Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Selain Stunting, Indonesia Masih Hadapi Beban Ganda Masalah Gizi

Rabu, 26 Januari 2022 | 21:12 WIB
Oleh : Wilsa Azmalia Putri / WM
Ilustrasi Anak Stunting

Jakarta, Beritasatu.com – Saat ini selain permasalahan stunting, Indonesia juga masih memikul beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan gizi mikro, makro dan gizi lebih. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, Agus Suprapto menjelaskan, secara nasional, berdasarkan data SSGI tahun 2021 prevalensi balita stunting masih sebesar 24,4%, underweight sebesar 17% dan wasting sebesar 7,1%.

Agus menerangkan, tantangan untuk meningkatkan status gizi semakin besar mengingat pandemi Covid-19 berpotensi untuk menyebabkan terganggunya kondisi kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat serta mempengaruhi pola makan atau asupan makan.

"Kita masih harus bekerja keras dan perlu langkah luar biasa untuk menurunkan stunting hingga 14% di tahun 2024 sebagaimana yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Dalam upaya pencapaian target tersebut diperlukan dukungan dari semua pemangku kepentingan (lintas kementerian/lembaga, mitra pembangunan, profesi, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lainnya)," kata Agus dalam keterangan yang diterima Beritasatu.com, Rabu (26/1/2022)

Agus juga menyampaikan, percepatan penurunan stunting harus dilaksanakan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antara K/L, pemda provinsi/kab/kota, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lain termasuk TNI-Polri.

"Intervensi spesifik dan sensitif harus dapat terimplementasi nyata di lapangan tentunya disertai strategi peningkatan kapasitas SDM dan edukasi baik di tingkat rumah tangga, posyandu, puskesmas dan lokasi lain untuk mendukung upaya perbaikan gizi untuk mencegah stunting (amanah Perpres 72/2021)," ujarnya.

Selain itu, Agus mengatakan, momentum hari gizi bisa dipakai untuk berbagi dan bergerak bersama memberi perhatian pada remaja, ibu hamil, pasangan usia subur dan calon pengantin. Berdasarkan data, pasangan usia subur yang bukan peserta KB masih ada sebesar 16.347.800, jumlah ibu hamil sebesar 4.887.405, dan ibu dan balita stunting sebesar 5,33 juta balita.

"Perlu juga pendampingan khusus untuk daerah dengan jumlah kelompok risiko tinggi di 7 provinsi prioritas prevalensi stunting tinggi (NTT, Sulawesi Barat, Aceh, NTB, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat) dan 5 provinsi jumlah absolut besar (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan Sumatera Utara) tanpa mengabaikan provinsi lainnya," imbuh Agus.

Dalam memperingati Hari Gizi Nasional ke 62, Agus mengajak seluruh masyarakat ikut bahu membahu perang melawan stunting. Menurutnya, untuk mewujudkan SDM unggul untuk menuju Indonesia Maju, maka stunting harus dientaskan dari bumi Indonesia.

"Kemenko PMK mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerja sama dalam memerangi stunting karena masa depan suatu bangsa dan negara terletak kepada kemampuan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang maju dan berkualitas. Mari wujudkan SDM unggul dalam menyongsong industri 5.0," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI