Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Tjandra Yoga: Tak Semua Infeksi Omicron Ringan

Minggu, 23 Januari 2022 | 20:36 WIB
Oleh : Willy Masaharu / WM
Guru besar FKUI sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama

Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar FKUI Tjandra Yoga Aditama menegaskan, tidak semua infeksi Omicron adalah ringan. Jadi, semua pihak harus ekstra waspada tetapi tidak perlu panik.

“Kita amat berduka dengan wafatnya 2 warga karena Omicron. Hal ini menunjukkan, tidak semua infeksi Omicron adalah ringan,” kata Tjandra Yoga, Minggu (23/1/2022).

Tjandra Yoga, yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, menyebutkan bahwa data kematian akibat Omicron di beberapa negara, antara lain, di Inggris. Sampai 31 Desember 2021 ada 75 orang yang meninggal. Kemudian, pasien pertama yang meninggal di Amerika Serikat umurnya 50 tahunan, sudah pernah terinfeksi Covid-19 sebelumnya, belum divaksinasi.

Di Jepang, lanjut Tjandra Yoga, yang meninggal adalah lansia dengan komorbid berat. Demikian pula di Australia yang meninggal adalah usia 80-an dengan komorbid

“Singapura yang meninggal 92 tahun, tidak ada komorbid yang jelas, tidak vaksinasi,” katanya.

Tjandra Yoga melanjutkan, di India yang meninggal berusia 74 tahun, dengan diabetes melitus dan komorbid lain.

“Amerika Serikat dan Australia beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa nampaknya mereka akan mengalami peningkatan kematian akibat Covid-19 di minggu-minggu mendatang, tentunya juga berhubungan dengan Omicron,” terangnya.

Dari data Sabtu (22/1/2022), bahwa Indensia ada sekitar 1.000 kasus Omicron, sekitar 250-an adalah transmisi lokal. Pada beberapa minggu yang lalu maka kasus sebagian amat besar adalah pendatang dari luar negeri, dan kini sudah makin bergeser ke transmisi lokal, artinya makin banyak kasus-kasus Omicron di masyarakat. Juga, 1 dari 2 yang meninggal kemarin adalah kasus transmisi lokal.

Jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, pada 20 dan 21 Januari di atas 2.000 dan pada 22 Januari sudah diatas 3.000. “Entah bagaimana hari ini dan besok-besok hari,” katanya.

Dengan melihat hal tersebut, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menyatakan ada 7 hal yang harus tingkatkan upayanya.

Tujuh hal itu adalah:
1. protokol kesehatan (3M, 5M) jauh lebih ketat dilaksanakan, berubah dari new normal menjadi now normal
2. Kemungkinan WFH lebih luas, termasuk evaluasi kebijakan PTM 650,
3. Penerapan aplikasi PeduliLindungi jauh lebih ketat lagi dan termasuk mendeteksi kalau ada yang Covid-19nya positif sesudah beberapa hari.
4. Peningkatan tes untuk mendeteksi yang OTG yang Omicron, dan telusur (“ke depan” kepada siapa menulari dan “ke belakang” dari siapa tertular) secara massif
5. Upaya super maksimal meningkatkan vaksinasi dan booster, apalagi di daerah yang tinggi penularan Omicronnya dan juga pada lansia dan komorbid
6. Karena sekarang RS masih relatif kosong, maka kasus Omicron ringan tetapi dengan Komorbid dan lansia baiknya dirawat dulu, kecuali kalau nanti RS memang akan jadi penuh
7. Penanganan mereka yang datang dari luar negeri harus lebih ketat lagi

“Sejalan dengan itu maka kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan jelas harus ditingkatkan. Harus ada upaya maksimal untuk mengobati pasien Omicron, menangani pasien gawat dan memperkecil kemungkinan kematian. Juga, akan baik kalau evaluasi kebijakan dilakukan berdasar perubahan data yang ada. Artinya tidak hanya harus seminggu sekali atau sesuai jangka waktu tertentu, tetapi dapat juga sesuai dinamika perubahan data yang terjadi,” kata Tjandra Yoga.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI