Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Pertolongan Pertama Serangan Jantung, Hindari Risiko Kematian

Senin, 27 September 2021 | 20:41 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD
Dokter Muslim Tadjuddin Chalid.

Jakarta, Beritasatu.comSerangan jantung sering membutuhkan penanganan cepat. Tidak boleh terlambat dalam memberi tindakan karena dapat membahayakan pasien.

“Pertolongan pertama sangat menentukan ketika terjadi serangan jantung. Yang paling penting dalam menangani tidak panik,” kata dr Muslim Tadjuddin Chalid, SPAN-KAKV.

Muslim mengatakan itu dalam pelatihan kecakapan “Penanganan Gawat Darurat di Lingkungan Tempat Tinggal'” secara daring Sabtu (25/9/2021).

Acara itu diselenggarakan Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) DKI Jakarta.

Muslim mengatakan, seseorang mengalami ngeri angina yang sebenarnya mengalami sumbatan pembuluh darah, lalu tidak sadarkan diri. “Ini adalah timeline berhentinya jantung seseorang, dalam 4-5 menit, otak mulai mengalami kerusakan, dan lebih dari itu sekitar 8-10 menit, oksigen tidak masuk ke otak,” kata Muslim.

Ia mengatakan, berdasarkan pedoman CPR & ECC 2020, pertolongan pertama yang dilakukan individu awam hanya sekitar 40 persen dan yang menerapkan Automatic Emergency Device (AED) berupa defibrillator sebelum kedatangan EMS hanya sekitar 12 persen. “Seharusnya bisa mencapai seratus persen,” katanya.

Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebenarnya adalah peran dari semua orang. Sebelum memakai defibrillator, setidaknya melakukan penyelamatan awal dengan mencari tempat yang lebih aman untuk merebahkan pasien, lalu mengecek respons sembari mencari bantuan paramedis.

Selanjutnya, cek sirkulasi nadi karotis dengan dua jari (meraba trakea) geser kanan dan kiri tekan selama lima detik. Jika tidak terasa, maka harus melakukan RJP/CPR tiga puluh kali kompresi kecepatan 100-120 kali/menit.

Lokasi penekanan atau kompresi (CPR), kata Muslim, pada bagian dada sepertiga bawah sternum. "Hal ini berguna untuk meresusitasi kerja jantung yang gagal sehingga oksigen bisa tetap mengalir," katanya.

Istilah lainnya adalah airway yakni membuka jalan napas atau udara dan proses hyperventilate atau memakai CRP Barrier (ambu). Sehingga pasien atau korban selamat dari risiko kematian.

Pada masa pandemi ini, CPR tidak diperbolehkan melakukan proses airway atau hyperventilate, cukup hanya CPR tangan. "Jangan lupa melindungi diri dengan masker baik penolong maupun korban," kata Muslim.

Sementara jika menangani korban tersedak, Muslim mengatakan, penanganannya dengan menepuk punggung (back blow) dan abdominal thrust, bila korban tidak mampu batuk lebih kuat dan melakukan tindakan RJP lebih lanjut bila tidak sadar.

"Khusus untuk anak kecil dan bayi, masih boleh melakukan proses airway saat tindakan penyelamatan," kata Muslim.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA


KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

KESEHATAN | 18 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Kronologi Sanksi WADA yang Berdampak Pahit buat Tim Thomas Indonesia

#2
Insiden di Piala Thomas, Menpora Minta Maaf dan Siap Seret ke Jalur Hukum

#3
Merah Putih Tak Berkibar di Piala Thomas, LADI Minta Maaf

#4
2 Oknum Polisi Didakwa Menganiaya dan Membunuh Anggota FPI di KM 50 Tol Japek

#5
Cuaca Ekstrem di Kota Bogor, 4 Mobil Tertimpa Pohon

#6
Insiden di Piala Thomas, LADI Menolak Disalahkan Sepenuhnya

#7
Pasien Kembali Naik, Tempat Tidur Wisma Atlet Kemayoran Terisi 215 Orang

#8
PAN Kepincut Usung Ganjar di Pilpres 2024

#9
Tidak Kabur, Rachel Vennya Mengaku Tak Jalani Karantina

#10
Bumoon.io Dorong Kepedulian Lingkungan lewat Token Kripto

TERKINI


MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

DUNIA | 19 Oktober 2021

BERITA GRAFIK | 19 Oktober 2021

EKONOMI | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

EKONOMI | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

EKONOMI | 19 Oktober 2021