Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Ini Alasan L2Dikti Wilayah III Dorong Kampus Gelar PTM

Sabtu, 22 Januari 2022 | 15:42 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / WM
Ilustrasi Perguruan Tinggi

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) wilayah III, Paristiyanti Nurwardani mengatakan, pihaknya mendorong kampus kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas karena saat kompetensi sosial mahasiswa turun drastis. Hal ini perlu diselamatkan.

“Jadi kompetensi sosial mahasiswa akan menurun drastis selama kuliah daring,” kata Paristiyanti saat berdialog dengan media di kantor L2Dikti wilayah III, di Jakarta, Jumat (21/1/2022).

Paris juga menambahkan, kelamaan belajar daring menyebabkan kerajinan dan disiplin dari mahasiswa disinyalir menurun. Untuk itu, pihaknya akan rutin melakukan survei untuk memastikan perguruan tinggi gelar PTM terbatas.

Selanjutnya, Paristiyanti menyebutkan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan terus menerus memiliki dampak buruk bagi kelangsungan akademis mahasiswa dengan munculnya learning loss.

Learning loss adalah istilah yang mengacu pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum atau spesifik, atau terjadinya kemunduran proses akademik karena suatu kondisi tertentu.

Paristiyanti menuturkan, tujuan pendidikan bahwa lulusan perguruan tinggi harus beriman, bertaqwa, kemudian berakhlak mulia, sehat, cerdas, berilmu dan selalu melakukan buat bangsa negara.

Tujuan pendidikan ini, lanjut Paristiyanti, sebagian besar soft skill atau kompetensi. Adapun kemampuan soft skill ini dapat dimiliki mahasiswa melalui kegiatan komunikasi antarmanusia dengan lingkungan sekitarnya.

"Saya khawatir kalau mahasiswa terlalu lama tidak bertemu dosen respek mahasiswa ke dosen berkurang. Jangan-jangan juga enggak punya teman, karena biasa lihat cuma di layar laptop. Menurut saya kompetensi sosial ini harus menjadi concern bersama," ucapnya.

Tidak hanya itu, kualitas pendidikan karakter mahasiswa pun terancam menurun seperti gotong royong, kolaborasi, kebinekaan.

Paristiyanti, program kebinekaan global yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tentu akan lebih optimal jika diasah di dalam komunitas yang lebih luas dan beragam seperti di dalam kampus.

"Kalau mau belajar kebinekaan global, mau enggak mau harus ke kampus, bisa praktik toleransi, empati secara luring,” ucapnya.

Ia menambahkan, untuk hard skill juga harus dilakukan di dalam kampus sehingga akan lebih tercapai hasil belajar mahasiswa.

“Saya merasa dan ingin membantu jangan sampai learning loss yang sudah kita peroleh 2 tahun selama pandemi Covid-19 kita diperpanjang lagi hanya karena kita tidak berani ambil risiko, hanya karena kita sudah terbiasa new normal," ucapnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI