Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Tidak Terlihat, Ini Cara Penularan Demam Tifoid Alias Tipes

Rabu, 8 Desember 2021 | 07:27 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD
Ilustrasi pengolahan makanan.

Jakarta, Beritasatu.com - Prevalensi demam tifoid atau yang lazim dikenal sebagai tipes di Indonesia yang cukup tinggi menyebabkan penyakit tersebut masih tergolong penyakit endemik di Indonesia. Sering dianggap penyakit yang disebabkan oleh kelelahan karena aktivitas padat, faktanya demam tifoid disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi.

Baca Juga: Buntut Salmonella, Keamanan Makanan Prancis Diragukan

Advertisement

Persoalan demam tifoid ini pernah dipaparkan Sanofi Pasteur Indonesia pada 11 November 2021 lalu, dalam rangka menyambut peringatan Hari Kesehatan Nasional melalui kampanye #SantapAman.

Program yang dihadiri oleh dokter spesialis penyakit dalam, Suzy Maria serta chef dan pecinta kuliner William Gozali yang akrab disapa Willgoz ini, bertujuan untuk mensosialisasikan bahwa seseorang bisa menderita penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti penyakit tifoid, sekaligus bagaimana cara pencegahannya.

Penularan
Terdapat banyak cara mengapa seseorang bisa tertular bakteri bakteri Salmonella Typhi. Pertama, melalui risiko dari orang yang menyiapkan makanan. Seorang koki atau chef bisa menularkan penyakit demam tifoid melalui makanan yang disiapkan jika ia tidak bisa menjaga kebersihan tangannya terutama setelah menyentuh toilet atau permukaan benda lainnya yang telah terkontaminasi oleh feses orang pengidap demam tifoid.

Tidak hanya itu, pengolahan makanan yang salah seperti menggunakan pisau yang sama untuk memotong sayur dan daging serta mencuci bahan makanan dengan menggunakan air yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi juga bisa meningkatkan risiko seseorang tertular penyakit demam tifoid.

Lalu, penularan bisa terjadi saat kontak langsung dengan pembawa bakteri Salmonella Typhi. Seseorang yang menderita demam tifoid atau yang tidak menderita demam tifoid bisa saja memiliki bakteri Salmonella Typhi di tangannya tanpa ia ketahui. Hal tersebut bisa disebabkan karena menyentuh benda-benda yang telah terkontaminasi bakteri tersebut hingga tidak mencuci tangan dengan bersih setelah dari toilet.

Penularan demam tifoid bisa terjadi ketika kita melakukan kontak langsung dengan orang tersebut. Misalnya saja ketika berjabat tangan dengan mereka, bakteri jelas bisa berpindah ke tangan kita, dan jika kita tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, bakteri Salmonella Typhi bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

Penularan penyakit juga dapat terjadi saat berbagi makanan atau jika orang tersebut menyentuh makanan yang akan dimakan bersama tanpa membersihkan tangannya terlebih dahulu.

Mengonsumsi makanan atau air yang kurang matang, juga bisa meningkatkan risiko tertular bakteri Salmonella Typhi karena makanan atau air yang dimasak kurang matang tidak cukup untuk membunuh bakteri yang ada di makanan dan air tersebut.

Penyimpanan makanan yang tidak higienis, turut menjadi faktor penularan demam tifoid. Tidak semua makanan disarankan disimpan di suhu kamar, misalnya seperti daging. Jika dibiarkan terlalu lama di suhu kamar, bakteri bisa berkembang biak dengan cepat. Selain itu, mencampur bahan makanan daging dan sayur di dalam lemari pendingin juga bisa meningkatkan penularan bakteri.

Pencegahan
Chef dan pecinta kuliner, William Gozali yang akrab disapa Willgoz, yang hadir dalam acara kampanye #SantapAman menuturkan bahwa seorang yang bertugas menyiapkan makanan hendaknya selalu memastikan setiap tahapan proses pembuatan makanan atau minuman tersebut tetap mengutamakan higienitas.

Selain itu Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI. di kesempatan yang sama, juga menambahkan bahwa selain menjaga sanitasi dan higienitas pribadi, dan menghindari kontak dengan penderita, seseorang bisa melakukan vaksinasi tifoid sebagai langkah optimal untuk mencegah demam tifoid dan agar bisa tetap #SantapAman menikmati makanan favorit.

“Vaksinasi dapat dilakukan mulai usia dua tahun ke atas dan untuk mendapatkan perlindungan maksimal, seseorang direkomendasikan mendapat vaksinasi tifoid setiap tiga tahun sekali,” ujar dr Suzy melalui keterangan, Rabu (8/12/2021).

Kampanye #SantapAman dilakukan melalui edukasi mengenai pentingnya perlindungan diri terhadap penyakit tifoid di media dan media sosial @KenapaHarusVaksin. Vaksinasi tifoid dapat dilakukan di semua fasilitas kesehatan. Konsultasikan kepada dokter Anda untuk mendapatkan vaksinasi tifoid.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA


KESEHATAN | 29 Januari 2022

KESEHATAN | 29 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 26 November 2020

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

KESEHATAN | 28 Januari 2022

BERITA TERPOPULER


#1
Polda Jabar Tangkap Ketua Umum GMBI

#2
Catat! Robot Trading DNA Pro Dinyatakan Ilegal

#3
Jelang Penutupan, Ini Daftar Transfer Pemain Liga Inggris

#4
Hikmahanto: Singapura Tak Ikhlas Serahkan Kendali Udara ke Indonesia

#5
Tuan Rumah Piala Dunia Qatar Masukkan Indonesia dalam Daftar Negara Aman

#6
Pengemis Elite di Sampit, Punya Mobil dan Motor Baru

#7
Kawal MotoGP 2022, TNI AL Turunkan Lima Kapal Perang

#8
Kemenkes Terbitkan Sertifikat Vaksin Standar WHO, Ini Cara Mengaksesnya

#9
PP PBSI Panggil 88 Atlet Masuk Pelatnas Cipayung

#10
Sehari Ditemukan 400 Kasus Baru Positif Covid-19 di Depok

TERKINI


DUNIA | 29 Januari 2022

NASIONAL | 29 Januari 2022

EKONOMI | 29 Januari 2022

EKONOMI | 29 Januari 2022

OLAHRAGA | 29 Januari 2022

NASIONAL | 29 Januari 2022

DUNIA | 29 Januari 2022

MEGAPOLITAN | 29 Januari 2022

NASIONAL | 29 Januari 2022

EKONOMI | 29 Januari 2022