Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

MAKI Laporkan Dugaan Pungli Oknum Bea Cukai Bandara Soetta

Sabtu, 22 Januari 2022 | 23:05 WIB
Oleh : Fana F Suparman / FFS
Ilustrasi pungli.

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) melaporkan dugaan pungli oleh oknum pegawai Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten. Laporan itu disampaikan Koordinator MAKI, Boyamin Saiman melalui sarana hotline pada 8 Januari 2022.

"Laporan aduan dugaan pemerasan atau pungli ini telah mendapat tanggapan untuk ditindaklanjuti oleh Kejati Banten sebagaimana screenshot akun WA Pidsus Kejati Banten," kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman dalam keterangannya, Sabtu (22/1/2022).

Boyamin menuturkan, dugaan pungli yang dilaporkannya terjadi pada April 2020 hingga April 2021 atau selama sekitar setahun. Pungli ini, kata Boyamin dilakukan dengan modus menekan perusahaan jasa kurir berupa ancaman tertulis berupa surat peringatan tanpa alasan yang jelas maupun verbal berupa ancaman penutupan usaha perusahaan tersebut.

"Semua dilakukan oknum tersebut dengan harapan permintaan oknum pegawai dipenuhi oleh perusahaan," ungkap Boyamin.

Diungkapkan oknum pegawai Bea Cukai tersebut diduga meminta uang setoran sebesar Rp 5.000 per kilogram barang kiriman dari luar negeri. Namun, perusahaan jasa kurir hanya mampu memberikan sebesar Rp 1.000 per kilogram.

"Dan oleh sebab itu usahanya terus mengalami gangguan selama satu tahun, baik verbal maupun tertulis. Meskipun perusahaan telah melakukan pembayaran dugaan pemerasan/pungli, menurut oknum tersebut jumlah yang dibayarkan di bawah harapan sehingga akan ditutup usahanya meskipun berulang kali perusahaan telah menjelaskan kondisi keuangan sedang sulit karena terpengaruh kondisi Covid-19," tutur Boyamin.

Pihak yang menjadi terlapor dalam laporan pungli ini adalah pejabat Bea Cukai setingkat eselon III dengan jabatan sejenis kepala bidang berinisial AB serta seorang inisial VI yang merupakan pejabat setingkat eselon IV dengan jabatan sejenis kepala seksi di kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Tangerang.

Lantaran nilai yang dibayarkan tidak sesuai harapan, pihak terlapor menelepon dan meminta bertemu pihak perusahaan kurir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Untuk menghilangkan jejak, terlapor pada saat pertemuan meminta agar nomor HP orang keuangan dan stafnya yang terlibat dalam penyerahan uang selama setahun diserahkan dan nomornya diganti.

"Ini karena terlapor takut disadap," kata Boyamin.

Diduga melalui hubungan telepon, terlapor telah meminta pembayaran segera dilaksanakan. Uang dengan nominal sekitar Rp 1,7 miliar pun diserahkan ke pihak terlapor.

Boyamin menduga, terdapat sejumlah perusahaan lain yang menjadi korban pemerasan atau pungli ini. Namun, untuk pelaporan awal tesebut, Boyamin mengaku baru satu perusahaan yang memiliki bukti awal yang cukup.

"Korban-korban lain memilih diam dikarenakan mempertahankan kelangsungan usahanya," katanya.

Boyamin memastikan MAKI akan mengawal laporan tersebut. Boyamin mengaku tak segan mengajukan praperadilan jika penanganan laporan tersebut mangkrak.

"Sesuai amanat Presiden Jokowi untuk memberantas dugaan pemerasan dan pungutan liar di pelabuhan-pelabuhan dan hasil pertemuan MAKI dengan Menkopolhukam Mahfud MD pada 6 Januari 2022 terkait adanya dugaan pemerasan/pungli di Bandara Soekarno-Hatta untuk diteruskan kepada aparat penegak hukum setempat," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI