Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Pengamat: Kemenangan Taliban Patut Diwaspadai Indonesia

Jumat, 24 Desember 2021 | 23:19 WIB
Oleh : Yudo Dahono / CAR
Diskusi publik "Dampak Kemenangan Taliban: Antara Euforia dan Keindonesiaan Kita" yang digelar Serikat Mahasiswa (SEMA) Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Jumat 24 Desember 2021.

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat sosio-politik Arya Wishnuardi mengajak bangsa Indonesia untuk mewaspadai dampak dari kemenangan Taliban dalam merebut Afghanistan dari pemerintahan yang didukung Amerika Serikat (AS). Mengingat ada isu agama yang sama yang kerap diusung kelompok tertentu di Indonesia.

Hal ini disampaikan Arya dalam diskusi publik “Dampak Kemenangan Taliban: Antara Euforia dan Keindonesiaan Kita” yang digelar Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Jumat (24/12/2021).

“Saya setuju bahwa kewaspadaan dari pihak kita sebagai bangsa Indonesia jika melihat kemenangan Taliban di sana dengan hukum agama,” ujar Arya.

Menurut Arya, dinamika politik di negara lain harus dicermati. Kendati dampaknya kecil atau tak langsung terjadi. Namun, mengingat di Tanah Air ada kelompok radikal yang berlandaskan agama tertentu yang mirip-mirip dengan perjuangan Taliban, maka tetap perlu menjadi perhatian bersama. Sambil, di sisi lain Indonesia tetap memegang teguh dasar bangsa, agar tak terpengaruh oleh gagasan pihak luar.

Apalagi, dampak eksodus warga Afghanistan yang mengungsi ke Indonesia sudah nyata adanya. “Contoh tadi munculnya sistem politik di Afghanistan. Biarkan mereka mencari sendiri solusi dari permasalahan negaranya, biarkan mereka menguji apakah memang dengan nomokrasi itu apakah akan memunculkan sesuatu yang baik di mata umum,” tuturnya.

“Kita cukup menjaga yang sudah menjadi acuan di negara kita. Jangan mudah terpengaruh,” imbuhnya.

Menurut Arya, solusi terbaik mengatasi dampak negatif Taliban ialah dengan menggerakkan roda pemerintahan sebaik-baiknya. Amanat menyejahterakan rakyat harus benar-benar dijalankan oleh pemerintah, termasuk menegakkan hukum tanpa tebang pilih, serta memberangus korupsi.

“Taliban itu muncul awalnya adalah kelompok-kelompok student, cendekiawan yang mengkritisi terjadinya kekerasan, kriminalitas dan korupsi yang ada di negara mereka, lalu menuju ke hukum yang berdasarkan agama dan lain-lain,” katanya.

“Kalau penegakan hukum bisa dilakukan dengan baik di Indonesia, kekayaan sumber daya alam bisa dimanfaatkan oleh semua orang, korupsi bisa ditangani dengan benar, saya pikir perdebatan 'hukum ini yang terbaik' enggak akan ada,” ucap Arya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menambahkan kemenangan Taliban menyingkirkan pemerintahan “boneka” AS perlu dikhawatirkan. Mengingat, warga Afghanistan ada di banyak negara, termasuk di Indonesia. Di sisi lain, apa yang dianut Taliban juga menjadi paham bagi kelompok teroris di Tanah Air.

“Yang kita takutkan residensi ideologis di seluruh dunia karena orang Afghanistan masih ada di berbagai negara. Saya tidak heran jika Taliban berhasil menguasai Afghanistan. Teroris di Indonesia buku-buku yang dimiliki sama dengan Taliban,” ujarnya.

Pengamat terorisme dan mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas mengatakan kelompok teror di Indonesia, JI memiliki keterkaitan dengan Taliban.

“Taliban dengan JI pernah ada hubungan emosional. JI merasa senang karena ada hubungan itu. Taliban saat menang, orang JI bilang 'hanya orang kafir saja yang tidak euforia, itu kemenangan Islam', tetapi terbatas hanya kelompok tertentu saja,” kata Nasir.

JI sendiri, menurut Nasir, akan terinspirasi dengan kemenangan Taliban di Afghanistan. Mengingat, adanya beberapa kesamaan perjuangan dan ideologi di antara keduanya.

“Mereka selalu bilang 'Taliban bisa mengapa kita tidak? Apa bedanya Taliban dengan Jamaah Islamiyah? Taliban adalah sekelompok masyarakat, Jamaah Islamiyah juga adalah sekelompok masyarakat,” katanya.

Masih di diskusi yang sama, pakar politik Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati mengatakan kesuksesan Taliban bisa menginspirasi foreign terrorist fighters untuk melakukan serangan.

“Kalau saya pikir strategi yang paling relevan adalah deradikalisasi, karena kita tahu pascakemenangan Taliban di Afghanistan tentu foreign fighters mungkin berpikir siap beraksi terinsipirasi dengan jihad, mereka bisa cepat sekali bergerak dan menyasar ke mana-mana,” katanya.

Wasisto menyarankan adanya kewaspadaan terhadap kelompok yang terafiliasi dengan Taliban, yang misalnya melakukan talibanisasi melalui media sosial.

Sementara pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan kemenangan Taliban memunculkan varian sistem politik baru. Sebab, Taliban tidak mempraktikkan sistem demokrasi atau tidak ada partai politik, sehingga condong kepada oligarki. Sistem politik ini bernama nomokrasi, atau suatu sistem pemerintahan bersifat teokrasi yang berdasar pada syariat.

“Jadi kemenangan Taliban 'mengerikan', karena akan ada perubahan sistem politik di dunia,” kata Chaidar.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI