Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Dirjen Dikti: Kesadaran Cinta Produk Dalam Negeri Kunci Indonesia Maju

Rabu, 16 Juni 2021 | 23:55 WIB
Oleh : Mardiana Makmun / YUD
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud) Prof. Nizam (tengah) dan Koordinator Komunikasi, Media, dan Komunitas Ditjen Dikti Kemendikbud RI Ade Kadarisman (kanan) berkunjung ke Redaksi BeritaSatu Media Holdings yang diterima oleh COO BeritaSatu Media Holdings Anthony Wonsono (ketiga dari kanan), Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu (ketiga dari kiri) dan Pemimpin Redaksi BeritaSatu.com Aditya Laksmana Yudha (kedua dari kiri), Manager News Magazine BeritaSatu TV Rudy Andanu (kiri), dan Executive Director of Corporate Affair Universitas Pelita Harapan Grace Salim (kedua dari kanan), Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Jakarta, Beritasatu.com – Membangun kesadaran publik mencintai produk dalam negeri menjadi kunci Indonesia maju. Hal ini harus didukung oleh ekosistem yang terdiri atas inovasi perguruan tinggi, kementerian terkait, dan pelaku industri.

“Kita bermimpi tentang bonus demografi, bermimpi jadi negara maju. Namun, kuncinya adalah pentingnya membangun kesadaran publik cinta produk dalam negeri. Semangat cinta produk dalam negeri,” tegas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dirjen Dikti Kemdikbudristek) Republik Indonesia Prof Ir Nizam MSc, PhD, ASEAN Eng di Gedung Beritasatu, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Dari terbangunnya kesadaran cinta produk dalam negeri inilah, menurut Nizam, Indonesia bisa berbenah diri untuk menjadi negara maju dan tangguh. Namun, tegas Nizam lagi, hal ini harus didukung oleh ekosistem yang solid.

“Sejak awal saya tekankan ekosistem sebagai salah satu kunci, yaitu keragaman. Seluruh mitra di dalamnya harus terlibat. Dapat buy in dari masyarakat, dari industri, dari pemerintah. Itulah yang ingin kita bangun. Kedua, kita perlu membangun public awareness, kesadaran,” papar Prof Nizam.

Belajar dari Korea, kata Prof Nizam, media massa Korea berhasil membangun kesadaran publik, baik kesadaran cinta produk dalam negeri maupun kesadaran investasi pendidikan. “Hampir 40% spending orang Korea untuk pendidikan. Korea, di situ terlihat peran media, bahwa media membangun mindset Korea sebagai bangsa yang tangguh, peduli, bahwa Korea akan mati kalau tidak investasi di SDM dan produk-produk yang kompetitif di dunia. Ini perlunya investasi pendidikan dan fokus membangun industri,” ungkap Prof Nizam.

Korea, lanjut Prof Nizam, memulainya dengan membangun industri baja. Tanpa punya teknologi, tanpa punya modal.

“Teknologi diambil dari Eropa. Dana diambil dari bank Prancis dan Jepang. Lalu mereka bergerak ke galangan kapal, ini industri yang ditinggalkan Eropa. Lalu masuk ke industri otomotif. Pasar mereka kecil, tapi mereka berani masuk ke sana. Mereka tekan ongkos produksi. Mereka menekankan harus cinta produk Korea. Kalau bukan Korea siapa lagi yang pakai produk Korea, sehingga Hyundai pun bersaing dengan mobil Amerika,” ujar Prof Nizam membandingkan.

Dorong Inovasi
Dikti, kata Prof Nizam, saat ini terus mendorong inovasi-inovasi yang dilakukan perguruan tinggi agar terbangun kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri yang berkualitas tinggi.

“Selama setahun ini, teman-teman membangun platform untuk bisa melahirkan produk-produk Merah Putih. Sejauh ini sudah berjalan satu tahun, dan sudah ada 15 ribu lebih ide/inovasi dari perguruan tinggi dan sudah ada 1.500-an teman-teman industri menawarkan kolaborasi. Solusinya apa sih untuk kebutuhan industri,” ungkap Prof Nizam.

Selain mempertemukan inovasi perguruan tinggi dengan industri, Dikti, kata Prof Nizam, juga melakukan pendampingan bagi para inovator-inovator dari perguruan tinggi.

“Kami mengalokasikan dana kecil sekali, Rp 250 miliar untuk satu tahun sebagai dana pendamping. Ini sebagai bentuk katalisator. Saat ini permintaannya sudah dua kali lipat. Kita sudah minus,” ungkap Prof Nizam.

Prof Nizam juga menyoroti dana subsidi untuk mahasiswa yang juga sangat kecil. “Subsidi untuk mahasiswa di Indonesia Rp2 juta per tahun. Jauh dibanding Malaysia,” ungkapnya.

Sementara itu, Anthony Wonsono, Chief Operating Officer of Berita Satu Media Holdings mengatakan saat di awal tahun 2000-an membangun Yayasan Pelita Harapan, Mochtar Riady melihat bahwa ada kekurangan pendidikan publik.

“Karena itu kami siap terus mendukung program Kemendikbud untuk membangun program inovasi dan kebanggaan pada produk lokal,” tegas Anthony.

Sayangnya, kata Anthony, masih ada stigma bahwa produk dalam negeri tidak sekelas dengan produk luar negeri dan produk untuk ekspor tidak sekualitas dengan produk yang dipasarkan untuk dalam negeri.

“Saya melihat gerakan cinta produk dalam negeri, gaungnya hanya sebentar. Padahal banyak brand luar itu dibikin di dalam negeri kita,” ungkap Anthony.

Kondisi ini juga dikeluhkan Prof Nizam. Dia mencontohkan kasus produk ventilator produksi dalam negeri. “Untuk ventilator produksi dalam negeri, bentengnya (hambatan) tinggi sekali. Harus melalui uji ini itu. Sedangkan ventilator dari Tiongkok gampang sekali masuk tanpa uji ini itu. Ketika produk dalam negeri sudah dapat izin produksi, rumah sakit tak ada yang mau beli. Ini karena banyak sekali orang-orang yang sudah berada di zona nyaman. Kembali lagi, peran media diperlukan untuk membangun kesadaran cinta produk dalam negeri,” tegas Nizam.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


NASIONAL | 28 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

NASIONAL | 27 September 2021

BERITA TERPOPULER


#1
BPN: Pemilik Lahan Garap Hanya Boleh Menggarap, Tidak Mendirikan Bangunan

#2
Ditabrak Bus yang Melaju Kencang, Wanita Pengendara Motor Tewas di Bogor

#3
PS Pati Kalah Lawan Persis di Liga 2, Ini Kata Atta Halilintar

#4
Ini Alasan Bupati Bogor Bersikukuh Bangun Jalur Puncak 2

#5
Yusril Ajukan Judicial Review AD/ART Demokrat, SBY: Hukum Bisa Dibeli, tetapi Tidak untuk Keadilan

#6
PSI Berhentikan Viani Limiardi Sebagai Anggota DPRD DKI dan Kader Partai

#7
Panglima TNI Tidak Mau Berpolemik Soal Pernyataan Gatot Nurmantyo

#8
Sistem Radarnya Dihancurkan AS, Bandara Kabul Kini Siap Beroperasi Kembali

#9
7 Fraksi DPRD DKI Tidak Akan Hadiri Paripurna Interpelasi Formula E

#10
Luhut Jalani Pemeriksaan Terkait Laporannya soal Pencemaran Nama Baik

TERKINI


EKONOMI | 28 September 2021

EKONOMI | 28 September 2021

EKONOMI | 28 September 2021

EKONOMI | 28 September 2021

OLAHRAGA | 28 September 2021

NASIONAL | 28 September 2021

OLAHRAGA | 28 September 2021

OLAHRAGA | 27 September 2021

MEGAPOLITAN | 27 September 2021

GAYA HIDUP | 27 September 2021