Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Kasus Covid-19 Melonjak, Epidemiolog: Awal Puncak Gelombang Ketiga

Minggu, 23 Januari 2022 | 16:54 WIB
Oleh : Wilsa Azmalia Putri / WM
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Jakarta, Beritasatu.com – Kasus positif Covid-19 terus mengalami tren kenaikan. Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan tambahan 3.205 kasus Covid-19 pada Sabtu (22/1/2022), tertinggi sejak 21 September 2021 yang mencapai 3.263 kasus. Tercatat, ada 3 provinsi yang memberi kontribusi tertinggi yakni di DKI Jakarta (1.825 kasus), Jawa Barat (641 kasus), dan Banten (451 kasus).

Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, tingginya kasus positif Covid-19 di 3 provinsi tersebut disebabkan wilayah ketiganya yang dekat dengan bandara internasional, sehingga potensi jumlah kasus Omicron yang tinggi lebih besar.

“Dibanding daerah lain, kapasitas testing di daerah ini juga lebih memadai dibanding yang di luar Jawa. Sebabnya ini yang membuat potensi temuan kasus lebih luas. Selain itu, masyarakatnya juga memiliki kesadaran mengenai adanya sesuatu tentang situasi kesehatan saat ini,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (23/1/2022)

Dikatakan Dicky, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali, serta secara keseluruhan Jawa-Bali memiliki populasi lanjut usia (lansia) yang lebih dominan dibanding di luar Jawa. Ia juga menyebut, kenaikan kasus Covid-19 yang terus bertambah menunjukkan awal dari puncak gelombang ketiga yang sudah diprediksi pada Februari hingga Maret.

“Potensi gelombang ketiga sangat jelas, sulit untuk dihindari. Akan terjadi masa krisis di bulan-bulan itu yang memang sulit untuk dielakkan. Saat ini yang bisa lakukan adalah melakukan mitigasi resiko,” ujar Dicky.

Bicara potensi gelombang, dijelaskan Dicky, berarti membicarakan kelompok masyarakat yang masih rawan untuk terpapar varian Omicron sebab belum melakukan vaksinasi sehingga imunitasnya tidak cukup baik. Adapun bagi yang sudah mendapatkan vaksin tetapi proteksinya sudah menurun. “Sebenarnya itulah kelebihan Omicron. Virus ini bisa menginfeksi mereka yang sudah mendapatkan vaksin maupun yang belum. Karena itulah potensi adanya lonjakan kasus Omicron sudah sangat jelas. Apalagi Omicron ini 3-4 kali lebih banyak kasus infeksinya dibanding varian Delta. Sehingga jumlah kasus infeksi Omicron di masyarakat dunia banyak yang pecah rekor termasuk di indonesia,” jelas Dicky.

Upaya yang bisa dilakukan, Dicky menyebut, testing dan tracing tidak boleh terabaikan. Dikatakannya, melalui deteksi dini yang kuat maka kasus transmisi Omicron bisa terputus dengan mencari sumber penularannya. Begitupula untuk penerapan 5M, terutama soal menjaga jarak yang mana kapasitas ruang gerak atau mobilitas masyarakat harus dibatasi.

“Tidak perlu ada lockdown tapi semua orang harus mematuhi protokol yang ada. Bagaimanapun 3T kita terbatas dan lemah, sehingga kasus terjadi secara senyap sebagaimana varian Delta pada awal nya. Jadi meski potensi gelombang 3 tidak sebesar dan selama gelombang 2, namun dampaknya akan sangat serius dalam jangka panjang (long Covid),” kata Dicky.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI