Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved

Suksesi di Pura Mangkunegaran Solo Bakal Mulus

Senin, 27 September 2021 | 20:14 WIB
Oleh : Dwi Argo Santosa / DAS
Upacara pemakaman KGPAA Mangkunegara IX.

Jakarta, Beritasatu.com - Suksesi kepemimpinan di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, bakal berjalan mulus selepas wafatnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX pada 13 Agustus 2021 lalu. Tidak akan terjadi konflik antarketurunan raja atau perebutan kekuasaan.

“Di Mangkunegaran ini (suksesi) akan smooth,” kata Seno Adjie, pengusaha yang dekat dengan kalangan Pura Mangkunegaran, kepada Beritasatu.com, Minggu (26/9/2021).


Kiri ke kanan: GPH Paundra, KRMH Roy, dan GPH Bhre. (Istimewa)

Seno Adjie yang juga adalah adik musisi kondang dan pengusaha Setiawan Djody ini cukup mengetahui kondisi perkeratonan.

Ia merupakan sosok yang berperan menyelesaikan konflik di Keraton Solo beberapa tahun silam. Seno Adjie dianggap bisa diterima tiga kubu yang beronflik waktu itu. Karena itu, Presdir PT Layani Nahdlatul Utama ini cukup bisa menggambarkan suasana kebatinan kalangan keraton.

“Di Mangkunegaran ini lebih soft karena kekerabatannya lebih menyatu ketimbang di Keraton (Kesultanan Surakarta),” katanya terkait suksesi.

Tiga nama yang disebut-sebut menjadi calon pengganti adalah dua putra kandung Mangkunegara IX, yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara, dan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, serta cucu KGPAA Mangkunegara VIII, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin.

Paundra merupakan putra pertama dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Sukmawati Soekarnoputri. Pasangan ini kemudian bercerai.


Permaisuri Mangkunegara IX (kedua dari kiri) dan Sukmawati Soekarnoputri (Kedua dari kanan). (Instagram/@poppydharsono)

Sedangkan Bhre adalah putra dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Prisca Marina Yogi Supardi yang kemudian dinobatkan menjadi permaisuri Mangkunegara IX sampai saat ini.

Sementara itu, Roy Rahajasa Yamin juga disebut-sebut menjadi salah satu calon pewaris takhta meski bukan anak kandung Mangkunegara IX melainkan keponakan.

Roy Rahajasa Yamin adalah cucu KGPAA Mangkunegara VIII. Roy juga adalah cucu Mohammad Yamin, pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor Sumpah Pemuda.

"Dalam sejarah Magkunegaran tidak ada aturan baku bahwa pengganti raja otomatis adalah putra mahkota atau anak kandung dari Mangkunegara sebelumnya," kata Seno Adjie.

Sejarah Mangkunegaran
Mangkunegaran adalah sebuah wilayah otonom di wilayah Surakarta sejak 1757 dan bila merunut sejarah, pemerintahan ini merupakan pecahan dari dinasti Mataram Islam, tepatnya dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan pada abad ke-16. Awalnya berpusat di Kotagede, Yogyakarta. Pada masa kejayaannnya, Kerajaan Mataram Islam pernah menyatukan sebagian besar Pulau Jawa kecuali Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.


Lambang kerajaan setelah Mataram terpecah. (Beritasatu.com)

Kebesaran kerajaan ini menyusut karena konflik internal perebutan kekuasaan antarkerabat istana. Terjadi perang saudara berkepanjangan seiring kehadiran Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC dengan politik memecah belah atau devide et impera.

Mataram adalah penentang kebijakan VOC hingga pemerintahan Amangkurat IV, penguasa Mataram periode 1719-1726. Amangkurat IV memiliki 4 anak dari seorang permaisuri dan 3 selir. Keturunan Amangkurat IV ini kemudian saling berkonflik. VOC adalah pemenangnya karena menjadi pihak yang mendapatkan banyak keuntungan.

Anak pertama Amangkurat IV dari selir atau garwa ampeyan Mas Ayu Karoh, yakni Arya Mangkunegara (lahir 1703).

Namun Arya kemudian diasingkan oleh VOC ke Sri Lanka hingga meninggalnya di Afrika Selatan. Pasalnya, Arya adalah penentang kebijakan VOC, serikat dagang Belanda yang memiliki tentara.

Arya memiliki anak bernama Raden Mas (RM) Said (lahir 1725) atau Pangeran Sambernyawa. Anak inilah yang meneruskan perjuangan sang ayah, anti-VOC.

Anak Amangkurat IV lainnya adalah dari permaisuri GKR Kencana, yakni Pangeran Prabasuyasa (lahir 1711). Prabasuyasa dengan gelar Pakubuwono II ini yang meneruskan pemerintahan Mataram yang berpusat di Kartasura.

Pangeran Sambernyawa berkonflik dengan internal kerajaan karena mengklaim dirinya berhak atas takhta Mataram yang diduduki pamannya, Pakubuwono II, lantaran ayahnya (Arya Mangkunegara) adalah putra sulung Amangkurat IV.

Sedangkan Pakubuwono II yang awalnya menentang VOC belakangan malah bersekutu. Pasalnya, sepupu Pakubuwono II bernama Sunan Kuning, bersama warga Tionghoa, memberontak dan berhasil merebut Kartasura. Sunan Kuning dinobatkan sebagai Raja Mataram dengan gelar Amangkurat V.


Peninggalan tembok benteng Keraton Mataram di Kartasura yang berlubang. (Istimewa)

Pakubuwono II terusir dari keraton sehingga bersekutu meminta bantuan VOC untuk merebut kembali Kartasura pada 1742. Karena kondisi keraton di Kartasura hancur, maka pada 1745 Pakubuwono II memindahkannya ke desa Sala (Solo) yang kemudian dinamai Surakarta.

Pemerintahan Pakubuwono II yang dibantu VOC mendapat perlawanan dari dari keponakannya, yakni Pangeran Sambernyawa, dan putera Amangkurat IV lainnya dari selir Mas Ayu Tejawati, RM Sujana (lahir 1717).

Pada 11 Desember 1749, dalam keadaan sakit parah, Pakubuwono II menandatangani penyerahan kekuasaan Mataram kepada VOC.

Pakubuwono II akhirnya meninggal dunia pada tanggal 20 Desember 1749, diusianya yang ke-38. Ia digantikan oleh Raden Mas Suryadi, putranya yang kemudian bergelar Pakubuwono III.

Perlawanan oleh Pengeran Sambernyawa dan RM Sujana alias Pangeran Mangkubumi membuat Pakubuwono III menyepakati perjanjian dengan Pangeran Mangkubumi, tanpa mengikutsertakan Pangeran Sambernyawa. Tentu saja VOC campur tangan dalam hal ini demi mempertahankan hegemoninya.

Melalui perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Sunan Pakubuwono II, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi. Nama terakhir ini kemudian menggunakan gelar Sultan Hamengku Buwana (HB) I.


Empat penguasa keraton di Jawa dalam satu frame. Dari kiri: KGPAA Mangkunegara IX, KGPAA Paku Alam VIII, Sri Susuhunan Paku Buwono XII, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto diambil sekitar tahun 1992 di Yogyakarta. (Istimewa)

Selain memecah Mataram menjadi dua, kekuasaan VOC semakin kuat mencengkeram tanah Jawa. Salah satu klausul dalam perjanjian itu menyebut, sebelum pepatih dalem dan para bupati melaksanakan tugasnya, mereka harus melakukan sumpah setia pada VOC. Pepatih dalem adalah pemegang kekuasaan eksekutif sehari-hari.

Sedangkan Sri Sultan tidak akan mengangkat atau memberhentikan pepatih dalem dan bupati sebelum mendapatkan persetujuan dari VOC.

Perjanjian Giyanti itu ditentang keras Pangeran Sambernyawa sehingga ia harus menghadapi tiga lawan sekaligus yakni VOC, sepupunya sendiri Sunan Pakubuwono III dan pamannya Sultan HB I.

Atas permintaan VOC, Pakubuwono III mengajak damai Pangeran Sambernyawa hingga terjadilah Perjanjian Salatiga, pada 17 Maret 1757.


Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran. (Istimewa)

RM Said alias Pangeran Sambernyawa diberi kekuasaan. Ia diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri dengan gelar Mangkunegara I. Formalnya disebut Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang.

Meskipun berstatus otonom, sama dengan kerajaan pecahan Mataram lainnya, penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yang sama tinggi dengan Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta. Mangkunegara semacam raja kecil. Penguasanya tidak berhak menyandang gelar sunan atau sultan tetapi pangeran adipati arya.


KGPAA Mangkunegara I hingga IX. (Beritasatu.com)

Sepanjang periode 1757-1946, Mangkunegaran adalah kerajaan yang memiliki wilayah dan tentara sendiri, lepas dari Kasunanan Surakarta.

Pada September 1946, Mangkunegara VIII menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Inilah cikal bakal Mangunegaran dengan istana bernama Pura Mangkunegaran, berada di tengah kota Solo, yang kini tengah mencari pangeran adipati arya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA


NASIONAL | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

NASIONAL | 18 Oktober 2021

BERITA TERPOPULER


#1
Kronologi Sanksi WADA yang Berdampak Pahit buat Tim Thomas Indonesia

#2
Insiden di Piala Thomas, Menpora Minta Maaf dan Siap Seret ke Jalur Hukum

#3
Merah Putih Tak Berkibar di Piala Thomas, LADI Minta Maaf

#4
2 Oknum Polisi Didakwa Menganiaya dan Membunuh Anggota FPI di KM 50 Tol Japek

#5
Cuaca Ekstrem di Kota Bogor, 4 Mobil Tertimpa Pohon

#6
Insiden di Piala Thomas, LADI Menolak Disalahkan Sepenuhnya

#7
Pasien Kembali Naik, Tempat Tidur Wisma Atlet Kemayoran Terisi 215 Orang

#8
PAN Kepincut Usung Ganjar di Pilpres 2024

#9
Tidak Kabur, Rachel Vennya Mengaku Tak Jalani Karantina

#10
Bumoon.io Dorong Kepedulian Lingkungan lewat Token Kripto

TERKINI


OLAHRAGA | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

EKONOMI | 19 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

DUNIA | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021

NASIONAL | 19 Oktober 2021