pemerintah terkait beras. “Pekerjaan rumahnya begini, petani yang produsen beras itu kehidupan kesejahteraannya belum membaik,” katanya.

Henry menyarankan agar program reforma agraria menyasar petani penanam padi yang kini dihadapkan pada penyempitan lahan tanam dan kenaikan harga sewa lahan. "Program reforma agraria yang membagikan tanah 9,7 juta hektare itu harusnya menyasar pada petani tanaman padi. Karena itu yang harus ditambah luas lahannya,” tuturnya.

Selain itu, Indonesia baru surplus beras 10 juta ton. Angka itu setara dengan kebutuhan nasional selama 3 bulan. “Karena Indonesia baru surplus 10 juta, itu hanya kebutuhan untuk 3 bulan, enggak sampai satu kali panen. Jadi, sebenarnya kita harus tingkatkan lagi,” tuturnya.

Henry juga mewanti-wanti agar para produsen beras dalam negeri menggunakan benih lokal. Hal itu mesti dilakukan untuk menjamin kedaulatan pangan Indonesia. “Kita harus terus menggunakan benih yang diproduksi oleh petani, pemerintah, dan lembaga-lembaga kita,” tegasnya.

Pemerintah mengklaim, prognosis pangan nasional tahun 2022, khususnya pada komoditas beras, menunjukkan adanya surplus 7,5 juta ton. Hal ini melanjutkan tren positif swasembada beras dengan produksi beras pada tahun 2020 sebesar 31,4 juta ton dan tahun 2021 sebesar 31,2 juta ton.

Hal tersebut menunjukkan kondisi produksi beras yang relatif stabil dari tahun ke tahun berdampak positif terhadap terjaganya harga beras nasional di tingkat konsumen. “Swasembada beras yang telah dicapai tentunya masih dihadapkan oleh berbagai tantangan baik dari sisi hulu sampai ke hilir. Untuk itu, pemerintah terus meningkatkan berbagai upaya perbaikan,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso mengingatkan pemerintah untuk terus memperhatikan kesejahteraan petani. Bagi petani dengan lahan kecil, bercocok tanam padi malah bikin mereka rugi. Berbagai insentif dan bantuan macam pupuk subsidi, yang diberikan pemerintah tidak banyak berpengaruh pada kehidupan petani. “Usaha tani sekarang rugi, (insentif) tidak banyak membantu. Ada masalah yang krusial disitu. Yang harus kita atasi bersama,” ucap Andreas.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI