Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Jangan Remehkan Kebas, Bisa Jadi Tanda Kadar Gula Tinggi

Jumat, 7 Januari 2022 | 18:36 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) dan P&G Health Indonesia mengadakan webinar bertajuk "Diabetisi Fit di Era Pandemi" belum lama ini.

Jakarta, Beritasatu.comKebas dan kesemutan merupakan salah satu gejala umum neuropati diabetik atau gangguan saraf yang disebabkan penyakit diabetes. Meski demikian, kondisi ini kerap tidak disadari sejak awal karena gejalanya dianggap remeh. Untuk itu jangan anggap enteng gejala itu karena bisa jadi merupakan tanda kadar gula tinggi.

Dokter konsultan endokrinologi, metabolik dan diabetes Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan Sp.PD-KEMD memaparkan, neuropati adalah kondisi gangguan saraf tepi dengan keluhan tertentu. Penyebabnya bisa beragam. Namun yang paling banyak adalah karena kadar gula tinggi atau neuropati diabetik. "Gejalanya mulai kebas, kesemutan, mati rasa, nyeri, rasa tebal, rasa berpasir, rasa dingin, panas, terbakar, hingga yang paling berbahaya adalah hilangnya sensitivitas proteksi sehingga tidak bisa merasakan ketika terluka,” kata Tri Juli daam webinar bertajuk "Diabetisi Fit di Era Pandemi" yang digelar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) dan P&G Health Indonesia seperti dikutip dalam keterangan yang diterima Jumat (7/1/2022).

Tri Juli menjelaskan kebas dan kesemutan bisa jadi merupakan gejala awal kadar gula tingi dan tidak boleh diabaikan. "Jika berulang, sebaiknya segera periksa ke dokter, karena mungkin saja pasien tidak sadar sudah menderita diabetes dan mengalami komplikasi," kata dia.

Dia mengatakan deteksi dini akan membantu pasien mendapatkan penanganan sejak awal, sebelum terjadi kerusakan saraf. "Salah satu cara mengurangi gejala neuropati adalah dengan melakukan latihan fisik atau berolahraga, serta mengkonsumsi vitamin untuk saraf jika perlu,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama Spesialis Kedokteran Olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) Dr. Ade Jeanne Domina L. Tobing, Sp.KO, menjelaskan aktivitas sedentary seperti duduk berjam-jam dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular/penyakit kurang gerak seperti diabetes melitus, kegemukan, tekanan darah tinggi, osteoporosis termasuk gejala neuropati akibat penyakit.

Ade mengatakan perlu ada keseimbangan antara asupan makanan dengan aktivitas fisik. Salah satu cara mencegah neuropati, melakukan latihan fisik seperti senam Neuromove, yang gerakannya didesain khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf dan meningkatkan fungsi saraf serta otak kanan-kiri, sehingga fungsi kognitif seperti memori dan emosi menjadi lebih baik. "Neuromove juga dapat meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, serta meningkatkan ketahanan jantung, paru, dan peredaran darah,” papar Dr. Ade.

P&G Health secara konsisten melakukan edukasi untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan saraf masyarakat Indonesia melalui berbagai program edukasi berkelanjutan dan berinisiatif bersama Dr. Ade menciptakan senam Neuromove di tahun 2015. Senam ini mengandung gerakan-gerakan dasar senam dan gerakan-gerakan khusus, seperti menyilang batang tubuh, atau koordinasi bola mata. Gerakan senam Neuromove yang berdurasi 30 menit terdiri dari latihan pemanasan, gerakan inti, dan diakiri dengan latihan pendinginan.

“Sebagai bagian dari upaya untuk terus mengedukasi masyarakat terkait gangguan saraf neuropati, dengan gejala kebas dan kesemutan yang seringkali dianggap remeh, P&G Health melalui Neurobion menginisiasi kampanye melalui media sosial. Kami berharap masyarakat akan lebih memahami mengenai gejala ini," ungkap Medical & Technical Affairs Manager P&G Health Indonesia, Dr. Yoska Yasahardja.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI