Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Omicron Disebut Lebih Cepat Menular dari Delta, Nadia: Belum Ada Data Pasti

Senin, 17 Januari 2022 | 18:40 WIB
Oleh : Wilsa Azmalia Putri / WM
Siti Nadia Tarmizi.

Jakarta, Beritasatu.com – Tanggal 16 Januari 2022, genap sebulan kasus Omicron masuk dan menyebar ke Indonesia. Varian baru Covid-19 ini terdeteksi di Indonesia pada 16 Desember 2021, dan dalam tempo sebulan penyebarannya sangat cepat. Per 16 Januari 2022, total kasus konfirmasi Omicron di Indonesia sudah mencapai 748 kasus terdiri dari 569 bersumber dari pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) dan 155 kasus transmisi lokal, serta 24 positif lainnya dalam tahap penyelidikan epidemiologi oleh Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, kasus pertama Omicron terdeteksi di Indonesia, pada Kamis (16/12/2021) yang merupakan pekerja pembersih berinisial N di Rumah Sakit Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Semenjak itu, baik dari angka kenaikan maupun persebaran daerah yang terkonfirmasi penularan lokal kian bertambah. Kasus transmisi lokal Omicron berdasarkan keterangan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, Senin (17/1/2022), saat ini diketahui berada di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Bandung, Tanggerang Selatan, Surabaya, Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kabupaten Madiun.

Dibandingkan dengan varian Delta, dari berbagai hasil penelitian dan tanggapan para ahli, salah satunya hasil studi Imperial College London disebutkan varian Omicron disebut memiliki daya tular lima kali lebih tinggi daripada varian Delta. Namun, untuk kecepatan penularannya di dalam negeri, dikatakan Nadia, belum bisa dipastikan karena sebagian kasus Omicron berasal dari pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

“Kita belum tahu ya secara pasti kecepatan penularannya karena sebagian kasus berasal dari PPLN. Itu hanya berdasarkan referensi dari negara negara lain,” jelas Nadia saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (17/1/2022). Lebih lanjut, untuk varian Delta dikatakan Nadia, saat ini masih mendominasi kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Sementara, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, meski transmisi varian Omicron cepat dan tinggi, tingkat perawatan pasien di rumah sakit adalah 30-40% dibanding tingkat perawatan varian Delta. Angka itu didapat dari sejumlah negara yang sudah mendapat serangan Omicron.

"Jadi walau kenaikan cepat dan tinggi penularan lebih cepat tapi hospitalisasi lebih rendah dibanding Delta, jadi kalau ada kenaikan jumlah kasus yang cepat dan banyak tidak usah panik tetap waspada karena kami memonitor ketat yang masuk ke rumah sakit," kata Budi, Minggu (16/1/2022)

Kasus varian Delta di Indonesia pertama kali terkonfirmasi pada awal Mei 2021 dengan dua kasus positif yang ditemukan di Jakarta. Hingga sebulan kemudian, berdasarkan catatan dari Beritasatu.com, (20/6/2021), per 13 Juni 2021 dikonfirmasi ada 104 kasus varian Delta yang tersebar di lima provinsi di Indonesia, yakni Jakarta (20 kasus), Sumatera Selatan (3 kasus), Jawa Tengah (75 kasus), Kalimantan Tengah (3 kasus), Kalimantan Timur (3 kasus) sebelum akhirnya secara merata menyebar ke seluruh provinsi.

Apabila dibandingkan dengan reaksi atau gejala, dilaporkan varian Delta bergejala lebih berat dibanding varian Omicron seperti demam, sakit kepala, anosmia, pilek, dan sakit tenggorokan. Adapun gejala varian Omicron kebanyakan dari pasien hanya bergejala ringan seperti pilek dan kelelahan serta banyak juga yang berstatus orang tanpa gejala (OTG).

Demikian, menyusul dengan bertambahnya kasus positif Omicron, pemerintah memperkirakan puncak kasus varian Omicron di Indonesia akan naik dalam 35-65 hari ke depan sekitar bulan Februari hingga Maret.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI