Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Mayjen Maruli Simanjuntak, Pangkostrad Termuda dan "Bapak Air"

Sabtu, 22 Januari 2022 | 18:42 WIB
Oleh : Lenny Tristia Tambun / FFS
Ketua Yayasan Kita Jaga Alam dan juga wartawan senior Egy Massadiah bersama Pangkostrad Mayjen TNI Maruli Simanjuntak

Jakarta, Beritasatu.comMayjen TNI Maruli Simanjuntak ditunjuk sebagai Pangkostrad oleh Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Jumat (21/1/2022). Namun ada pihak yang menilai, penunjukan tersebut dibayang-bayangi sosok Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang merupakan mertua dari Maruli Simanjuntak.

Apakah benar demikian? Sebuah catatan dari Ketua Yayasan Kita Jaga Alam dan juga wartawan senior Egy Massadiah menepis anggapan tersebut. Egy yang cukup dekat dengan sosok Pangkostrad ini, menceritakan bagaimana perjuangan dan dedikasi Maruli Simanjuntak dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan dekat dengan rakyat.

“Ini tentang Panglima Kostrad yang baru, Maruli. Lulusan Akmil 1992. Sebagian besar pengabdiannya ditunaikan di Korps Baret Merah. Saya mengenalnya sejak ia berpangkat letnan dua,” kata Egy Massadiah mengawali catatannya yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (22/1/2022).

Seusai mengemban amanat sebagai Komandan Paspampres (2018-2020), Maruli mendapat tugas teritori sebagai Pangdam Udayana, berkedudukan di Bali. Ketika dilantik menjadi Pangdam Udayana November 2020, sejumlah media memilih angle yang sama dalam pemberitaannya, yakni Pangdam termuda.

Setahun lebih Maruli mengomandani wilayah Bali, NTT, dan NTB. Itu artinya, ketika dipromosi ke jabatan baru sebagai Pangkostrad, bisa jadi Maruli merupakan Pangkostrad termuda sepanjang sejarah TNI. Jika bukan jabatannya, setidaknya jenderal bintang tiga (letnan jenderal) termuda di angkatannya.

Karier yang moncer, terkadang diikuti pameo “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup”. Salah satu “tiupan angin kencang” yang menerpa Maruli adalah statusnya sebagai anak-menantu Menko Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Panjaitan.

“(Sebagian) orang pun lantas mengaitkan kecemerlangan karier Maruli dengan statusnya sebagai menantu Luhut,” ujar Egy Massadiah.

Menurut Egy, tentu tidak adil dan fair, jika mengaitkan karier seseorang dengan takdir Tuhan jika disepakati jodoh merupakann takdir (ketentuan) Tuhan. Dikatakan, Maruli menjadi anak-menantu Luhut, adalah takdir yang tak bisa dielakkan oleh manusia.

Egy pun menceritakan bagaimana pertemuan Maruli Simanjuntak dengan anak perempuan Luhut Binsar Pandjaitan, yaitu Paulina Pandjaitan.

“Mungkin sedikit yang tahu, bahwa Paulina Panjaitan, yang kemudian menjadi Nyonya Maruli, mengenal Maruli Simanjuntak justru bukan sebagai seorang prajurit (TNI), melainkan sebagai atlet judo,” tutur Egy Massadiah.

“Benar. Kisah mereka terajut saat SEA Games ke-18 tahun 1995 di Jakarta. Paulina sebagai liaison officer, sedangkan Maruli sebagai atlet judo. Atlet yang berlatar belakang militer. Tahukah Anda, di mana posisi calon mertuanya saat itu? Tahun 1995, Kolonel (Inf) Luhut Binsar Panjaitan menjabat Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur,” lanjut Egy Massadiah.

Maruli dan Paulina lalu menikah tahun 1999. Saat itu, Luhut sudah pensiun dengan pangkat jenderal kehormatan dan menjabat Dubes RI di Singapura. Menurut Egy, hal itu cukup menjelaskan perjalanan Maruli justru banyak ditapaki ketika ayah mertuanya tidak berada di lingkaran kekuasaan, baik di militer maupun di pemerintahan. Menurut catatan Egy, dua pertiga jabatan yang pernah diemban adalah jabatan-jabatan komandan. Jabatan-jabatan pemegang tongkat komando. Dari sisi ini saja, kata Egy, dapat dipahami Maruli merupakan prajurit yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas.

Beberapa jabatan puncak kesatuan yang pernah Maruli sandang, dimulai dari Komandan Detasemen Tempur Cakra (2002), lalu Komandan Batalyon 21 Grup 2/Sandi Yudha (2008-2009). Selanjutnya, Komandan Sekolah Komando Pusdikpassus (2009—2010), Komandan Grup 2/Sandi Yudha (2013—2014), Komandan Grup A Paspampres (2014—2016), Komandan Korem 074/Warastratama (2016—2017), Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) (2018—2020), dan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana (2020—2021).

Cerita Doni Monardo

Kemudian, Egy mengisahkan cerita mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengenai penilaiannya terhadap Maruli Simanjuntak.

Setahun menjabat Kasdam, Maruli kembali ke Jakarta menempati pos baru sebagai Komandan Paspampres, dengan bintang dua di pundak. Egy saat itu hadir dalam acara syukuran serah terima jabatan di Markas Paspampres Tanah Abang.

“Komunikasi kami kembali intens, hingga ia kembali mendapat penugasan teritori sebagai Pangdam IX/Udayana. Pada penugasan ini, beberapa kali kami bersua muka. Salah satunya saat terjadi banjir bandang di sebagian besar wilayah kepulauan NTT. Maruli sebagai Pangdam, sedangkan saya mendampingi Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo,” tutur Egy Massadiah.

Menyebut nama Doni Monardo, mengingatkan Egy tentang sepenggal kisah yang pernah diceritakan saat menjabat Dan Paspampres. Doni melukiskan betapa ketat seleksi masuk di satuan Paspampres. Termasuk seleksi menjadi Komandan Grup A Paspampres.

Saat itu, Doni dalam kapasitas Dan Paspampres harus melakukan seleksi pamen (perwira menengah) untuk menempati posisi Komandan Grup A. Sejumlah kolonel ikut serta. Satu di antaranya Maruli.

Doni Monardo sendiri yang memimpin proses seleksi untuk jabatan Dan Grup A. Materi ujian bagi calon Dan Grup A, tidak saja fisik atau kesamaptaan, tapi juga keterampilan bela diri, skor menembak, penguasaan alutsista, bahasa, sampai tes psikologi.

Dari sekian calon, nama Kolonel Maruli Simanjuntak selalu menempati urutan pertama. Lalu dipilihlah dia menjadi Komandan Grup A Paspampres.

“Jadi, Maruli terpilih bukan karena beliau menantu pak Luhut, tapi karena di semua ujian seleksi, skornya paling tinggi,” ungkap Doni Monardo kepada saya.

“Sampai di sini, saya merasa dunia ini kecil sekali. Bayangkan, berteman dengan Maruli di satu sisi. Lalu bersahabat dengan Doni Monardo di sisi waktu yang berbeda. Nah, Doni dan Maruli melewati fase interaksi komandan dan anak buah pada satu kesatuan. Kemudian berinteraksi lagi dalam posisi yang berbeda,” papar Egy Massadiah.

Untuk itu, Egy tak heran ketika suatu hari, Doni memanggilnya dan meminta menghubungi Maruli.

“Pak Egy, tolong mintakan peluru ke Pak Maruli, Dan Paspampres.”

Itu momentum saat Doni Monardo hendak mengajak para pejabat BNPB latihan menembak di Mako Kopassus, Cijantung, atas undangan Danjen Kopassus (saat itu), Mayjen TNI Mohamad Hasan.

"Segera saya menghubungi Ucok, begitu biasa saya menyapa Maruli," ungkap Egy.

Gayung bersambut. Bukan hanya peluru, tapi lapangan tembak Paspampres pun sudah disiapkan. Saat itu, Egy menyampaikan, yang diperlukan hanya peluru, sedangkan latihan menembak dilakukan di lapangan tembak Kopassus. Maruli paham, meski ia juga sangat ingin Doni dan staf BNPB menembak di lapangan Paspampres Tanah Abang.

“Lapangan tembak Paspampres ini kan punya Pak Doni, saya hanya merawatnya,” seloroh Maruli. Sejatinya, lapangan tembak Paspampres sudah lama ada, jauh sebelum Doni Monardo menjabat.

Bapak Air

Saat menjadi Pangdam IX/Udayana, Egy mengungkapkan kiprah Maruli tidak saja sigap dalam membantu program tanggap darurat hingga pasca bencana alam di NTT. Jauh sebelum musibah di NTT, nama Maruli sudah sangat dikenal hingga pelosok-pelosok Bali, NTB, dan NTT.

Egy mengungkapkan, Maruli dikenal sebagai “bapak air”. Hal ini mengingat perannya dalam membangun sumur di teritori yang menjadi binaannya. Bukan hanya satu-dua sumur dibuatnya. Tak kurang 150 titik sumur sudah dibangun Maruli di teritori yang terkenal sulit mendapatkan air bersih. Setidaknya ada 200 ribu penduduk yang sudah merasakan program "Bapak Air".

"Itu data yang saya catat per tahun 2021. Bisa jadi, jumlahnya lebih besar saat ia mengakhiri tugas," ungkap Egy.

"Bahkan muncul kelakar di tengah masyarakat, khususnya di wilayah NTT, bahwa sapi dan kuda saling melirik jika melihat Maruli lewat. Sapi dan kuda pun tahu, jika Maruli datang, itu artinya air sudah dekat,” kata Egy menambahkan.

Bersamaan dengan pembuatan sumur, Maruli juga menyentuh sektor ekonomi, khususnya peternakan dan pertanian. Adrenalin kepedulian alam, lingkungan Maruli mengikuti seniornya Doni Monardo, sama-sama cinta pohon.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI