Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Keluarga Akidi Tio Tak Punya Rp 2 Triliun, PPATK Sayangkan Tak Diperiksa Dulu

Rabu, 4 Agustus 2021 | 07:12 WIB
Oleh : Fana F Suparman / FFS
Dian Ediana Rae.

Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah meneliti dan menganalisis rekening milik keluarga almarhum Akidi Tio dan pihak terkait. Hasilnya, PPATK tak menemukan adanya dana sebesar Rp 2 triliun yang rencananya akan dihibahkan keluarga Akidi Tio untuk penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan.

Kepala PPATK, Dian Ediana Rae menyayangkan rencana hibah tersebut digembar-gemborkan tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Kapolda Sumsel, Irjen Eko Indra Heri yang menerima rencana hibah keluarga Akidi Tio seharusnya melaporkan terlebih dahulu kepada PPATK sebelum mengumumkannya ke ruang publik.

Advertisement

"Saya sayangkan ini tidak seharusnya terjadi. Dari semula ini misalnya kalau ada sumbangan siapapun apalagi ruang publik. Jadi kalau ada keragu-raguan itu sebaiknya menghubungi PPATK. Jangan dulu diumumkan," kata Dian kepada Beritasatu.com, Selasa (3/8/2021) malam.

Dian menjelaskan, jika rencana pemberian hibah dilaporkan dulu kepada PPATK, pihaknya akan meneliti kredibilitas pihak yang akan memberikan hibah. PPATK juga akan meneliti pihak tersebut memiliki dana tersebut atau tidak.

"Kalau tidak ada (dananya) kan tidak bisa dilanjutkan. Kalau seperti ini kan merugikan nama yang bersangkutan. Nama Kapolda-nya, nama kepolisian dan nama pemerintah kan bisa rusak. Ini yang harus kita jaga," katanya.

Sebagai seorang intelijen keuangan, Dian sudah skeptis sejak awal munculnya pemberitaan rencana hibah keluarga Akidi Tio. Hal ini lantaran profiling keluarga Akidi Tio tidak sesuai dengan besarnya nominal dalam rencana tersebut.

"Saya mulai skeptis sejak awal . Profilingnya tidak pas. PPATK sebagai lembaga intelijen keuangan itu kan begitu karakternya. Kita lebih banyak berpikir negatifnya dulu. Walaupun sumbangan. Cita-citanya bagus kita apresiasi dan harus didorong tapi kan ini negara hukum," katanya.

Dikatakan, kalau pun keluarga Akidi Tio memiliki dana sebesar Rp 2 triliun dan rencana hibah direalisasikan, PPATK tetap akan melakukan penelitian. Hal ini penting untuk memastikan sumber uang yang dihibahkan bukan berasal dari hasil kejahatan.

"Kita harus memastikan uangnya bukan dari kejahatan. Uang itu hasil usaha yang sah. Bukan pencucian uang. Dari narkoba atau apalah. Ini kan tidak bisa oh sumbangan, mau haram mau halal tidak apa. Tidak visa seperti itu. Ini negara hukum. Ibaratnya negara mau runtuh hukum harus tetap ditegakkan," tegasnya.

Diketahui, keluarga seorang pengusaha bernama Akidi Tio membuat heboh lantaran berencana menyumbang atau memberikan dana hibah kepada Polda Sumatera Selatan senilai Rp 2 triliun untuk penanganan pandemi Covid-19.
Pemberian bantuan itu secara simbolis dilakukan di Mapolda Sumatera Selatan pada Senin (26/7/2021) dan dihadiri Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri, Gubernur Sumsel Herman Deru, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel dan Danrem 044/Gapo, Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji. Namun, hingga saat ini, dana tersebut tak kunjung cair. PPATK telah meneliti dan menemukan keluarga Akidi Tio maupun pihak terkait tak memiliki dana sebesar itu.

"Setelah kita periksa hampir seluruh rekening terkait itu sangat-sangat tidak memadai untuk memenuhi kewajiban atau komitmen sebanyak Rp 2 triliun. Itu yang temuannya seperti itu sebetulnya," kata Dian.

Dian menjelaskan, PPATK memiliki akses untuk masuk perbankan. Tak hanya di dalam negeri, PPATK juga memiliki sistem untuk memonitor keluar dan masuk nya uang ke dan dari Indonesia yang disebut IFTI atau International Fund Transfer Instruction), dan memiliki jaringan lebih dari 160 negara.

Meski tak menyebutkan nominal pasti, Dian mengatakan, dari penelitian dan analisis yang dilakukan PPATK, keluarga Akidi Tio tak memiliki dana sebesar itu, bahkan tidak memiliki dana setengahnya dari yang rencananya akan dihibahkan.

"Begini saya tidak boleh menyebut angka tapi sangat jauh dari yang inikan . Boro-boro setengahnya juga nggak. Terlalu jauh," ungkapnya.

Dian tak merinci pihak-pihak di keluarga Akidi Tio yang rekeningnya diteliti. Yang pasti, kata Dian, PPATK meneliti pihak-pihak yang terkait dengan keluarga Akidi Tio.

"Siapapun yang terkait. Saya tidak mengekspos secara spesifik, siapapun yang terkait harus kita teliti. Karena siapa tahu ada yang yang tidak terekspos tapi memiliki kemampuan dan kemauan untuk menyumbang seperti itu. Nampaknya jauh. Tidak ada. Kecuali ada nama-nama yang tidak terkait tiba-tiba ada keajaiban, tiba-tiba ada orang yang punya uang mau menyumbang. Rp 2 triliun itu kan sama Rp 2.000 miliar," katanya.

Dalam kesempatan ini, Dian menjelaskan alasan PPATK meneliti mengenai rencana pemberian hibah ini. Dikatakan, PPATK merasa berkepentingan karena rencana pemberian hibah tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat. Selain itu, PPATK melihat adanya inkonsistensi profil pihak penyumbang dengan nilai uang yang disumbangkan.

"Kita anggap ini ada transaksi yang mencurigakan. Karena orangnya itu sebetulnya tidak memiliki profile yang memadai untuk bisa menyumbang Rp 2 triliun dan jauh dari itulah kira-kira," katanya.

Selain itu, rencana pemberian hibah ini menyangkut Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri. Dikatakan, dalam intelijen keuangan, profil Kapolda selaku aparat penegak hukum, atau pejabat negara dari tingkat pusat hingga daerah masuk dalam kategori politically exposed persons (Peps) atau orang yang terekspos secara politik. PPATK berkepentingan meneliti transaksi mencurigakan yang terkait dengan orang dalam kategori Peps.

"Kalau dia terkait dengan transaksi-transaksi yang kita anggap mencurigakan itu otomatis kita harus meneliti itu, harus melakukan analisis mengenai apa yang terjadi," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Nakes Gabriella Tewas di Jurang dalam Insiden Serbuan KKB di Kiwirok, Papua

#2
Ricky Vinando Ungkap Petunjuk Penting Pelaku Pembunuhan Ibu-Anak di Subang

#3
Ini 6 Tren Percakapan di Twitter Indonesia Selama 3 Tahun Terakhir

#4
Beredar Ajakan untuk Daftar Vaksin Nusantara ke Prof Nidom, Ini Penjelasan Kemkes

#5
Erick Thohir: Tidak Ada Tempat bagi Radikalisme di Tubuh BUMN

#6
Update Covid-19: Kasus Aktif Tersisa 73.238 dan Positivity Rate Naik Lagi 5,74%

#7
PN Jakpus Nyatakan Jokowi dan Anies Melakukan Perbuatan Melawan Hukum Terkait Polusi Udara

#8
Alex Noerdin Jadi Tersangka dan Ditahan, Golkar Prihatin

#9
Pelabuhan Merak - Bakauheni Jadi Pilot Project Penyediaan Tempat Promosi dan Pengembangan UMKM

#10
Alex Noerdin dan Muddai Madang Ditahan di Rutan Salemba

TERKINI


HIBURAN | 17 September 2021

DUNIA | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

MEGAPOLITAN | 17 September 2021

POLITIK | 17 September 2021

NASIONAL | 17 September 2021

KESEHATAN | 17 September 2021

POLITIK | 17 September 2021

DUNIA | 17 September 2021

EKONOMI | 17 September 2021