Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

BMKG Sebut Suhu Udara hingga 36 Derajat Celsius Masih Wajar

Selasa, 17 Mei 2022 | 14:34 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / JEM
Suasana monumen Arek Lancor saat matahari berada di posisi paling atas, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu, 12 Oktober 2019.

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan meningkatnya suhu udara di beberapa wilayah Indonesia hingga 36 derajat celcius pada bulan Mei 2022 ini sebenarnya adalah hal wajar. Disebutkan, dalam analisis klimatologi, sebagian besar lokasi-lokasi pengamatan suhu udara di Indonesia menunjukkan dua puncak suhu maksimum, yaitu pada bulan April, Mei, dan September.

"Hal itu memang terdapat pengaruh dari posisi gerak semu matahari dan dominasi cuaca cerah awal atau puncak musim kemarau," kata Plt Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko saat dihubungi Beritasatu.com, Selasa (19/5/2022).

Disebutkan, suhu maksimum sekitar 36 derajat celcius pun bukan merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. Sebab rekor suhu tertinggi yang pernah terjadi adalah 40 derajat celsius di Larantuka (NTT) pada 5 September 2012 lalu. Namun, anomali suhu yang lebih panas dibandingkan beberapa wilayah lainnya di Indonesia mengindikasikan faktor lain yang mengamplifikasi periode puncak suhu udara tersebut.

"Kondisi udara yang terasa panas dan tidak nyaman dapat disebabkan oleh suhu udara yang tinggi. Suhu udara tinggi terjadi pada udara yang kelembapannya tinggi maka akan terkesan 'sumuk', sedangkan bila udaranya kering (kelembaban rendah) maka akan terasa 'terik' dan membakar," ujar Haryoko.

Analisis iklim dasarian pada periode 1-10 Mei 2022 menunjukkan lebih hangatnya suhu muka laut di wilayah Samudera Hindia barat Sumatra dan Laut Jawa. Hal ini akan menambah suplai udara lembab akibat penguapan yang lebih intensif dari permukaan lautan.

Sementara itu, analisis sirkulasi angin menunjukkan adanya pusaran kembar di bagian utara dan selatan belahan bumi sebelah barat Sumatra sebagai manifestasi dari aktifnya gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation) di area tersebut. Di sisi lain, di atas Pulau Kalimantan muncul vortex meskipun lebih lemah.

"Kondisi itu menyebabkan angin di atas sebagian wilayah Jawa dan Sumatera menjadi lemah dan cenderung stabil, sehingga udara yang lembab dan panas cenderung tertahan tidak bergerak ke mana-mana," jelasnya.

Haryoko menerangkan kejadian suhu udara panas kali ini memang dipengaruhi oleh faktor klimatologis yang diamplifikasi dinamika atmosfer skala regional dan skala meso. Inilah yang menyebabkan udara terkesan menjadi "lebih sumuk" dan kemudian menimbulkan pertanyaan bahkan keresahan (selain kegerahan) publik.

"Namun, BMKG sekali lagi meyakinkan kondisi ini bukanlah termasuk kondisi ekstrem yang membahayakan seperti gelombang panas, meskipun masyarakat tetap diimbau untuk menghindari kondisi dehidrasi dan tetap menjaga kesehatan," imbau Haryoko.

BMKG juga memastikan cuaca atau suhu panas yang diprediksi akan berlangsung hingga akhir Mei di beberapa wilayah Indonesia, bukan gelombang panas seperti yang banyak beredar pada pesan berantai atau di media sosial (medsos).

Informasi di medsos itu sendiri sempat menimbulkan kepanikan masyarakat karena dikaitkan dengan kejadian gelombang panas yang tengah terjadi di India.

Berdasarkan catatan BMKG menyebutkan pada periode Mei ini setidaknya ada 2 hingga 8 stasiun cuaca BMKG melaporkan suhu udara maksimum di atas 35 derajat celsius. Stasiun cuaca Kalimaru (Kaltim) dan Ciputat (Banten) bahkan mencatat suhu maksimum sekitar 36 derajat celsius berurutan beberapa hari.

Urip Haryoko memastikan kejadian suhu panas di Indonesia tidaklah dikategorikan sebagai gelombang panas seperti di India. Hal ini karena tidak memenuhi definisi kejadian ekstrem meteorologis oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO) yaitu anomali lebih panas 5℃ dari rerata klimatologis suhu maksimum di suatu lokasi, dan setidaknya sudah berlangsung dalam lima hari.

"Gelombang panas umumnya juga terjadi dalam cakupan yang luas yang diakibatkan oleh sirkulasi cuaca tertentu sehingga menimbulkan penumpukan massa udara panas," kata Haryoko.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI