Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

IDI dan Persi Sambut Baik Kabar Kenaikan Tarif INA CBGs

Kamis, 20 Januari 2022 | 20:53 WIB
Oleh : Wilsa Azmalia Putri / FMB
Ilustrasi pasien dan dokter di rumah sakit.

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Ketua Umum 2 PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto, menanggapi adanya indikasi kenaikan tarif kapitasi dan Indonesia Case Based Groups atau INA CBGS BPJS Kesehatan. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebuah berita gembira dikarenakan tidak adanya kenaikan tarif selama delapan tahun program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan.

“Ini sebuah kabar berita gembira walaupun kita tidak tahu apakah kenaikannya akan sesuai dengan nilai keekonomian atau tidak karena sudah delapan tahun tidak naik, padahal tiap tahun terus terjadi inflasi,” kata Slamet dalam acara Diskusi Panel “Outlook JKN 2022”, Kamis (20/1/2022).

Sebagai informasi, tarif INA CBGs adalah rata-rata biaya yang dihabiskan untuk suatu kelompok diagnosis, kapitasi hingga iuran BPJS Kesehatan yang dibayarkan kepada rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan

Sementara, tarif kapitasi adalah besaran pembayaran per bulan yang dibayar di muka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

Namun, dikatakan Slamet, adanya kenaikan tarif ini juga harus memperhatikan dua hal penting yakni sistem pembiayaan dan sistem pelayanan. “Saat ini sistem pelayanan sampai di tingkat bawah masih belum ada retribusi, sistem rujukan juga belum diperbaiki, tentunya ini akan berpengaruh. Sehingga walaupun nanti tarifnya naik, dikhawatirkan hanya akan dinikmati fasilitas kesehatan tertentu dengan jumlah peserta yang banyak. Hanya menguntungkan sedikit pihak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Slamet menyebut pihak dari Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (P2JK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah meminta IDI untuk menyusun skema urun biaya yang juga tengah dipersiapkan oleh pihaknya.

“Pada prinsipnya walaupun tarif INA CBGS dan tarif kapitasi tidak sesuai dengan tarif keekonomian, kami mengusulkan dengan cara urun biaya namun tidak seperti yang tahun-tahun lalu dengan cara mengurangi biaya. Kami awalnya ada dua pilihan yaitu antara menaikkan premi bagi peserta atau urun biaya. Tapi, kami sepakat memilih sistem urun biaya saja bagi di luar kelas 3,” jelas Slamet.

Selaras dengan apa yang disampaikan Slamet, di kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Bambang Wibowo, menyebut pihaknya juga menyambut kabar baik tersebut.

“Kami bersyukur apabila memang akan dinaikkan. Tapi kami berharap ada penjadwalan terkait rencana operasional kenaikan tersebut, sehingga rumah sakit bisa membantu dan tidak terpontang panting,” ujarnya

Adanya kenaikan tarif ini, dikatakan Bambang, bisa membantu operational cost rumah sakit yang sejak pandemi selalu meningkat padahal kebutuhan rumah sakit juga sudah sangat besar.

Selain itu, menurutnya, selain soal tarif perlu ditentukan pula standarisasi pelayanannya. “Kalau ada iuran ini agak susah mendongkrak pemenuhan kebutuhan rumah sakit, karena rumah sakit tidak sekedar hidup tapi juga tumbuh untuk mengembangkan pelayanan sehingga standarisasi dari berbagai sektor itu penting. Apabila tarif naik tapi tidak ada standarisasi akan menyulit untuk penetapan besaran harganya,” pungkas Bambang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI