Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Eks Staf Ahok Tegaskan Intoleransi Tak Punya Tempat di Jakarta

Senin, 10 Januari 2022 | 20:20 WIB
Oleh : Fana F Suparman / FFS
Anggota DPRD DKI Jakarta Ima Mahdiah didampingi Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Ronny Talapessy, melaporkan dua akun media sosial terkait dugaan pencemaran nama baik.

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP, Ima Mahdiah menegaskan intoleransi tidak punya tempat di DKI Jakarta. Mantan staf Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok itu mencontohkan dugaan intoleransi oleh oknum guru di sebuah sekolah negeri di Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Ima menjelaskan, kasus intoleransi itu terjadi saat sekolah tersebut menggelar pemilihan ketua OSIS. Saat itu terdapat seorang guru yang menyuruh anak didiknya yang tergabung dalam organisasi rohani Islam (Rohis) memilih calon ketua yang satu agama melalui grup Whatsapp.

"Ini posisinya guru di Rohis, dan ini pemilihan ketua OSIS, bukan pemilihan ketua Rohis. Jadi waktu itu ada laporan ke Fraksi PDIP, ada screenshot dari WAG satu sekolah yang ada Rohis, waktu itu ada pemilihan ketua OSIS di sekolah negeri di Jaktim. Ada tulisan satu guru disampaikan bahwa pilih yang seiman," ujar Ima seperti dikutip dari kanal Youtube Niat Bicara, Senin (10/1/2022).

Bagi Ima, tidak ada tempat untuk intoleransi di Indonesia, terlebih di DKI Jakarta.

"Menurut saya, ini bukan masalah Islam atau apa pun. Saya juga beragama Islam, tapi kita sudah bicara kebangsaan," tuturnya.

Apalagi, peristiwa intoleransi itu terjadi di sekolah negeri yang dibiayai oleh APBD atau berasal dari pajak masyarakat.

"Ini sekolah negeri dibayar APBD, uang pajaknya rakyat, bukan cuma orang Islam doang, semua agama bayar pajak. Ini sudah memecah belah. Yang ngomong guru PNS lagi. PNS gajinya bukan cuma dari uang pajaknya uang Islam, tapi seluruh rakyat Jakarta. Harusnya mengakomodir semuanya," ungkapnya.

Untuk itu, Ima menegaskan, sikapnya tidak akan berubah jika kasus serupa terjadi pada agama lain. Hal ini mengingat persoalan intoleransi merupakan persoalan kebangsaan.

"Pasti saya akan komplain, kita pasti panggil gurunya. Jangan sampai seperti ini dilakukan oleh orang yang bisa influence ke orang banyak. Ini sudah masalah kebangsaan. Bagaimana generasi kita ke depan kalau keadaannya terus seperti ini?," tegasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI