Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

KPNas: Ada 115 Lokasi TPS Liar di Kabupaten Bekasi

Selasa, 17 Mei 2022 | 16:55 WIB
Oleh : Mikael Niman / WM
Masyarakat mengeluhkan keberadaan TPS ilegal di Kampung Kobak Rante, Desa Karangreja, Kecamatan Pebayuran, yang menimbulkan bau tak sedap dan mencemari lingkungan sekitar, Selasa, 17 Mei 2022

Bekasi, Beritasatu.com - Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) mendata sekitar 115 titik tempat pembuangan sampah (TPS) liar yang berada di Kabupaten Bekasi. Munculnya, TPS liar ini karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi tidak memiliki terobosan dalam program penanganan sampah di wilayahnya.

“Kami mendata sekitar 115 titik TPS ilegal yang tersebar di Kabupaten Bekasi. Ini banyak sekali, TPS ilegal yang belum ditutup Pemerintah,” kata Ketua KPNas, Bagong Suyoto, Selasa (17/5/2022).

Seperti yang dikeluhkan masyarakat terkait keberadaan TPS ilegal di Kampung Kobak Rante, Desa Karangreja, Kecamatan Pebayuran. Bau sampah sangat menyengat hingga mengganggu warga sekitar TPS tersebut.

Bahkan, air lindi dari TPS liar di Kampung Kobak Rante tersebut telah mencemari lingkungan sehingga menyebabkan puluhan hektare lahan persawahan gagal panen.

Lalu, tumpukan sampah tampak menggunung di jalan alternatif menuju Kawasan Industri MM 2100, di Kampung Jarakosta RT 06/RW 04, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat. Keberadaan TPS ilegal ini memanjang dipenuhi sampah hingga 15-20 meter.

Menurutnya, baru dua titik TPS liar yang ditutup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, belum lama ini, yakni berlokasi di bantaran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) Tambun Selatan.

“Penyebab maraknya TPS ilegal karena Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak memiliki terobosan dan penanganan sampah di bagian hulu,” tuturnya.

Dia menjelaskan, Pemkab Bekasi harus membangun tempat pengelolaan sampah di tingkat desa/kelurahan sehingga sampah diolah terlebih dahulu sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) Burangkeng, Setu, milik Pemkab Bekasi.

“Pemerintah Kabupaten Bekasi harus membangun tempat pengolahan sampah reduce reuse recycle (TPS 3R) yang merupakan pengelolaan persampahan di tingkat kawasan desa atau kelurahan, dengan melibatkan peran aktif Pemerintah dan masyarakat serta melalui pemberdayaan masyarakat,” bebernya.

Di TPS 3R ini sampah dikumpul, dipilah dan diolah menjadi barang yang bernilai ekonomis.

“Sampah tak lagi dikelola dengan cara-cara tradisional yakni dikumpul, diangkut dan dibuang ke TPA Burangkeng tetapi dijadikan barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi,” imbuhnya.

Menurutnya, untuk pembangunan satu unit TPS 3R diperlukan anggaran sekitar Rp 2-5 miliar dengan penerapan teknologi yang cukup canggih.

“Dana tersebut bisa dihimpun dari program CSR perusahaan-perusahaan yang ada di kawasan industri. Pemerintah daerah yang melakukan pengawasan operasionalnya dengan memberdayakan komunitas pegiat lingkungan,” katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI